MUFG: Venezuela Perlu Rp 3.000 Triliun untuk Hidupkan Industri Minyak
Patung tangan membawa menara minyak terpasang di markas perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, di Caracas, saat difoto pada 13 Januari 2026.(REUTERS/GABY ORAA)
14:04
18 Februari 2026

MUFG: Venezuela Perlu Rp 3.000 Triliun untuk Hidupkan Industri Minyak

- Venezuela kembali menjadi sorotan pasar global pada awal 2026.

Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia ini berada di persimpangan antara perubahan geopolitik, sanksi, restrukturisasi utang, serta dinamika pasar energi yang tengah mengalami surplus terbesar dalam sejarah modern.

Laporan MUFG Capital Markets Strategy edisi Januari 2026 berjudul Venezuela: Observations on Oil & Global Markets yang disusun oleh Managing Director Capital Markets Strategist Tom Joyce, Vice President Capital Markets Strategist Stephanie Kendal, dan Angela Sun Associate, Capital Markets Strategist dari Global Corporate & Investment Bank Capital Markets Strategy Team mengurai persoalan minyak Venezuela.

Baca juga: Penjualan Minyak Venezuela Tembus 1 Miliar Dollar AS, Dana Tak Lagi Disimpan di Qatar

Pegawai kilang minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengikuti latihan mitigasi bencana dan serangan bersenjata di El Palito, Puerto Cabello, Negara Bagian Carabobo, 27 September 2025.AFP Pegawai kilang minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengikuti latihan mitigasi bencana dan serangan bersenjata di El Palito, Puerto Cabello, Negara Bagian Carabobo, 27 September 2025.

Dalam laporan tersebut disebutkan, Venezuela memiliki lebih dari 300 miliar barrel cadangan minyak mentah, menjadikannya yang terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi (sekitar 267 miliar barrel) dan Iran (sekitar 209 miliar barrel).

Namun di saat yang sama, produksi minyak Venezuela kini kurang dari 1 juta barrel per hari (bph), atau sekitar peringkat ke-20 dunia.

Kontras antara besarnya cadangan dan kecilnya produksi menjadi salah satu paradoks utama Venezuela saat ini.

Venezuela dalam angka

Secara struktural, kondisi ekonomi Venezuela mencerminkan tekanan yang mendalam. Berdasarkan data dalam laporan tersebut, pada 2025:

  • Pertumbuhan ekonomi Venezuela tercatat minus 4 persen
  • Inflasi mencapai 175 persen
  • Tingkat pengangguran mencapai 5,5 persen
  • Rasio utang pemerintah terhadap PDB sekitar 200 persen
  • Tingkat kemiskinan 52 persen
  • Ekspor terhadap PDB 30 persen, dengan 90 sampai 95 persen berasal dari minyak
  • PDB per kapita sekitar 5.000 dollar AS atau setara sekitar Rp 94,44 juta (asumsi kurs Rp 18.887 per dollar AS)
  • Kontribusi terhadap PDB global kurang dari 0,1 persen

Warga Venezuela bersuka ria merayakan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS. Mereka meluapkan suka cita di Doral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026).AFP/GIORGIO VIERA Warga Venezuela bersuka ria merayakan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS. Mereka meluapkan suka cita di Doral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026).

Baca juga: Kripto USDT, Pelarian Warga Venezuela di Tengah Inflasi dan Konflik

Dengan populasi sekitar 30 juta jiwa dan median usia 29,4 tahun, Venezuela memiliki profil demografis relatif muda, namun beban ekonomi yang berat.

Produksi minyak yang terus merosot

Laporan tersebut menunjukkan produksi minyak Venezuela pernah mencapai hampir 3 juta bph pada awal dekade 2010-an.

Namun sejak Nicolas Maduro mengambil alih kekuasaan pada April 2013, produksi minyak Venezuela turun tajam hingga di bawah 1 juta bph pada 2026.

Sanksi Amerika Serikat (AS) pertama pada Agustus 2017 mempercepat penurunan. Pada 2020, produksi bahkan sempat menyentuh sekitar 400.000 bph, titik terendah dalam sejarah modern negara tersebut.

Baca juga: AS Simpan Dana Penjualan Minyak Venezuela di Bank Qatar, Ini Alasannya

Rata-rata produksi 20 tahun (1995–2015) tercatat 2,7 juta bph. Kini, kontribusi Venezuela terhadap produksi minyak global kurang dari 1 persen.

Selain produksi, jumlah rig pengeboran juga kolaps. Dari sekitar 79 rig pada 2012, jumlahnya kini hanya dua rig aktif, atau turun 97 persen dalam satu dekade.

Dalam lima tahun terakhir, jumlahnya konsisten hanya 1 sampai 2 rig.

Laporan MUFG menyebutkan sejumlah faktor penyebab, termasuk salah urus kronis, korupsi, minim investasi, ekspropriasi pada era Presiden Hugo Chavez, sanksi global, serta tantangan teknis minyak berat.

Baca juga: Rosan Akui Konflik AS-Venezuela Berpengaruh ke Investasi RI

Tantangan investasi dan restrukturisasi

Untuk mengembalikan kapasitas produksi secara signifikan, MUFG memperkirakan kebutuhan belanja modal sebesar 150 miliar sampai 200 miliar dollar AS untuk sektor hulu, tengah, dan kilang. Angka ini setara sekitar Rp 2.833,05 triliun hingga Rp 3.777,40 triliun.

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.

Minyak Venezuela didominasi oleh minyak sangat berat dan ekstra-berat dari Orinoco Belt, yang disebut sebagai proyek mahal, siklus panjang, dan membutuhkan infrastruktur yang intensif.

