Petinggi Bank di Inggris Bakal Rapat, Bahas “Pengganti” Visa dan Mastercard
- Para petinggi bank di Inggris akan menggelar rapat perdana guna membangun sistem pembayaran alternatif dari sistem pembayaran Visa dan Mastercard pada Kamis (17/2/2026).
Rencana pertemuan itu bergulir di tengah kekhawatiran para bankir atas kemampuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mematikan sistem Visa dan Mastercard di negara tertentu.
Adapun Visa dan Mastercard melayani transaksi elektronik seperti kredit, debit, dan prabayar. Kedua perusahaan itu berbasis di AS.
Baca juga: Mastercard: Masa Depan Pembayaran adalah Kombinasi Online dan Offline
Ilustrasi kartu kredit.
Mengutip The Guardian, Selasa (17/2/2026), pertemuan para bankir itu dipimpin CEO bank ternama Inggris, Barclays, Vim Maru.
Forum itu akan mempertemukan sejumlah investor yang akan mendanai perusahaan baru pengganti Visa dan Mastercard.
Keputusan ini ditempuh untuk menjaga perekonomian tetap berjalan meskipun Trump memutuskan mematikan layanan Visa dan Mastercard di Inggris.
Wacana yang didukung pemerintah Inggris ini sebenarnya telah bergulir selama bertahun-tahun.
Baca juga: Visa Catat Lonjakan Penggunaan AI dalam Penipuan Digital
Namun, kebijakan luar negeri Trump yang siap menyerang sekutu NATO menyangkut misi pencaplokan Greenland membuat para bankir semakin khawatir.
Mereka menyadari, ketergantungan yang berlebihan ke perusahaan AS berisiko membahayakan perekonomian di Inggris, khususnya terkait aktivitas transaksi pembayaran.
Regulator Sistem Pembayaran di Inggris melaporkan, pada 2025, sebanyak 95 persen transaksi pembayaran berbasis kartu menggunakan sistem Mastercard dan Visa.
Ilustrasi kartu kredit.
Transaksi kartu itu meningkat seiring menurunnya penggunaan uang tunai.
Baca juga: BI: Transaksi QRIS Didominasi UMKM, Volume dan Nilainya Terus Naik
Salah seorang pejabat eksekutif menyebut, jika Trump menghentikan layanan Visa dan Mastercard di Inggris, maka transaksi di negara itu akan kembali ke era 1950 ketika orang-orang hanya menggunakan uang tunai sebagai alat tukar.
“Tentu saja, kita membutuhkan sistem pembayaran yang berdaulat,” kata dia.
Kekhawatiran para bankir itu bukan tanpa alasan. AS sebelumnya pernah memaksa Visa dan Mastercard menghentikan layanan sistem pembayaran di Rusia.
Padahal, 60 persen aktivitas pembayaran di negara itu bergantung pada Visa dan Mastercard.
Baca juga: Ekspansi ke Mata Uang Kripto, Mastercard Bakal Luncurkan Kartu Pembayaran Baru
Akibatnya, masyarakat biasa kesulitan mengakses uang dan tidak bisa membeli barang.
Selain di Inggris, negara-negara di Uni Eropa juga dibayangi ketakutan yang sama. Para politisi di benua itu sudah cukup vokal mendorong pembangunan jaringan sistem pembayaran lokal sehingga tidak bisa dimatikan begitu saja oleh pihak asing.
Beberapa bulan lalu misalnya, Ketua Komite Urusan Ekonomi dan Moneter Parlemen Eropa, Aurore Lalucq menyampaikan peringatan keras terkait bahaya ketergantungan terhadap Visa dan Mastercard.
“Visa, Mastercard, masalah mendesaknya adalah sistem pembayaran kita. Trump dapat memutus semuanya,” ujar Lalucq.
Baca juga: Visa Sebut Tren Perjalanan dan Ritel Dorong Pertumbuhan Transaksi Selama Ramadhan
Meskipun mendukung rencana pembentukan sistem pembayaran sendiri, sikap pemerintah Inggris kepada Visa dan Mastercard kurang tegas.
Kedua perusahaan itu justru masuk dalam grup investor yang akan membangun sistem pembayaran baru.
Ilustrasi pembayaran nirsentuh menggunakan PayWave
Mereka bahkan memiliki saham dan hak suara bersama beberapa bank serta perusahaan pembayaran seperti Santander UK, NatWest, Nationwide, Lloyds Banking Group, badan jaringan ATM Link, dan Coventry Building Society.
Adapun sistem pembayaran baru di Inggris itu diperkirakan baru diterapkan pada 2030 mendatang.
Baca juga: Transaksi BI-FAST Tembus Rp 25 Kuadriliun, Bukti Lompatan Sistem Pembayaran Digital Indonesia
Sementara itu, Visa dan Mastercard menyatakan siap bersaing dengan sistem pembayaran lokal yang tengah dibahas.
Visa menyatakan akan menyediakan akses pembayaran digital yang aman, inovatif, serta bisa diandalkan kepada konsumen dan pelaku bisnis.
“Kami percaya persaingan antar berbagai solusi, yang didukung oleh persaingan yang adil, akan memberikan pilihan, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi di Inggris,” bunyi keterangan Visa.
Sementara itu, Mastercard menyatakan telah menyediakan layanan yang nyaman, sederhana, dan aman bagi warga Inggris selama beberapa puluh tahun terakhir.
Baca juga: Menko Airlangga Sebut QRIS Jadi Sistem Pembayaran yang Ditakuti Dunia
“Jami tetap berkomitmen untuk mendorong perdagangan di dalam negeri dan di seluruh dunia dengan membantu bisnis dari semua ukuran untuk tumbuh dan memenuhi kebutuhan pelanggan mereka,” demikian bunyi keterangan Mastercard.
Tag: #petinggi #bank #inggris #bakal #rapat #bahas #pengganti #visa #mastercard