57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
- Perubahan mendasar sedang terjadi dalam cara generasi muda memandang karier.
Jika selama beberapa dekade kesuksesan profesional identik dengan naik jabatan hingga mencapai posisi manajerial atau eksekutif, kini semakin banyak pekerja muda yang menempuh jalur berbeda.
Alih-alih mengejar jabatan tinggi di perusahaan, Gen Z justru membangun berbagai sumber penghasilan secara paralel melalui side hustle atau pekerjaan sampingan.
Baca juga: Ekonomi Bandara Berubah: Gen Z dan Milenial Jadi Konsumen Utama Duty Free
Ilustrasi pekerja lepas.
Data terbaru menunjukkan pergeseran ini bukan sekadar tren sementara, melainkan perubahan struktural dalam strategi ekonomi dan karier generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z).
Fenomena ini berkaitan dengan faktor ekonomi, teknologi, hingga perubahan nilai dan persepsi terhadap stabilitas kerja.
"Kita telah mengganti jenjang karier yang kaku dengan pijakan karier, jalur di mana kita dapat melompat ke peluang apa pun yang paling sesuai saat ini," kata Morgan Sanner, pakar karier Gen Z di Glassdoor.
Bagi generasi ini, kesuksesan berarti menciptakan keseimbangan, keamanan, dan kendali atas pendakian karier yang lebih tinggi di dalam satu organisasi.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Mayoritas Gen Z punya side hustle
Dikutip dari Forbes, Selasa (17/2/2026), survei terbaru yang dilakukan Harris Poll menunjukkan side hustle telah menjadi bagian penting dari strategi karier Gen Z.
Sebanyak 57 persen pekerja Gen Z memiliki pekerjaan sampingan, lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial (48 persen), Gen X (31 persen), dan baby boomer (21 persen).
Angka ini menegaskan, bagi generasi muda, side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi telah menjadi komponen inti dari perencanaan karier mereka.
Ilustrasi Gen Z.
Menurut laporan tersebut, bagi banyak pekerja Gen Z, side hustle tidak hanya berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan, tetapi juga sebagai sarana untuk memperoleh otonomi, kreativitas, dan ekspresi diri yang sering kali tidak tersedia dalam pekerjaan formal.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda mendefinisikan ambisi.
Jika generasi sebelumnya memandang kesuksesan sebagai proses linear, dimulai dari posisi entry-level hingga akhirnya mencapai jabatan tinggi, Gen Z justru melihat kesuksesan sebagai proses membangun portofolio karier yang beragam.
Dalam banyak kasus, pekerjaan utama hanya berfungsi sebagai fondasi finansial untuk mendukung aktivitas sampingan yang lebih fleksibel dan sesuai minat mereka.
“9-to-5 funds the 5-to-9”: cara baru memahami karier
Perubahan cara pandang ini tercermin dalam ungkapan populer di kalangan Gen Z, yakni the 9-to-5 funds the 5-to-9, yang berarti pekerjaan utama digunakan untuk mendukung usaha atau proyek pribadi di luar jam kerja.
Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
Konsep ini menandai pergeseran signifikan dari paradigma lama yang mengandalkan loyalitas terhadap satu perusahaan sebagai jalan utama menuju stabilitas ekonomi.
Sebaliknya, Gen Z cenderung membangun berbagai sumber penghasilan secara bersamaan sebagai bentuk diversifikasi risiko dan peluang.
Sejumlah ekonom menyebut fenomena ini sebagai portfolio career, yakni pendekatan karier di mana seseorang menggabungkan pekerjaan tetap dengan aktivitas lain seperti freelance, konsultasi, bisnis kecil, atau produk digital.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas sekaligus keamanan finansial yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu pemberi kerja.
Baca juga: Bukan Soal Gaji Besar: Strategi Kaya ala Robert Kiyosaki untuk Gen Z
Ilustrasi bekerja.
