Reli Emas Diprediksi Berlanjut pada 2026, Bank Global Naikkan Target Harga
Harga emas dunia memasuki periode yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Setelah mencetak rekor baru sepanjang 2025 dan awal 2026, sejumlah bank investasi global dan lembaga keuangan internasional kompak menaikkan proyeksi harga logam mulia tersebut.
Goldman Sachs, Morgan Stanley, UBS, ANZ, JPMorgan, hingga Deutsche Bank memprediksi harga emas dunia akan tetap tinggi atau bahkan menembus rekor baru hingga akhir 2026.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 17 Februari 2026 Turun: UBS Rp 2,95 Juta, Galeri 24 Rp 2,94 Juta
Ilustrasi emas. Pegadaian Ungkap Penyebab Nasabah Sulit Cetak Emas Fisik
Proyeksi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor struktural, termasuk pembelian bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan perubahan preferensi investor global terhadap aset lindung nilai.
Goldman Sachs: Emas bisa mencapai Rp 90,9 juta hingga Rp 91 juta per ons pada akhir 2026
Goldman Sachs menjadi salah satu institusi yang paling konsisten menaikkan proyeksi harga emas dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam laporan terbaru yang dikutip dari Business Insider, Goldman Sachs memperkirakan harga emas dapat mencapai 5.400 dollar AS per ons pada akhir 2026.
Dengan asumsi kurs Rp 16.841 per dollar AS, angka tersebut setara dengan sekitar Rp 90,94 juta per ons troi.
Baca juga: Harga Emas Hartadinata Abadi Hari Ini: Rp 2,875 Juta per Gram, Cek Daftarnya
Proyeksi ini meningkat signifikan dibandingkan estimasi sebelumnya. Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan harga emas sekitar 4.900 dollar AS per ons pada Desember 2026, atau sekitar Rp 82,52 juta per ons.
Goldman Sachs menegaskan emas tetap menjadi aset strategis jangka panjang.
“Emas tetap menjadi rekomendasi beli jangka panjang kami yang paling meyakinkan,” tulis Goldman Sachs dalam catatan risetnya.
Ilustrasi emas.
Bank investasi tersebut menyebut, salah satu faktor utama kenaikan harga emas adalah pembelian bank sentral dan diversifikasi aset global.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 17 Februari 2026: Turun Lagi ke Rp 2,91 Juta per Gram
Goldman Sachs juga menyatakan, jika investor swasta meningkatkan alokasi dari obligasi AS ke emas, maka harga dapat naik lebih tinggi lagi.
“Harga emas bisa mendekati 5.000 dollar AS per troy ounce (setara sekitar Rp 84,20 juta) jika 1 persen dari dana swasta yang diinvestasikan dalam obligasi pemerintah AS dialokasikan kembali,”
tulis Goldman Sachs.
Selain itu, Goldman Sachs menilai pembelian bank sentral dan penurunan suku bunga menjadi faktor utama.
Bank tersebut menyebut, pembelian bank sentral, suku bunga lebih rendah, dan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal pemerintah Barat menjadi pendorong kenaikan harga emas.
Baca juga: Investasi Emas Digital Populer, Hindari Kesalahan Ini agar Tak Rugi
UBS: Proyeksi paling bullish, emas bisa mencapai Rp 104 juta hingga Rp 121 juta per ons
UBS menjadi salah satu bank investasi dengan proyeksi paling agresif terhadap emas.
UBS menaikkan target harga emas menjadi 6.200 dollar AS per ons atau setara sekitar Rp 104,41 juta untuk periode Maret hingga September 2026, sebelum turun menjadi 5.900 dollar AS per ons atau setara sekitar Rp 99,36 juta pada akhir tahun.
UBS juga memberikan skenario optimistis di mana harga emas dapat mencapai 7.200 dollar AS per ons, atau sekitar Rp 121,25 juta per ons.
