IHSG Anjlok, Dollar Cost Averaging Jadi Opsi Investor Pemula
Bursa saham Indonesia mengalami tekanan tajam pada Rabu (28/1/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini sempat terkoreksi dalam sesi perdagangan pagi hingga siang. IHSG merosot 718,44 poin atau 8,00 persen ke level 8.261,78.
Kondisi ini memicu penerapan trading halt atau penghentian sementara perdagangan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah IHSG anjlok sekitar 8 persen pada hari yang sama.
Baca juga: Mengapa Pengumuman MSCI Bikin IHSG Anjlok Sampai Trading Halt?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (26/1/2026). IHSG naik 24,32 poin atau 0,27 persen ke level 8.975,33.
Aksi jual menjadi respons pasar terhadap isu yang memengaruhi persepsi likuiditas dan transparansi.
Dalam kondisi pasar yang bergejolak seperti ini, istilah dollar cost averaging (DCA) sering muncul sebagai strategi yang direkomendasikan untuk investor pemula.
Apa itu dollar-cost averaging (DCA)?
Menurut definisi yang luas, dollar cost averaging adalah praktik membeli jumlah uang yang sama pada interval teratur, terlepas dari harga sehingga pembelian dilakukan baik saat pasar naik maupun turun.
Investopedia menjelaskan DCA sebagai suatu cara bagi investor untuk mengabaikan volatilitas jangka pendek di pasar yang lebih luas dan menempatkannya sebagai metode yang umum dipakai untuk menahan emosi dalam pengambilan keputusan investasi.
Baca juga: IHSG Jeblok sampai Trading Halt, Analis Sebut Reaksi Pasar Berlebihan
Manajer investasi dalam sebuah kajiannya membahas perbandingan antara strategi lump-sum dan dollar-cost averaging.
Sebagai informasi, lump-sum adalah strategi menempatkan seluruh modal dana secara sekaligus di awal, tanpa ada tambahan setoran rutin, untuk langsung dikelola di aset seperti saham atau reksa dana.
Ilustrasi pasar saham.
Metode ini cocok untuk investor dengan modal besar, profil risiko tinggi, dan waktu investasi panjang. Keuntungan utamanya adalah potensi profit lebih tinggi jika pasar naik, namun risikonya besar jika harga jatuh.
Vanguard mencatat bahwa bukti empiris cenderung mendukung investasi lump-sum secara historis dalam hal hasil rata-rata, tetapi mengenali bahwa DCA dapat memberikan manfaat psikologis dan pengelolaan risiko volatilitas jangka pendek.
Baca juga: Trading Halt BEI Dibuka Pukul 14.13 WIB, IHSG Kian Tertekan
Vanguard menyatakan, strategi DCA sering disebut-sebut sebagai cara yang baik untuk meratakan puncak dan lembah pasar investasi, namun menekankan bahwa bukti kuat mendukung lump-sum untuk hasil matematis yang lebih baik dalam banyak kasus.
Mengapa DCA relevan saat IHSG anjlok?
Peristiwa penurunan tajam IHSG hari ini memperlihatkan dua hal yang relevan bagi investor ritel:
1. Volatilitas tinggi jangka pendek
Koreksi besar memunculkan peluang pembelian harga murah apabila investor yakin fundamental jangka panjang tidak berubah. Namun, menentukan titik terendah pasar nyaris mustahil.
Lalu-lintas jual agresif dapat menekan harga lebih jauh sebelum rebound (jika terjadi).
Baca juga: IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Setop Perdagangan 30 Menit
2. Risiko non-pasar
Selain volatilitas, faktor-faktor seperti isu transparansi data pada bursa, potensi perubahan status pasar oleh penyedia indeks global, atau sentimen politik maupun ekonomi dapat mengubah arus modal asing dan likuiditas pasar.
Masalah investability atau data dapat memicu reaksi tajam investor asing. Dalam situasi demikian, DCA menawarkan cara bertahap memasuki pasar tanpa menaruh seluruh modal pada satu titik waktu yang kemungkinan besar penuh risiko.
Ilustrasi saham.
Apakah DCA “mengalahkan” investasi lump-sum?
Studi dan analisis lembaga keuangan besar menunjukkan hasil yang tidak seragam.
Vanguard, dalam analisisnya, menemukan bahwa secara historis lump-sum lebih sering mengungguli DCA, karena pasar cenderung naik dalam jangka panjang sehingga menanamkan modal sekaligus memperoleh eksposur lebih awal biasanya memberikan hasil yang lebih tinggi.
Baca juga: Trading Halt Warnai IHSG Anjlok 8 Persen, Pasar Ditekan Isu MSCI
Meski demikian, Vanguard menekankan bahwa keunggulan matematis ini tidak menghilangkan nilai DCA sebagai alat manajemen risiko psikologis.
Investopedia menekankan bahwa DCA membantu “mengurangi dampak volatilitas” dan mempermudah investor pemula untuk konsisten menabung dan berinvestasi, terutama bila modal awal kecil atau investor merasa tidak nyaman memasukkan seluruh dana di satu titik.
