RI Bangun Pabrik Baja Baru di Purwakarta, Nilai Investasinya Rp 1,5 T
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat melepas ekspor delapan kontainer produk baja lapis dengan merek dagang Nexalume, Nexium, dan Nexcolor produksi PT Tata Metal Lestari (Tatalogam Group) dari pabrik baru mereka yang berada di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat, pada Jumat (21/6/2024) lalu. (DOK. TATA METAL LESTARI)
06:08
27 Januari 2026

RI Bangun Pabrik Baja Baru di Purwakarta, Nilai Investasinya Rp 1,5 T

- PT Tata Metal Lestari akan segera menambah kapasitas industri baja nasional melalui pembangunan pabrik baru di Purwakarta, Jawa Barat. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 yang digelar Senin (26/1/2026).

Fasilitas produksi ini dimiliki PT Tata Metal Lestari. VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, mengatakan pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat industri antara (midstream) baja nasional.

Fasilitas baru ini, lanjut Stephanus, akan memproduksi sebesar 250.000 ton baja lapis per tahun, yang akan melengkapi total produksi PT Tata Metal Lestari sebesar 500.000 ton baja lapis per tahun yang sebelumnya telah diproduksi di CGL 1 Cikarang, Bekasi.

“Industri antara memiliki peran krusial sebagai penghubung antara industri hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ungkap Stephanus dalam keterangan pers, Senin.

Tingkatkan produk baja berkualitas dalam negeri 

Produk baja lapis yang diekspor PT Tata Metal Lestari dan PT Krakatau Baja Industri ke AS.DOK. TATA METAL LESTARI Produk baja lapis yang diekspor PT Tata Metal Lestari dan PT Krakatau Baja Industri ke AS.Proyek CGL 2 menjadi bagian dari peta jalan perusahaan untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap dalam 10 tahun ke depan, sekaligus mendukung program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan menghadirkan produk Made in Indonesia berstandar global.

PT Tata Metal Lestari saat ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga telah mengekspor produk baja lapis ke 25 negara, termasuk ke pasar Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki standar kualitas tinggi.

Dalam pengembangan fasilitas tersebut, PT Tata Metal Lestari menggandeng Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, untuk memastikan penerapan teknologi terbaik yang efisien dan ramah lingkungan.

“Investasi ini juga menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission, melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” tambah Stephanus.

Investasi Rp 1,5 triliun

Selain memperkuat ketahanan industri nasional, kehadiran CGL 2 diharapkan memberikan multiplier effect bagi daerah, khususnya melalui penciptaan lapangan kerja baru serta penggerakan ekonomi lokal di Kabupaten Purwakarta dan Provinsi Jawa Barat.

“Ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan dari total Rp 1,5 triliun, yang akan menambah tenaga kerja sekitar 350 orang," lanjut Stephanus. 

"Proyek kami ini merupakan line pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga dapat meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkasnya.

Peran Kemenperin untuk industri baja nasional

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.Dok. Kemenperin Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.Lebih jauh, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan terus mendorong penguatan struktur industri logam nasional untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan mendukung agenda industrialisasi berkelanjutan.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Kemenperin mencatat, dalam lima tahun terakhir, produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 8,5 juta ton.

“Ini mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif,” kata Agus.

Guna memacu kinerja industri baja nasional, Kemenperin terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis, antara lain penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.

“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” tutur Menperin.

Kemenperin menyampaikan apresiasi kepada PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmennya dalam memperkuat industri baja nasional melalui investasi berkelanjutan.

Peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan fasilitas CGL 2 ini sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat kemandirian industri dan mendukung hilirisasi.

“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal, berdaya saing, serta memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan penguatan industri dalam negeri,” ujar Direktur Industri Logam Kemenperin Dodiet Prasetyo mewakili Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta pada acara groundbreaking fasilitas CGL 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.

Kemenperin optimistis, pembangunan fasilitas CGL 2 akan memperkuat ekosistem hulu hingga hilir di industri baja nasional sehingga dapat meningkatkan nilai tambah di dalam negeri dan mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.

“Melalui proyek ini tentu akan meningkatkan daya saing nasional, menciptakan job creation, dan juga pemberdayaan ekonomi lokal,” tambah Dodiet.

Tag:  #bangun #pabrik #baja #baru #purwakarta #nilai #investasinya

KOMENTAR