Praktik Regeneratif Jadi Taruhan Baru Rantai Kopi Indonesia
— Rantai pasok kopi Indonesia menghadapi ujian baru, yakni perubahan cuaca yang makin ekstrem dan degradasi tanah. Di tengah tekanan itu, pendekatan pertanian regeneratif mulai diposisikan sebagai strategi ekonomi jangka panjang untuk menjaga produksi sekaligus pendapatan petani.
“Regenerative agriculture bagi LDC adalah pendekatan pengelolaan pertanian yang holistik, tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis, tetapi juga lingkungan dan sosial,” ujar Chintara Diva Tanzil, Regional Program Manager Stronger Coffee Initiative Louis Dreyfus Company (LDC) dalam acara bertajuk "Regenerative Agriculture" di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ia menambahkan, fokus utamanya adalah memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan biodiversitas, dan memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim.
Baca juga: Kadin Gandeng Inggris, Dukung Bisnis Hutan Regeneratif
Memulihkan Tanah, Menjaga Produksi
LDC menyebut telah bekerja sama dengan petani kopi Indonesia sejak 2015 melalui Stronger Coffee Initiative.
Hingga akhir 2025, program ini menjangkau lebih dari 20.000 petani di Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sebanyak 860.000 pohon telah ditanam untuk mendukung agroforestri dan konservasi keanekaragaman hayati sejak 2015.
Pada 2025, tim Farmer Assistance and Support Team (FAST) mendampingi 190 kebun kopi seluas 285 hektare, dengan 52 persen petani berkomitmen menghentikan penggunaan herbisida kimia.
Praktik yang diterapkan mencakup tanaman penutup tanah, rotasi tanaman, tumpang sari, pupuk organik, pengurangan pupuk sintetis, efisiensi irigasi, hingga analisis tanah. Fokus utamanya adalah kesehatan tanah sebagai fondasi produktivitas.
“Infiltrasi dan drainase air menjadi lebih baik, erosi berkurang, dan aktivitas mikrobiologi meningkat,” demikian penjelasan program LDC terkait manfaat konservasi tanah dalam pendekatan ini.
Baca juga: Cerita Petani Kopi Sistem Pagar di Lampung, Panen Meningkat 3 Kali Lipat
Asuransi Cuaca dan Mitigasi Risiko
Risiko perubahan cuaca menjadi perhatian utama, terutama pada fase pembuahan dan panen kopi.
Untuk itu, LDC bekerja sama dengan Blue Marble menguji asuransi parametrik berbasis indeks cuaca di Lampung pada Agustus–Desember tahun lalu.
“Perubahan cuaca kini menjadi risiko nyata bagi sektor pertanian, termasuk kopi, sehingga diperlukan mitigasi yang lebih adaptif,” ujar Rinaldo, Senior Analyst Southeast Asia Blue Marble.
Ia menjelaskan, klaim dipicu otomatis berdasarkan data satelit tanpa verifikasi lapangan yang kompleks.
“Pendekatan ini dapat memberikan perlindungan finansial yang lebih cepat dan praktis bagi petani,” katanya.
Baca juga: Guru Besar Unila Sebut Pembentukan Korporasi Petani Kopi yang Dilakukan Kementan Sudah Tepat Sasaran
Pilot project dilakukan pada 18 demoplot kopi dengan pemantauan radius 5,5 kilometer menggunakan data satelit global. Ketika parameter tertentu tercapai, klaim langsung ditransfer ke rekening petani.
Sebagai informasi, Louis Dreyfus Company merupakan perusahaan perdagangan dan pengolahan komoditas pertanian global yang berdiri sejak 1851.
Perusahaan ini beroperasi di lebih dari 100 negara, mempekerjakan sekitar 19.000 karyawan, dan memasok kebutuhan pangan serta sandang bagi sekitar 500 juta orang setiap tahun dengan volume sekitar 95 juta ton produk.
Tag: #praktik #regeneratif #jadi #taruhan #baru #rantai #kopi #indonesia