Bahlil Mau Larang Eskpor Timah, Yakin Akan Menguntungkan Indonesia
- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berencana menyetop ekspor timah untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia.
Dia bilang, program hilirisasi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia bilang, larangan ekspor bijih nikel pada 2018–2019 menunjukkan membuahkan hasil signifikan, dengan nilai ekspor nikel pada periode 2023–2024 meningkat hingga sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan sebelumnya.
"Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya 3,3 miliar dollar AS, dan begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai 34 miliar dollar AS. 10 kali lipat hanya dalam waktu 5 tahun,” kata Bahlil dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Setop Impor Solar, Bahlil: Pasti Importir Sakit Kepala Ini
“Inilah kemudian yang menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata, menciptakan lapangan pekerjaan," lanjut Bahlil.
Ke depan, Bahlil akan mengkaji penyetopan ekspor beberapa komoditas lainnya, termasuk timah.
Ekspor barang mentah harus digantikan dengan komoditas hasil industri hilirisasi dalam negeri demi memperkuat posisi ekonomi Indonesia.
"Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan, kita akan mengkaji untuk beberapa komoditas lain, termasuk timah,” ujarnya.
“Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri," sambung Bahlil.
Beberapa waktu yang lalu, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 618 triliun.
Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis dan ditargetkan mulai berjalan pada tahun ini, termasuk hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak.
Produk hasil hilirisasi ini ditargetkan menjadi barang yang dapat menggantikan barang-barang impor dari luar negeri.
Bahlil pun mengundang investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk masuk menyuntikkan dananya pada proyek strategis nasional ini.
"Semua produknya adalah untuk melahirkan substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai,” jelas dia.
“Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri," lanjutnya.
Hingga tahun 2040, pelaksanaan hilirisasi di berbagai sektor diperkirakan mampu menarik investasi mencapai sekitar 618 miliar dollar AS.
Dari total tersebut, sebesar 498,4 miliar dollar AS diproyeksikan berasal dari subsektor mineral dan batu bara (minerba), sementara 68,3 miliar dollar AS lainnya bersumber dari sektor minyak dan gas bumi.
Program ini juga diperkirakan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan potensi nilai ekspor mencapai 857,9 miliar dollar AS serta tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 235,9 miliar dollar AS.
Program hilirisasi juga diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 3 juta lapangan kerja.
Baca juga: Bahlil Ungkap 22.000 Sumur Minyak RI Nganggur, Pemerintah Siapkan Intervensi Teknologi
Tag: #bahlil #larang #eskpor #timah #yakin #akan #menguntungkan #indonesia