Singkatnya, bukti kuantitatif memfavoritkan lump-sum dalam banyak kondisi historis, tetapi DCA memiliki nilai praktis nyata bagi investor yang menghadapi risiko perilaku, misal takut masuk pasar saat jatuh.
Pilihan antara keduanya sebaiknya mempertimbangkan kondisi psikologis investor, horizon waktu investasi, dan likuiditas dana.
Baca juga: IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Aktifkan Trading Halt
Kapan DCA paling masuk akal untuk investor pemula?
Berdasarkan literatur dan panduan praktis internasional, DCA lebih sesuai ketika:
- Anda adalah investor pemula dengan modal terbatas dan ingin membangun posisi secara bertahap.
- Anda menerima bahwa pasar bisa turun lebih jauh dan ingin menghindari penyesalan setelah membeli di puncak lokal.
- Anda menabung secara berkala untuk tujuan jangka menengah–panjang, misal untuk pensiun atau dana pendidikan anak.
- Ada kekhawatiran atas faktor non-pasar sementara yang meningkatkan ketidakpastian, sebab DCA mengurangi risiko memasukkan seluruh modal saat kepanikan pasar.
Ilustrasi saham.
Cara praktis menerapkan DCA saat IHSG anjlok
Berikut langkah-langkah menerapkan DCA yang bisa diikuti investor ritel saat indeks saham anjlok.
1. Tentukan frekuensi dan jumlah tetap
Misalnya Rp 1 juta setiap bulan ke reksa dana saham. Konsistensi adalah kunci DCA.
Baca juga: IHSG Hari Ini Anjlok, Analis: Koreksi Bukan Cerminan Fundamental
2. Pilih instrumen yang likuid dan terdiversifikasi
Untuk investor pemula, reksa dana saham yang melacak IHSG atau indeks global memberi diversifikasi instan dan mengurangi risiko saham tunggal.
3. Siapkan dana darurat terpisah
Jangan gunakan seluruh tabungan darurat untuk investasi bertahap. Prinsip manajemen risiko pribadi harus ditegakkan.
4. Gunakan order berkala otomatis bila tersedia
Beberapa platform sekuritas atau aplikasi investasi menyediakan fasilitas pembelian berkala otomatis. Ini dapat dimanfaatkan untuk meminimalkan risiko kesalahan timing.
5. Catat biaya transaksi dan pajak
Akumulasi biaya broker dapat menggerus hasil DCA bila frekuensi sangat tinggi. Pilih jadwal yang efisien secara biaya.
Baca juga: IHSG Anjlok, Ini yang Perlu Dilakukan Investor Pemula agar Tak Salah Langkah
6. Evaluasi horizon dan tujuan
DCA cocok untuk tujuan jangka panjang. Bila horizon Anda pendek, strategi ini mungkin kurang cocok untuk Anda.
Ilustrasi saham.
Risiko dan batasan DCA yang perlu dipahami
Sebelum menerapkan DCA, berikut beberapa risiko dan batasan yang perlu dipahami investor pemula.
1. Tidak menjamin profit
DCA hanya mengelola risiko timing. DCA tidak mengubah fundamental investasi.
Jika pasar turun karena penurunan fundamental perusahaan atau ekonomi yang berkepanjangan, DCA tetap membawa kerugian.
Baca juga: IHSG Anjlok 7,71 Persen, BEI: Kami Akan Koordinasi dengan Semua Pihak
2. Kinerja relatif terhadap lump-sum
Analisis historis menunjukkan lump-sum sering lebih menguntungkan, terutama di pasar yang naik. Investor harus menyadari trade-off ini.
3. Biaya transaksi
Membeli terlalu sering bisa menambah biaya. Hitung efek biaya terhadap hasil akhir.
4. Risiko psikologis tersisa
Meskipun DCA mereduksi tekanan timing, investor masih perlu disiplin saat pasar terus turun untuk tetap melanjutkan pembelian berkala.
Bagaimana menyesuaikan DCA dengan kondisi IHSG saat ini?
Situasi IHSG hari ini menunjukkan bahwa penurunan besar dapat dipicu oleh faktor struktural atau sentimen yang luas.
Baca juga: IHSG Anjlok, Pasar Merespons Pembekuan Indeks MSCI
Dalam kondisi seperti ini investor pemula yang memilih DCA dapat mempertimbangkan:
- Memperpanjang periode DCA, misal dari 6 bulan menjadi 12 bulan, untuk merespons ketidakpastian yang mungkin lebih berkepanjangan.
- Fokus pada instrumen yang lebih terdiversifikasi dibanding membeli saham tunggal yang berisiko mengalami volatilitas lebih ekstrem.
- Menetapkan aturan berhenti sementara yang jelas, misalnya jika fundamental berubah drastis, sehingga tidak otomatis terus membeli di pasar yang sedang runtuh karena alasan fundamental serius.
Dollar-cost averaging adalah alat, bukan jaminan, yang membantu investor pemula menghadapi volatilitas pasar dan tekanan psikologis saat indeks anjlok, termasuk dalam kondisi ekstrem seperti penurunan IHSG hari ini.
Tag: #ihsg #anjlok #dollar #cost #averaging #jadi #opsi #investor #pemula