Panic Selling Dorong IHSG Anjlok Lebih dari 7 Persen
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
20:45
28 Januari 2026

Panic Selling Dorong IHSG Anjlok Lebih dari 7 Persen

Pasar modal Indonesia kembali mengalami guncangan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok lebih dari 7%, memicu kepanikan luas di kalangan investor ritel.

Prof. Dr. Gema Goeyardi, Founder & CEO Astronacci International menyoroti tekanan besar terhadap IHSG kali ini dipicu oleh fenomena Defect System, yaitu kondisi pasar yang mendorong terjadinya panic selling secara masif, terutama pada saham-saham yang sebelumnya telah berada pada valuasi tinggi.

Ia menilai situasi ini memiliki kemiripan dengan kondisi pasar saat pengumuman Tariff War pada tahun 2025, ketika sentimen negatif menyebar secara luas tanpa disertai penyaringan fundamental yang memadai.

Meskipun tekanan pasar hari ini tergolong besar, Gema menegaskan bahwa investor ritel tidak perlu bereaksi secara panik. Dengan IHSG yang telah menyentuh area support penting di sekitar 8.242, terdapat peluang terjadinya rebound jangka pendek untuk menutup gap harga yang baru terbentuk.

“Pada titik ini, waktu dan harga bertemu. Oleh karena itu, kami menilai IHSG memiliki peluang untuk melakukan penguatan jangka pendek. Namun, investor tetap perlu waspada karena koreksi besar belum sepenuhnya selesai. Dalam kondisi seperti ini, strategi jauh lebih penting dibandingkan sekadar spekulasi,” tegasnya.

Dalam menghadapi kondisi pasar saat ini, Gema merekomendasikan beberapa langkah strategis, antara lain dengan memantau area support kunci dan menunggu konfirmasi rebound sebelum melakukan entry.

Menghindari saham-saham yang telah overvalued serta memfokuskan perhatian pada saham berfundamental kuat yang sedang berada pada harga diskon. Menggunakan pendekatan Time Trading untuk menentukan timing entry dan exit secara lebih terukur.

Di tengah tekanan penurunan IHSG, sektor perbankan justru masih berada dalam kondisi relatif underperform, sehingga berpotensi menjadi penopang stabilitas indeks ke depan.

Berbeda dengan saham-saham konglomerasi yang mayoritas telah berada pada kondisi overbought dan mulai menunjukkan tanda pelemahan, sektor perbankan dinilai masih memiliki ruang penguatan yang lebih sehat.

Salah satu saham yang menjadi perhatian adalah BBRI, yang dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan menuju area resistance di Rp4.060, selama harga mampu bertahan di atas support Rp3.440. Hal ini menjadikan saham perbankan sebagai pilihan defensif sekaligus oportunistik di tengah fase koreksi IHSG.

“Ketika investor ritel panik akibat pasar yang jatuh, time trader tidak ikut panik, karena kami memahami di mana dan kapan harga berpotensi berhenti turun,” ujar Gema.

Pada akhirnya, waktu dan strategi adalah kunci. Bukan siapa yang paling cepat panik, melainkan siapa yang paling siap ketika momentum datang.

 

Editor: Mohamad Nur Asikin

Tag:  #panic #selling #dorong #ihsg #anjlok #lebih #dari #persen

KOMENTAR