Efek Bullion Bank, Nasabah dan Laba BSI Sama-Sama Melonjak
– PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk hampir genap setahun menyandang status bank emas atau bullion bank sejak 26 Februari 2025.
BSI menjadi bank pertama yang mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjalankan bisnis bullion bank. Selain BSI, OJK juga memberi izin serupa kepada PT Pegadaian (Persero).
Kehadiran bullion bank memberi opsi baru bagi masyarakat untuk menyimpan dan mengelola emas secara lebih aman dan terstruktur. Tren harga emas yang terus naik turut mendorong minat masyarakat berinvestasi emas melalui kanal formal perbankan.
Bisnis emas kemudian menjadi salah satu pendorong utama kinerja BSI sepanjang 2025.
Baca juga: BSI Segera Rilis Produk Simpanan Emas
Sepanjang tahun lalu, BSI membukukan laba bersih Rp 7,56 triliun. Angka ini tumbuh 8,02 persen secara tahunan dibandingkan laba 2024 sebesar Rp 7 triliun.
Pertumbuhan laba terutama ditopang pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang melonjak 25,06 persen secara tahunan menjadi Rp 6,89 triliun.
Direktur Finance and Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, lonjakan pendapatan berbasis komisi tersebut banyak disumbang produk emas.
Sejak memperoleh lisensi bullion bank pada Februari 2025, BSI langsung mengakselerasi bisnis emas. Dampaknya terlihat pada pertumbuhan nasabah tabungan emas dan peningkatan frekuensi transaksi.
"Peningkatan fee based income ini memang secara lebih detail dikontribusi oleh produk-produk baru kita terutama yang berkaitan dengan emas," ujar Ade saat konferensi pers, Jumat (6/2/2026).
Ade menyebut jumlah nasabah BSI sepanjang 2025 bertambah lebih dari 2 juta orang. Total nasabah kini melampaui 23 juta.
Status BSI sebagai bullion bank turut mendorong capaian tersebut. BSI mencatat hampir 500.000 nasabah baru yang melakukan transaksi beli emas melalui platform Byond.
"Pertumbuhan 2 juta nasabah di tahun 2025 merupakan rekor tertinggi yang pernah kita catat setelah BSI merger. Ini gambaran bahwa minat masyarakat Indonesia untuk shifting, untuk bergabung ke BSI semakin baik. Bila kita lihat detail, driver utama dari rekor pertumbuhan nasabah ini memang berasal dari dua bagian besar, kita sebagai bank syariah dan sebagai bullion bank," jelas Ade.
Baca juga: Hampir Setahun Jadi Bullion Bank, Begini Kinerja Bisnis Emas BSI
Dari sisi bisnis emas, Direktur Distribution dan Sales BSI Anton Sukarna menyebut BSI kini memiliki lebih dari 1 juta nasabah terkait produk emas.
Sekitar 640.000 nasabah berasal dari produk cicil emas dan gadai emas. Sementara sekitar 530.000 nasabah menggunakan produk bullion murni seperti perdagangan dan penitipan emas.
Pembiayaan cicil emas dan gadai emas non-bullion tumbuh 78,60 persen secara tahunan dengan volume Rp 22,90 triliun.
Penjualan emas bullion sepanjang 2025 mencapai 2,2 ton.
Produk cicil emas mencatatkan volume Rp 12,89 triliun atau tumbuh 101,23 persen secara tahunan. Produk gadai emas mencatatkan volume Rp 10,02 triliun atau naik 56,05 persen secara tahunan.
"Kalau untuk bullion bank, pertumbuhan kita penjualan kita di tahun lalu di angka 2,2 ton emas. Ini pertumbuhan yang luar biasa," kata Anton.
Memasuki 2026, BSI menargetkan penguatan bisnis emas dari sisi jumlah nasabah, volume transaksi, dan pengembangan produk.
Perseroan menilai ruang pertumbuhan bisnis emas masih luas seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis emas.
Anton menyebut peningkatan basis nasabah menjadi target utama tahun ini. Setelah memiliki lebih dari 1 juta nasabah emas pada 2025, jumlah tersebut diharapkan meningkat signifikan.
"Mudah-mudahan tahun ini kita akan meningkat lebih tinggi lagi, mohon doanya ya mudah-mudahan bisa sampai ke 2 juta atau lebih dari itu," ucap Anton.
Dari sisi produk, BSI bersiap menjalankan produk simpanan emas mulai Februari 2026.
Produk ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan ekosistem bullion banking BSI. Produk tersebut melengkapi izin perdagangan, penitipan, dan simpanan emas sesuai Peraturan OJK Nomor 17 Tahun 2024.
"Izin dasar ini sudah kita jalankan dan insya Allah untuk yang simpanan, kita akan mulai jalankan di Februari ini. Jadi mohon doanya, ini tinggal persiapan akhir ya terkait dengan pencatatan, pelaporan, dan sebagainya," ujar Anton.
Simpanan emas menjadi prasyarat sebelum BSI melangkah ke tahap pembiayaan emas.
Setelah simpanan emas berjalan, BSI akan melakukan kajian menyeluruh terkait risiko, kesiapan pasar, dan mitigasi pembiayaan.
"Mudah-mudahan, kalau misalnya nanti hasil laporan kajian kita cukup feasible, benar-benar resikonya bisa kita manage dengan baik, market yang sudah bisa kita create, Insya Allah kita akan segera ajukan izin untuk pembiayaan emas," ungkap Anton.
BSI juga menyiapkan produk turunan seperti gadai e-mas dan cicil e-mas berbasis tabungan emas.
Produk tersebut diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan emas secara digital dan terintegrasi.
"Jadi kalau yang tadi kan cuma basic ya, izin basic 3 itu, tapi nanti kita punya turunan-turunan transaksi yang harus juga kita minta izinnya ke OJK. Di antara yang kita sedang propose adalah gadai e-mas kemudian cicil e-mas. Mudah-mudahan nanti bisa selesai segera, itu juga di tabuhan emas kita," ucap Anton.
Ke depan, BSI juga membidik segmen wholesale. Fokus diarahkan pada layanan jual-beli emas skala besar, tabungan emas wholesale, serta penguatan direct sales untuk nasabah korporasi dan institusi.
"Insya Allah kita banyak hal yang kita sedang kerjakan terkait dengan bullion banking kita, dan mudah-mudahan di tahun 2026 ini kita create produk baru yang bisa kita release ke market," tutur Anton.
Tag: #efek #bullion #bank #nasabah #laba #sama #sama #melonjak