Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI, Bos OJK Kini Ngantor di Bursa
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, saat pembukaan perdagangan bursa tahun 2026, Jakarta, Jumat (2/1/2026). Pada 30 Januari 2026, Iman Rachman umumkan mundur sebagai Dirut BEI usai perdagangan bursa trading halt dua hari berturut-turut pada 28 dan 29 Januari 2026. (KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN/DOKUMENTASI BEI )
13:52
30 Januari 2026

Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI, Bos OJK Kini Ngantor di Bursa

Iman Rachman resmi mengundurkan diri sebagai Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Iman pada Jumat (30/1/2026), di tengah gejolak pasar saham domestik yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari perdagangan beruntun atau periode Rabu dan Kamis pekan ini.

Iman menyebut, pengunduran diri merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai pimpinan tertinggi bursa atas kondisi pasar yang terjadi.

Ia berharap langkah tersebut dapat memberikan dampak positif bagi stabilitas dan kepercayaan pasar modal ke depan.

“Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman, Jumat (30/1/2026).

“Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal, semoga dengan pengunduran saya ini pasar modal kita jadi lebih baik,” paparnya.

Baca juga: IHSG Naik 1,18 Persen pada Sesi I, Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI

Ilustrasi IHSG. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang menembus level 10.000.DOKUMENTASI BEI Ilustrasi IHSG. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang menembus level 10.000.Terkait keberlangsungan organisasi, Iman memastikan seluruh proses administratif akan berjalan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar perseroan. Untuk sementara waktu, posisi Direktur Utama BEI akan diisi oleh pelaksana tugas (Plt) hingga ditetapkannya direktur utama definitif.

“Dokumentasi administrasi semuanya akan berlaku sesuai dengan ketentuan anggaran dasar kita. Nanti akan ada sementara Plt yang akan ditunjuk berdasarkan aturan kita sampai ditunjuk definitif Direktur Utama yang baru,” kata Iman.

Ia juga menegaskan tidak akan memberikan penjelasan lanjutan terkait keputusannya tersebut. Fokus utamanya, menurut Iman, adalah memastikan pasar tetap berjalan dengan baik dan kepercayaan investor dapat kembali terjaga.

Pengunduran diri Iman terjadi setelah IHSG mengalami tekanan berat dalam dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG ambruk 7,35 persen dan ditutup di level 8.320,56 atau turun 659,67 poin.

Pelemahan tersebut menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir akibat derasnya aksi jual di hampir seluruh sektor.

Tekanan berlanjut pada Kamis (29/1/2026), ketika IHSG kembali ditutup melemah 1,06 persen atau turun 88,35 poin ke level 8.232,20.

Meski demikian, pada perdagangan Jumat pagi, IHSG mulai menunjukkan tanda pemulihan dengan dibuka menguat 70,78 poin atau 0,86 persen ke level 8.302,98.

Indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 8.333,05, sebelum bergerak fluktuatif dengan level terendah di 8.280,77.

Baca juga: Dirut BEI Iman Rachman Mundur Saat Pasar Bergejolak, OJK: Tidak Ganggu Operasional Bursa

Bos OJK Ngantor di BEI

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut praktik scam sebagai sisi gelap dari pesatnya digitalisasi transaksi di sektor jasa keuanganDOKUMENTASI OJK Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut praktik scam sebagai sisi gelap dari pesatnya digitalisasi transaksi di sektor jasa keuanganDi tengah situasi tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah tidak biasa dengan berkantor langsung di gedung BEI mulai Jumat (30/1/2026).

Langkah ini dilakukan untuk mengawal reformasi dan perbaikan pasar modal secara langsung, menyusul gejolak IHSG yang dipicu oleh kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan kehadiran OJK di BEI bertujuan memastikan proses perbaikan tata kelola, transparansi, dan integrasi pasar modal berjalan cepat, tepat, dan efektif.

“Kami fokusnya adalah reformasi perbaikan itu seluruhnya dan berjalan cepat, tepat dan efektif. Untuk memastikan hal itu, mulai besok kami juga akan berkantor di sini (gedung BEI),” ucap Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Terancam Turun Kelas Setara Bangladesh, Status Pasar Saham RI Ditentukan MSCI

Lebih jauh, Mahendra menegaskan, OJK “pasang badan” untuk menjaga posisi saham-saham emiten Indonesia di indeks MSCI. Regulator menindaklanjuti keputusan MSCI yang menangguhkan sementara sejumlah perubahan indeks dengan melakukan pembenahan menyeluruh, terutama terkait transparansi data free float emiten.

Langkah strategis tersebut mencakup peningkatan kualitas data free float, penetapan batas minimal free float sebesar 15 persen bagi seluruh emiten, serta penyiapan exit policy bagi perusahaan publik yang tidak mampu memenuhi ketentuan. Menurut Mahendra, kebijakan MSCI justru menjadi masukan konstruktif bagi penguatan pasar modal Indonesia.

“OJK menerima penjelasan itu sebagai masukan yang baik. Karena kami melihat bahwa lembaga itu tetap ingin memasukkan saham-saham emiten dari Indonesia dalam indeks global. Yang menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sangat potensial dan investable bagi investor internasional,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, OJK mengawal penyesuaian metodologi perhitungan free float yang telah disiapkan oleh BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Penyesuaian tersebut meliputi pengecualian kepemilikan saham dalam kategori corporate dan others dari perhitungan free float, serta publikasi kepemilikan saham di atas dan di bawah 5 persen untuk setiap kategori investor.

“Menindaklanjuti proposal ataupun penyesuaian yang sudah dilakukan oleh Bursa dan KSEI yang sudah dipublikasikan dan saat ini sedang dipelajari oleh MSCI, apakah sesuai dengan yang dibutuhkan mereka,” ungkap Mahendra.

Baca juga: IHSG Terkoreksi Imbas MSCI, Alokasi Portofolio Aktif Dinilai Tak Bisa Statis

Selain itu, OJK juga memenuhi permintaan tambahan MSCI terkait keterbukaan informasi kepemilikan saham di bawah 5 persen, termasuk klasifikasi investor dan struktur kepemilikannya, dengan mengacu pada best practice internasional.

OJK juga mendorong Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal menerbitkan aturan baru terkait free float minimal 15 persen dalam waktu dekat, lengkap dengan mekanisme exit policy yang terukur bagi emiten yang tidak memenuhi ketentuan.

Di sisi struktural, Mahendra menyampaikan pemerintah tengah menyiapkan regulasi demutualisasi bursa yang ditargetkan terbit pada kuartal I/2026. Regulasi ini diharapkan dapat memperkuat tata kelola dan profesionalisme pengelolaan bursa ke depan.

Baca juga: Kejar Tenggat MSCI, Bos BEI Optimistis Isu Free Float Beres Sebelum Mei

Tag:  #iman #rachman #mundur #dari #dirut #kini #ngantor #bursa

KOMENTAR