Ketidakpastian ekonomi dan teknologi mendorong diversifikasi pendapatan
Salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya side hustle adalah ketidakpastian ekonomi dan perubahan teknologi, terutama perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurut Glassdoor, sekitar 70 persen pekerja Gen Z mengatakan AI membuat mereka mempertanyakan keamanan pekerjaan jangka panjang mereka.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Otomatisasi berbasis AI telah mulai menggantikan atau mengubah berbagai jenis pekerjaan, mulai dari layanan pelanggan hingga analisis data dan produksi konten.
Ketidakpastian ini mendorong pekerja muda untuk mengembangkan sumber penghasilan alternatif sebagai strategi mitigasi risiko.
Baca juga: Gen Z Sulit Gapai Financial Freedom, Penyebabnya Ternyata Gaji
Dengan memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada satu pekerjaan yang dapat hilang akibat perubahan teknologi atau kondisi ekonomi.
Side hustle, dalam konteks ini, menjadi bagian dari strategi keamanan ekonomi pribadi.
Side hustle sebagai strategi keamanan finansial
Diversifikasi pendapatan semakin dipandang sebagai kebutuhan, bukan pilihan.
Sebagai gambaran, survei LendingTree menemukan, hampir 40 persen pekerja di Amerika Serikat memiliki side hustle, dan 61 persen di antaranya mengatakan kehidupan mereka akan sulit secara finansial tanpa pendapatan tambahan tersebut.
Baca juga: Gen Z dan Milenial Enggan Jadi Bos: Ancaman Krisis Kepemimpinan?
Survei yang sama menunjukkan, pekerja dengan side hustle memperoleh rata-rata tambahan pendapatan sebesar 1.215 dollar AS per bulan atau setara sekitar Rp 20,46 juta (asumsi kurs Rp 16.845 per dollar AS).
Selain itu, sekitar 31 persen pekerja bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan pekerjaan utama mereka demi fokus pada pekerjaan sampingan, sementara 10 persen telah melakukannya.
Ilustrasi bekerja di kantor.
Data ini menunjukkan side hustle bukan sekadar aktivitas tambahan, tetapi dalam beberapa kasus telah menjadi alternatif utama terhadap pekerjaan formal.
Teknologi digital mempermudah pekerjaan sampingan
Perkembangan teknologi digital menjadi faktor penting yang mempercepat pertumbuhan side hustle.
Baca juga: Gen Z Cenderung Paling Kurang Bahagia di Tempat Kerja
Platform freelance, marketplace digital, media sosial, dan alat berbasis AI memungkinkan individu untuk menghasilkan pendapatan tanpa harus bergantung pada struktur perusahaan tradisional.
Menurut laporan Forbes, teknologi digital telah membuat pembangunan sumber pendapatan alternatif menjadi lebih mudah, memungkinkan pekerja untuk menghasilkan uang dari keterampilan, pengetahuan, dan minat.
Teknologi juga memungkinkan monetisasi berbagai aktivitas yang sebelumnya sulit dijadikan sumber pendapatan, seperti:
- Penjualan produk digital
- Konsultasi online
- Pembuatan konten
- Freelance berbasis proyek
- Bisnis e-commerce kecil
Baca juga: Gen Z Ubah Cara Industri Properti Memandang Layanan Parkir
Akses ke pasar global melalui internet memungkinkan individu memperoleh klien dan pelanggan di luar wilayah geografis mereka.
Otonomi dan fleksibilitas sebagai faktor utama
Selain faktor ekonomi, motivasi utama di balik meningkatnya side hustle adalah keinginan akan otonomi dan fleksibilitas.
Side hustle memungkinkan pekerja untuk membuat keputusan secara mandiri tanpa bergantung pada struktur organisasi perusahaan.
Ilustrasi Gen Z, Gen Z mengakses pinjaman online/pinjol.
Selain itu, side hustle memberikan kesempatan bagi individu untuk mengejar minat pribadi yang mungkin tidak tersedia dalam pekerjaan utama mereka.
Baca juga: Talkshow Energy Connect 5.0 Soroti Kesiapan Gen Z Masuk Sektor Energi
Pendapatan dari side hustle juga dapat diperoleh secara langsung, tanpa harus menunggu kenaikan gaji tahunan atau promosi jabatan. Hal ini memberikan kontrol yang lebih besar terhadap perkembangan finansial pribadi.