Selain itu, terdapat risiko politik, ketidakpastian hukum atas utang eksternal sekitar 150 miliar sampai 200 miliar dollar AS, lemahnya tata kelola, serta kondisi infrastruktur listrik dan air yang tidak stabil.

Total utang eksternal Venezuela diperkirakan sekitar 160 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.021 triliun, terdiri dari obligasi pemerintah dan obligasi PDVSA yang gagal bayar sejak 2017.

Baca juga: Indeks Saham Venezuela Melonjak 130 Persen, Tertinggi Sepanjang Masa

Surplus minyak global membatasi dampak

Perkembangan di Venezuela terjadi di tengah kondisi yang oleh laporan MUFG disebut sebagai pasar minyak dengan pasokan terbanyak dalam sejarah modern.

Pada kuartal III 2025:

  • Permintaan global: 105,1 juta bph
  • Pasokan global: 108,1 juta bph
  • Surplus: 2,9 juta bph

IEA memproyeksikan surplus 3,8 juta hingga 3,9 juta bph pada 2026.

Harga acuan minyak mentah Brent turun dari 128 dollar AS pada 2022 menjadi sekitar 63 dollar AS pada awal 2026, sementara harga acuan minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 59 dollar AS.

Baca juga: Respons Dingin Bos Perusahaan Minyak atas Pemintaan Trump untuk Investasi 100 Miliar Dollar di Venezuela

Dalam konteks ini, MUFG menyatakan kombinasi pasar energi yang kelebihan pasokan dan harga rendah memberikan batasan rendah pada biaya makroekonomi dari eskalasi geopolitik.

Reaksi pasar global

Konflik AS Venezuela. Bagaimana Dampak Konflik Amerika-Venezuela yang Kian Memanas bagi Indonesia?AFP/FEDERICO PARRA Konflik AS Venezuela. Bagaimana Dampak Konflik Amerika-Venezuela yang Kian Memanas bagi Indonesia?

Laporan MUFG mencatat reaksi pasar terhadap perkembangan Venezuela relatif terbatas, karena:

  • Venezuela menyumbang kurang dari 0,1 persen PDB global
  • Produksi minyak Venezuela kurang dari 1 juta bph
  • Surplus minyak global sekitar 3 juta bph
  • Peningkatan produksi membutuhkan waktu bertahun-tahun

Indeks saham global pada awal 2026 sebagian besar mencatat kinerja positif. Volatilitas pasar juga berada di bawah rata-rata pra-pandemi Covid-19.

Baca juga: Trump Larang ExxonMobil Investasi di Venezuela

Dalam proyeksi 2026, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan 3,9 persen, dengan Brent diproyeksikan sekitar 60 dollar AS pada akhir tahun.

Laporan tersebut menempatkan Venezuela sebagai negara dengan cadangan energi terbesar dunia, namun menghadapi hambatan struktural yang dalam di tengah dinamika pasar minyak global yang sedang kelebihan pasokan.

Sebagai informasi, ketegangan geopolitik antara AS dan Venezuela meningkat secara dramatis sejak awal Januari 2026, ketika militer AS melakukan operasi militer di Caracas, yang berujung pada penangkapan Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pasukan AS berhasil menangkap Maduro dalam operasi tersebut.

Baca juga: Bos Exxon Sebut Venezuela Tak Layak Investasi, Tantang Agenda Energi Trump

Trump menggambarkan penangkapan Maduro sebagai “penegakan hukum” terhadap dakwaan yang melibatkan narkotika dan terorisme.

Ia juga menyebut AS akan “mengelola” Venezuela untuk sementara waktu guna mengamankan transisi dan menghidupkan kembali produksi minyak negara itu.

Respons dari pemerintah dan masyarakat Venezuela sangat keras. Otoritas Venezuela mengecam tindakan militer AS itu sebagai aksi yang melanggar kedaulatan dan hukum internasional, mengancam perdamaian regional, dan disebut “aksi keji dan pengecut”.

Selain itu, sejumlah analis hukum internasional menilai operasi tersebut melanggar prinsip fundamental Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang larangan penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial suatu negara tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB. 

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello, presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez, Nicolas Maduro Guerra selaku anak presiden Nicolas Maduro yang terguling, dan Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez, saat mendatangi Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas pada 5 Januari 2026.ISTANA MIRAFLORES/MARCELO GARCIA via REUTERS Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez, Menteri Dalam Negeri Venezuela Diosdado Cabello, presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez, Nicolas Maduro Guerra selaku anak presiden Nicolas Maduro yang terguling, dan Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez, saat mendatangi Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas pada 5 Januari 2026.

Baca juga: OJK Pantau Konflik AS–Venezuela, Risiko Jangka Panjang Diwaspadai

Setelah penangkapan Maduro dan Flores pada awal Januari 2026, pemerintah Venezuela yang kini dipimpin oleh Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara mengumumkan pembebasan ratusan tahanan politik, meskipun ratusan lagi masih dipenjara dan beberapa pihak oposisi tetap berada dalam tahanan atau rumah tahanan setelah pembebasan awal mereka.

Protes publik dan demonstrasi juga meningkat di berbagai kota besar seperti Caracas, di mana aktivis dan warga menuntut transisi demokratis yang lebih jelas, pembebasan semua tahanan politik, dan pemulihan hak sipil. 

Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga memicu perdebatan hukum dan diplomatik global mengenai kedaulatan negara, intervensi militer asing, dan legitimasi tindakan yang diambil AS. 

Tag:  #mufg #venezuela #perlu #3000 #triliun #untuk #hidupkan #industri #minyak

KOMENTAR