Ketika Alfamart Menembus Pasar Bangladesh
Ilustrasi Alfamart, gerai minimarket Alfamart.(Dok Alfamartku.com)
14:04
31 Januari 2026

Ketika Alfamart Menembus Pasar Bangladesh

KETIKA mendengar Alfamart membuka gerai di Bangladesh, banyak orang mungkin bertanya, mengapa Bangladesh? Bukankah pasar ritel di Indonesia saja masih sangat luas?

Justru di situlah menariknya langkah yang dilakukan Alfamart. Ekspansi Alfamart melalui PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk. ke Bangladesh bukan keputusan spontan, melainkan cerminan kedewasaan strategi bisnis perusahaan retail Indonesia yang mulai berani bermain di level global.

Buku Strategic Management yang ditulis Dr. Ravi Kant Pathak pada 2020, menekankan bahwa strategi bukan hanya sekadar rencana pertumbuhan, melainkan seni membaca peluang di tengah perubahan lingkungan.

Alfamart tampaknya memahami betul pesan tersebut. Ketika pasar domestik semakin padat dan persaingan ritel kian sengit, perusahaan perlu mencari ruang pertumbuhan baru dan Bangladesh menawarkan peluang tersebut.

Bangladesh adalah negara dengan jumlah penduduk lebih dari 170 juta jiwa, tingkat urbanisasi meningkat, serta kelas menengah tumbuh cepat. Struktur ritelnya masih didominasi toko kecil tradisional yang terfragmentasi.

Baca juga: Dilema WNI Scammer Kamboja: Meniru Langkah Tegas Korsel

Dalam kacamata manajemen strategik, hal ini merupakan pasar dengan high growth potential, tetapi low modern retail penetration. Artinya, peluangnya besar bagi pemain yang sudah memiliki sistem, skala, dan efisiensi tinggi.

Di sinilah keunggulan Alfamart. Selama puluhan tahun, Alfamart membangun keahlian dalam mengelola ribuan gerai kecil secara efisien, dimulai dari rantai pasok, manajemen stok, hingga pemilihan lokasi berbasis data.

Keunggulan semacam ini dikenal dengan core competence, yaitu kemampuan inti yang dapat dipindahkan ke pasar lain untuk menciptakan keunggulan bersaing.

Alfamart juga tidak gegabah dalam membuat keputusan ekspansi ke Bangladesh. Alfamart tidak masuk sendiri ke Bangladesh, mereka memilih skema joint venture dengan mitra lokal Kazi Farms Group dan Mitsubishi Corporation dari Jepang.

Hal ini selaras dengan teori bahwa ekspansi internasional perlu menyeimbangkan antara kontrol dan risiko.

Pasar baru selalu membawa ketidakpastian yang disebabkan oleh perbedaan budaya, regulasi, hingga perilaku konsumen.

Bermitra dengan pemain lokal merupakan cara cerdas untuk belajar lebih cepat tanpa harus mengalami permasalahan sendirian.

Strategi ini menunjukkan Alfamart tidak hanya mengekspor merek, tetapi juga mengekspor cara berpikir strategik.

Gerai Alfamart di Bangladesh tidak sekadar meniru format yang ada di Indonesia, tapi juga menyesuaikan kebiasaan lokal yang dimulai dari produk, harga, hingga pola belanja masyarakat setempat.

Baca juga: Emas dan Runtuhnya Dongeng Kestabilan Ekonomi Modern

Inilah yang disebut dengan strategic fit, yaitu kesesuaian antara strategi perusahaan dan lingkungan bisnis.

Menariknya, ekspansi ini juga membawa pesan simbolik yang kuat. Selama ini, kita lebih sering melihat perusahaan asing membuka gerai di Indonesia. Kini, arah itu mulai berbalik.

Perusahaan Indonesia tidak lagi hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain regional. Alfamart membuktikan bahwa perusahaan nasional mampu bersaing di luar negeri, bukan dengan modal besar semata, tapi dengan sistem dan disiplin operasional.

Lebih jauh, ekspansi ini juga memiliki dampak sosial. Kehadiran Alfamart di Bangladesh membuka lapangan kerja baru, mentransfer keahlian ritel modern, dan memberi ruang bagi produk lokal untuk masuk ke jaringan distribusi yang lebih terorganisasi.

Dalam perspektif manajemen strategik modern, keberhasilan perusahaan tidak lagi diukur hanya dari laba, tetapi juga dari dampaknya terhadap para pemangku kepentingan (stakeholders).

Strategi berkelanjutan mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus sosial. Jika Alfamart mampu menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis dan kontribusi lokal, maka ekspansi ke Bangladesh bukan hanya sukses secara komersial, tetapi juga legitimasi secara sosial.

Baca juga: Durian Indonesia Tak Berdaya di Pasar Global

Tentu saja, jalan ke depan tidak mudah. Persaingan akan datang, adaptasi akan terus diuji, dan kesalahan kecil bisa berdampak besar.

Keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman merupakan inti dari strategi itu sendiri. Dalam dunia yang semakin terhubung, perusahaan yang bertahan bukan yang paling besar, melainkan paling adaptif dan agile terhadap perubahan.

Pada akhirnya, ekspansi Alfamart ke Bangladesh memberi pelajaran penting bahwa globalisasi tidak selalu milik raksasa Barat atau Asia Timur.

Dengan strategi tepat, disiplin eksekusi, dan kemauan belajar, retail modern Indonesia bisa naik kelas menjadi pemain global.

Tag:  #ketika #alfamart #menembus #pasar #bangladesh

KOMENTAR