Perubahan persepsi terhadap jabatan dan kepemimpinan
Perubahan pola karier Gen Z juga memengaruhi cara mereka memandang jabatan manajerial.
Menurut survei Glassdoor yang dikutip Forbes, banyak pekerja Gen Z tidak tertarik pada posisi manajerial kecuali jika didorong oleh faktor seperti gaji atau status.
Hal ini mencerminkan pergeseran nilai, di mana jabatan tinggi tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya indikator kesuksesan profesional.
Baca juga: Gen Z dan Uang: Strategi Menabung, Investasi, dan Kelola Pengeluaran
Sebaliknya, banyak pekerja muda lebih menghargai fleksibilitas, keseimbangan kehidupan kerja, dan kemandirian.
Bahkan ketika Gen Z memasuki posisi kepemimpinan, mereka cenderung membawa pendekatan yang berbeda, dengan menekankan kolaborasi dan fleksibilitas dibandingkan struktur hierarkis tradisional.
Dampak inflasi dan ketidakstabilan ekonomi
Kondisi ekonomi makro juga memainkan peran penting dalam meningkatnya side hustle.
Inflasi, dinamika suku bunga, dan ketidakstabilan ekonomi telah meningkatkan tekanan finansial pada pekerja.
Baca juga: Gen Z Dinilai Tak Siap Masuk Dunia Kerja, Pengangguran Meningkat?
Menurut survei OnePoll, sekitar 48 persen pekerja memulai side hustle untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal ini menunjukkan side hustle sering kali menjadi respons langsung terhadap meningkatnya biaya hidup.
Ilustrasi pegawai.
Dengan biaya perumahan, pendidikan, dan kebutuhan dasar yang terus meningkat, memiliki satu sumber pendapatan saja dianggap tidak cukup oleh banyak pekerja.
Side hustle sebagai model karier masa depan
Fenomena meningkatnya side hustle mencerminkan transformasi mendasar dalam struktur ekonomi tenaga kerja.
Baca juga: Hampir 1 Juta Gen Z Inggris Menganggur, Dinilai Belum Siap Kerja
Alih-alih bergantung pada satu perusahaan sepanjang karier mereka, semakin banyak pekerja yang mengadopsi pendekatan multi-sumber pendapatan.
Side hustle memungkinkan individu untuk:
- Mengurangi risiko kehilangan pendapatan
- Meningkatkan fleksibilitas karier
- Mengembangkan keterampilan baru
- Membangun bisnis secara mandiri
Pendekatan ini juga mencerminkan perubahan hubungan antara pekerja dan perusahaan.
Baca juga: Pengangguran Gen Z Terdidik Tinggi, CSIS Sebut Pendidikan Belum Jawab Kebutuhan Industri
Jika sebelumnya perusahaan menjadi pusat stabilitas ekonomi individu, kini individu semakin membangun stabilitas ekonomi mereka secara mandiri melalui berbagai sumber pendapatan.
Pergeseran ambisi profesional
Secara historis, ambisi profesional diukur dari posisi dan jabatan dalam organisasi.
Namun, bagi Gen Z, ambisi tidak lagi selalu terkait dengan jabatan tinggi atau struktur perusahaan.
Sebaliknya, ambisi diukur dari kemampuan untuk membangun karier yang fleksibel, mandiri, dan berkelanjutan secara finansial.
Baca juga: Biaya Hidup Naik, Soft Saving ala Gen Z Bisa Jadi Strategi Menabung
Side hustle menjadi simbol dari pendekatan ini, bukan sebagai tanda kurangnya ambisi, tetapi sebagai strategi yang disengaja untuk membangun keamanan ekonomi dan kebebasan profesional.
Perubahan ini mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam ekonomi modern, di mana stabilitas kerja tradisional semakin digantikan oleh fleksibilitas dan diversifikasi pendapatan.
Tag: #persen #pilih #side #hustle #lagi #kejar #jabatan #tinggi