Tekstil RI Bebas Tarif ke AS, 4 Juta Pekerja Bisa Bernapas Lega
- Produk tekstil Indonesia mendapatkan tarif nol persen dari Amerika Serikat melalui skema Tariff Rate Quota (TRQ) dalam ART.
- Perjanjian ART ditandatangani Presiden Prabowo dan Presiden Trump, menjadi dasar penguatan ekonomi serta investasi kedua negara.
- Indonesia menargetkan peningkatan ekspor tekstil dari empat miliar menjadi empat puluh miliar dolar dalam sepuluh tahun.
Industri tekstil dalam negeri bisa bernafas lega. Pasalanya dalam Perjanjian Dagang Resiprokal alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) Amerika Serikat tidak memberikan tarif pada produk tekstil dan garmen Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan fasilitas tersebut diberikan melalui skema Tariff Rate Quota (TRQ) yang telah disepakati dalam dokumen perjanjian kedua negara.
"Khusus untuk produk tekstil dan apparel Indonesia, Amerika akan memberikan tarif nol persen dengan mekanisme TRQ. Ini memberikan manfaat bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor ini," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (20/2/2026).
Ia menilai pembukaan akses pasar Amerika Serikat berpotensi memberi dampak luas bagi industri tekstil dalam negeri, mengingat sektor tersebut memiliki keterkaitan dengan jutaan keluarga pekerja.
PerbesarPekerja memintal benang di sebuah industri kawasan Cipulir, Jakarta, Senin (30/6/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]"Kalau kita hitung dengan keluarganya, ini bisa berpengaruh terhadap sekitar 20 juta masyarakat Indonesia," ucapnya.
Selain memberikan fasilitas tarif nol, pemerintah juga menargetkan ekspor tekstil ke Amerika Serikat meningkat signifikan dalam jangka panjang. Airlangga menyebut pasar Amerika jauh lebih besar dibanding pasar domestik Indonesia.
"Pasar Amerika hampir 28 kali lebih besar dari pasar Indonesia. Dengan pembukaan akses ini, Indonesia merencanakan ekspansi industri tekstil dari ekspor sekitar 4 miliar dolar menjadi 40 miliar dolar dalam sepuluh tahun," ucapnya.
Ia menambahkan pembukaan pasar tersebut diharapkan mendorong investasi dan ekspansi produksi industri tekstil nasional agar mampu memenuhi permintaan ekspor yang lebih besar.
Kesepakatan perdagangan Indonesia–Amerika Serikat juga mencakup berbagai sektor lain, termasuk pertanian, energi, serta kerja sama investasi dan industri yang akan dibahas dalam mekanisme lanjutan kedua negara.
Sebelumnya, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menjadi payung kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara. Perjanjian tersebut ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington D.C.
Airlanga mengatakan, penandatanganan dilakukan setelah rangkaian pertemuan bilateral dan forum bisnis Indonesia–AS. Ia menyebut dokumen tersebut menjadi dasar penguatan hubungan ekonomi kedua negara.
"Hari ini tadi pagi Bapak Presiden langsung menandatangani kerja sama Agreement of Reciprocal Trade yang diberi judul 'Toward a New Golden Age for the US-Indonesia Alliance' dan ditandatangani secara bersama baik oleh Presiden Prabowo maupun Presiden Donald Trump," imbuh Airlangga.
Menurutnya, perjanjian ini tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga mencakup investasi serta kerja sama ekonomi yang lebih luas. Ia menilai ART menjadi kerangka baru dalam pengelolaan hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat.
Dalam dokumen perjanjian tersebut, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi melalui pembentukan forum bersama Council of Trade and Investment. Forum ini akan menjadi mekanisme penyelesaian jika terjadi lonjakan tarif, sengketa perdagangan, atau gangguan neraca ekonomi antara kedua negara.
Perjanjian juga mencakup pengurangan hambatan tarif dan non-tarif, kemudahan perizinan impor, kerja sama di sektor teknologi, kesehatan, dan industri, serta penguatan rantai pasok antara Indonesia dan Amerika Serikat.
"Perjanjian ini membentuk Council of Trade and Investment sehingga seluruh persoalan investasi dan perdagangan antara Indonesia dan Amerika nanti akan dibahas dulu di forum tersebut apabila ada hal yang dianggap mengganggu neraca kedua negara," pungkasnya.
Tag: #tekstil #bebas #tarif #juta #pekerja #bisa #bernapas #lega