Geopolitik Bergejolak, Investor Lirik Obligasi dan Diversifikasi Aset
– Ketegangan geopolitik global yang mengemuka sejak awal 2026 dinilai berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan, sekaligus menguji ketahanan pertumbuhan ekonomi dunia. Namun, di tengah risiko tersebut, pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal di sejumlah negara justru membuka ruang penopang ekonomi, termasuk bagi Indonesia.
Laras Febriany, Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, menilai dinamika geopolitik saat ini tidak terlepas dari arah kebijakan Amerika Serikat yang semakin menonjolkan kepentingan nasional, serta meningkatnya peran kekuatan baru seperti China dan Rusia.
Menurut Laras, kondisi tersebut membuat friksi antarnegara lebih rentan terjadi dan berimplikasi pada volatilitas jangka pendek pasar, sekaligus menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca juga: Trading Halt Dua Hari Berturut-turut, Purbaya Tetap Optimistis IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini
“Implikasinya, kondisi ini dapat menyebabkan volatilitas jangka pendek di pasar dan menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi global, terutama dengan menguatnya kebijakan proteksionisme yang mengikis kebebasan perdagangan global,” ujar Laras dalam ulasan pasar Seeking Alpha Edisi Januari 2026,
Namun, dari perspektif jangka pendek, Laras melihat ketegangan geopolitik justru mendorong sinkronisasi kebijakan di berbagai negara. Banyak pemerintah dan bank sentral secara bersamaan mengadopsi kebijakan moneter dan fiskal yang lebih akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik dan investasi di sektor strategis.
“Kebijakan akomodatif ini diperkirakan menjadi faktor positif yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini,” kata dia.
Baca juga: IHSG Turun dan Sinyal Ketidakpastian Ekonomi
Volatilitas Pasar dan Strategi Diversifikasi
Ketidakpastian geopolitik dinilai meningkatkan risiko volatilitas pasar yang sulit diprediksi. Kondisi tersebut, menurut Laras, telah menjadi bagian dari “new normal” yang harus diperhitungkan investor dalam mengambil keputusan investasi.
Ia menilai investor global cenderung memperkuat diversifikasi sebagai langkah mitigasi risiko, baik dari sisi mata uang, kelas aset, kawasan, maupun melalui aset non-keuangan seperti emas. Di sisi lain, situasi ini juga membuka peluang aliran dana ke negara berkembang yang ekonominya lebih berorientasi domestik dan memiliki risiko geopolitik lebih rendah.
Sementara itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral global masih menjadi faktor penting. The Fed diperkirakan lebih bergantung pada data pada 2026, seiring suku bunga yang dinilai telah berada di zona netral. Meski proyeksi median The Fed hanya mengindikasikan satu kali penurunan suku bunga, potensi penurunan lebih lanjut masih terbuka.
“Kami melihat masih ada potensi Fed Funds Rate dapat turun lebih dari satu kali tahun ini,” ujar Laras, dengan mempertimbangkan berakhirnya masa jabatan Ketua The Fed Jerome Powell pada Mei 2026 dan kemungkinan bergesernya arah kebijakan menjadi lebih dovish.
Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Terbang ke Level Baru
Prospek Indonesia dan Pasar Obligasi
Di dalam negeri, Manulife Aset Manajemen Indonesia memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi membaik pada 2026, setelah melalui periode pertumbuhan yang relatif lemah pada 2024–2025. Suku bunga yang lebih akomodatif dan percepatan realisasi belanja negara dinilai menjadi faktor pendorong utama.
Anggaran belanja negara dalam APBN 2026 tercatat tumbuh 9 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut diharapkan mampu memberikan dorongan bagi aktivitas ekonomi.
Terkait pasar obligasi, Laras menilai perhatian investor tetap tertuju pada perkembangan fiskal, terutama setelah defisit APBN 2025 melebar menjadi 2,92 persen dari PDB, melampaui target pemerintah sebesar 2,78 persen.
“Selama pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen sesuai undang-undang, sentimen pasar akan tetap terjaga,” kata Laras.
Ia menambahkan, permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan tetap kuat, ditopang dominasi investor domestik yang mencapai 86 persen dari total kepemilikan SBN, serta kebutuhan mencari imbal hasil yang lebih menarik di tengah penurunan suku bunga deposito perbankan.
Ke depan, diversifikasi pembiayaan melalui penerbitan obligasi global juga dinilai dapat membantu mengurangi tekanan suplai SBN di pasar domestik. Pemerintah sebelumnya telah menerbitkan kangaroo bond dan dimsum bond pada 2025 yang mendapat respons positif dari pasar.
Dari sisi kebijakan moneter domestik, Bank Indonesia diperkirakan memasuki fase akhir siklus penurunan suku bunga pada 2026. Setelah pemangkasan agresif pada 2025, ruang penurunan BI Rate dinilai semakin terbatas.
Meski demikian, Laras memperkirakan masih ada potensi penurunan suku bunga sebanyak satu hingga dua kali ke kisaran 4,25 persen–4,50 persen, dengan inflasi domestik yang tetap terjaga dan ekspektasi The Fed yang lebih dovish.
Tag: #geopolitik #bergejolak #investor #lirik #obligasi #diversifikasi #aset