Namun UBS juga mencatat adanya risiko penurunan.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 17 Februari 2026: Masih di Rp 2,94 Juta per Gram, Cek Daftarnya
UBS melihat skenario bearish di mana harga bisa turun hingga 4.600 dollar AS per ons, atau sekitar Rp 77,47 juta per ons, tergantung pada kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) dan kondisi geopolitik.
Ilustrasi emas, harga emas. Harga emas dunia. Harga emas dunia menguat setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS Federal Reserve (The Fed).
UBS menyebut peningkatan permintaan investasi sebagai alasan utama revisi proyeksi.
UBS mengatakan kenaikan target tersebut didorong oleh permintaan yang lebih kuat dari perkiraan yang disebabkan oleh peningkatan investasi.
Morgan Stanley: Emas diperkirakan mencapai Rp 75,7 juta per ons pada pertengahan 2026
Morgan Stanley juga memperkirakan harga emas akan terus naik hingga 2026, meskipun proyeksinya lebih konservatif dibandingkan UBS.
Baca juga: Investasi Emas Digital: Ini yang Harus Dipahami Investor Pemula
Bank tersebut memperkirakan harga emas dapat mencapai 4.500 dollar AS per ons pada pertengahan 2026. Angka ini setara sekitar Rp 75,78 juta.
Morgan Stanley mengatakan kenaikan tersebut didukung oleh permintaan kuat dari investor dan bank sentral.
Morgan Stanley menyatakan, pembelian emas oleh exchange-traded fund (ETF) dan bank sentral tetap menjadi faktor utama.
“Pergerakan harga baru-baru ini membawa emas jauh ke wilayah overbought, tetapi koreksi baru-baru ini telah membawanya ke level yang lebih sehat,” tulis Morgan Stanley, dikutip dari Reuters.
Baca juga: Harga Emas Naik Turun, Waspadai Risiko FOMO bagi Investor
Morgan Stanley juga menyebut ketidakpastian ekonomi global sebagai faktor penting.
“Kenaikan harga emas dipicu oleh ketidakpastian geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, pembelian oleh bank sentral, dan arus masuk ETF berbasis emas yang kuat," kata Morgan Stanley.
JPMorgan: Harga emas berpotensi mencapai Rp 106 juta per ons pada akhir 2026
JPMorgan juga termasuk institusi dengan pandangan bullish terhadap emas. Bank tersebut memperkirakan harga emas akan mencapai 6.300 dollar AS per ons pada akhir 2026 atau setara sekitar Rp 106,10 juta.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
JPMorgan menyebut pembelian bank sentral sebagai faktor utama.
Baca juga: Harga Emas Dunia Melemah 0,8 Persen di Tengah Aksi Ambil Untung
“Kami tetap yakin dan optimis terhadap emas dalam jangka menengah,” tulis JPMorgan.
JPMorgan juga memperkirakan bank sentral akan membeli sekitar 800 ton emas pada 2026. Pembelian ini mencerminkan tren diversifikasi cadangan devisa global.
JPMorgan menyebut tren tersebut sebagai tren diversifikasi yang masih berlanjut.
Deutsche Bank dan Societe Generale: Proyeksi sekitar Rp 101 juta per ons
Selain UBS dan JPMorgan, sejumlah bank Eropa juga memperkirakan harga emas akan mencapai level tinggi.
Baca juga: Prospek Saham ANTM di Tengah Lonjakan Permintaan Emas
Deutsche Bank memperkirakan harga emas dapat mencapai 6.000 dollar AS per ons pada 2026 atau setara sekitar Rp 101,05 juta.
Societe Generale juga memperkirakan harga emas akan mencapai sekitar 6.000 dollar AS per ons, dan menyebut estimasi tersebut bahkan mungkin konservatif. Bank tersebut menyebut permintaan emas sebagai aset lindung nilai terus meningkat.
Survei Financial Times: Proyeksi rata-rata Rp 77,6 juta per ons pada 2026
Survei Financial Times yang dilakukan terhadap 11 analis menunjukkan pandangan yang lebih moderat dibandingkan UBS dan JPMorgan.
