Outflow Asing Tembus Rp 15,7 Triliun, Bagaimana Pergerakan IHSG Sepekan ke Depan?
Ilustrasi saham. (SHUTTERSTOCK/XALIEN)
07:52
2 Februari 2026

Outflow Asing Tembus Rp 15,7 Triliun, Bagaimana Pergerakan IHSG Sepekan ke Depan?

 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 8.329 pada akhir perdagangan Jumat (30/1/2026). IHSG naik 1,18 persen pada hari itu. Pergerakan sepekan menunjukkan pelemahan 6,94 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya.

Tekanan pasar tercermin dari arus dana asing. Investor asing mencatatkan penjualan bersih atau outflow sebesar Rp 15,7 triliun di pasar reguler sepanjang sepekan terakhir.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT David Kurniawan menilai pelemahan tajam IHSG muncul dari kombinasi sentimen global dan domestik. Dua faktor tersebut muncul bersamaan dan menekan pasar keuangan nasional.

Baca juga: Mengenal Indeks MSCI yang Bikin IHSG Anjlok Dua Hari Berturut-turut

Sentimen global datang dari meningkatnya ketidakpastian greenland trade war. Pasar global masih mencerna pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait tarif terhadap Greenland. Risiko pasar meningkat seiring potensi respons lanjutan dari Uni Eropa.

Jika Uni Eropa merilis pernyataan resmi sebagai balasan kebijakan tarif tersebut, volatilitas pasar berpeluang meningkat. Penguatan aset safe haven seperti Swiss franc dan yen Jepang berpotensi terjadi. Saham eksportir global juga berisiko tertekan.

Sentimen domestik datang dari keputusan Morgan Stanley Capital International atau MSCI. MSCI mengumumkan Interim Freeze yang berlaku segera. Keputusan ini memicu gejolak signifikan di pasar Indonesia.

MSCI menyebut tidak ada perbaikan transparansi yang memadai hingga Mei 2026 berisiko menurunkan bobot seluruh saham Indonesia. Status Indonesia juga terancam turun dari emerging market menjadi frontier market.

Ancaman tersebut memperkuat tekanan pasar domestik. Dampaknya terlihat dari pengunduran diri serta penunjukan jajaran pimpinan Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dalam waktu berdekatan.

David menilai pergantian pimpinan di BEI dan OJK menjadi langkah strategis. Langkah ini diharapkan memberi sinyal perbaikan tata kelola pasar modal nasional.

“Dengan pengalaman yang komprehensif di sektor jasa keuangan tersebut, kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan, transparansi, dan daya saing pasar modal Indonesia agar semakin progresif di masa depan,” ujarnya lewat keterangan pers, Senin (2/2/2026).

Baca juga: Purbaya Pede IHSG Senin Menguat, Usai Bos BEI-OJK Ramai-ramai Mundur

Menatap periode perdagangan 2 sampai 5 Februari 2026, David meminta pelaku pasar mencermati rilis data Produk Domestik Bruto atau PDB Indonesia sepanjang 2025. Awal Februari kerap menjadi momentum pengumuman pertumbuhan ekonomi tahunan.

“Pasar berekspektasi ekonomi kita tumbuh solid di angka 5,1 persen 5,2 persen. Jika angka resminya di atas ekspektasi, ini akan menjadi bensin tambahan bagi IHSG untuk tidak hanya sekadar mampir di level 9.000, tapi menjadikannya sebagai lantai baru atau support kuat,” tandasnya.

Respons pasar terhadap estafet kepemimpinan baru di BEI dan OJK juga diperkirakan memengaruhi pergerakan indeks dalam sepekan ke depan.

Merespons kondisi pasar, IPOT merekomendasikan strategi perdagangan pada saham yang bergerak dalam tren naik.

IPOT merekomendasikan beli saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk atau WIIM. Harga saat ini berada di level 1.825 dengan target 1.975 atau potensi kenaikan 8,22 persen. Stop loss berada di level 1.745 dengan rasio risiko terhadap imbal hasil 1 banding 1,9. Saham ini bergerak dalam tren naik dan berpeluang menembus resistance 1.870.

Rekomendasi beli juga diberikan untuk saham PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk atau JPFA. Harga saat ini berada di level 2.770 dengan target 3.090 atau potensi kenaikan 11,55 persen. Stop loss berada di level 2.630 dengan rasio risiko terhadap imbal hasil 1 banding 2,3. Sektor poultry dinilai masih menarik pada 2026 seiring faktor MBG. Saham ini berada di area support rata rata pergerakan 50 hari.

Saham PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk atau ULTJ juga masuk rekomendasi beli. Harga berada di level 1.505 dengan target 1.600 atau potensi kenaikan 6,31 persen. Stop loss berada di level 1.455 dengan rasio risiko terhadap imbal hasil 1 banding 1,9. Saham ini berpeluang menembus area konsolidasi dan relatif minim dampak sentimen MSCI.

IPOT juga merekomendasikan pembelian Reksa Dana Saham Premier ETF Indonesia Consumer atau XIIC. Produk Power Fund Series ini didukung fundamental emiten yang dinilai solid.

Rapat Federal Open Market Committee atau FOMC pada 29 Januari 2026 menegaskan keputusan bank sentral Amerika Serikat menahan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Sikap tersebut mencerminkan pendekatan wait and see setelah tiga kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2025.

Mayoritas anggota komite menilai kondisi ekonomi Amerika Serikat tetap solid. Pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja dinilai stabil. Inflasi masih berada di level agak tinggi. Dua anggota komite mendukung pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan ini menunjukkan perdebatan internal terkait arah kebijakan moneter ke depan.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Riset mandiri tetap diperlukan sebelum mengambil keputusan.

Tag:  #outflow #asing #tembus #triliun #bagaimana #pergerakan #ihsg #sepekan #depan

KOMENTAR