Survei tersebut memperkirakan harga emas dunia rata-rata mencapai 4.610 dollar AS per ons pada akhir 2026 atau setara sekitar Rp 77,62 juta.
Baca juga: Harga Emas Diproyeksikan Fluktuatif Pekan Ini, Sentimen Global Jadi Penentu
Survei tersebut juga menunjukkan perbedaan besar antar analis.
Ilustrasi emas batangan.
Proyeksi paling bullish mencapai 5.400 dollar AS per ons, sedangkan prediksi terendah sekitar 3.500 dollar AS per ons.
Financial Times menyebut permintaan bank sentral sebagai faktor utama. Pembelian emas oleh bank sentral, khususnya di negara-negara berkembang, menjadi salah satu faktor utama kenaikan harga emas.
Permintaan bank sentral jadi faktor struktural utama
Bank investasi global sepakat pembelian bank sentral menjadi pendorong utama harga emas.
Baca juga: Harga Emas Naik, Analis Proyeksikan Kinerja ANTM Makin Kuat Awal 2026
Goldman Sachs memperkirakan permintaan bank sentral akan menambah sekitar 9 persen terhadap harga emas. Bank tersebut juga menaikkan asumsi pembelian bank sentral menjadi sekitar 50 ton per bulan.
Selain itu, World Gold Council mencatat permintaan emas global mencapai rekor 4.974,5 ton pada 2024. Permintaan ini menunjukkan peran emas sebagai aset cadangan strategis global.
Faktor lain: suku bunga, geopolitik, dan diversifikasi cadangan devisa
Selain pembelian bank sentral, sejumlah faktor makroekonomi disebut sebagai pendorong harga emas.
Goldman Sachs menyebut suku bunga rendah dan kekhawatiran fiskal menjadi faktor utama.
Baca juga: Spekulasi Investor China Bikin Harga Emas Naik-Turun Ekstrem
Dikutip dari Business Insider, bank tersebut menyebut faktor seperti pembelian oleh bank sentral, suku bunga AS yang lebih rendah, dan kekhawatiran soal kesehatan fiskal pemerintah negara-negara Barat sebagai pendorong utama kenaikan harga emas.
UBS juga menyebut kebijakan The Fed sebagai faktor risiko. UBS mengatakan, kebijakan suku bunga The Fed yang hawkish dapat meningkatkan risiko penurunan harga emas.
Pun, Morgan Stanley menyebut suku bunga dan ketidakpastian ekonomi sebagai faktor penting. Bank tersebut menyatakan ekspektasi penurunan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama reli harga emas.
Ilustrasi emas batangan
Tren global: emas menjadi alternatif terhadap aset berbasis dollar AS
Selain faktor suku bunga dan geopolitik, tren diversifikasi global juga menjadi pendorong harga emas.
Baca juga: Emas Diperebutkan, Saham ANTM Punya Ruang Tembus Rp 5.725
JPMorgan menyebut investor dan bank sentral semakin memilih emas dibandingkan aset berbasis dollar AS.
JPMorgan mengatakan tren diversifikasi cadangan devisa masih berlanjut dan belum mencapai puncaknya.
Goldman Sachs juga menyebut, pergeseran dari obligasi AS ke emas dapat meningkatkan harga secara signifikan.
Selain itu, survei Financial Times menunjukkan permintaan investor terhadap aset safe haven tetap tinggi di tengah ketidakpastian global.
Baca juga: Pergerakan Harga Emas dan Perak Melambat, Tren Bullish Dinilai Belum Berakhir
Rekor harga emas dan momentum kenaikan
Harga emas telah mencatat rekor baru dalam beberapa waktu terakhir. Harga emas spot mencapai rekor tertinggi sekitar 5.594,82 dollar AS per ons pada awal 2026.
Kenaikan tersebut mencerminkan peningkatan permintaan global terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Reli harga emas dipicu oleh kombinasi pembelian bank sentral, permintaan investor, dan ketidakpastian global.
Tag: #reli #emas #diprediksi #berlanjut #pada #2026 #bank #global #naikkan #target #harga