Harga Nikel Tertekan, INCO Andalkan Strategi Keberlanjutan
Aktivitas tambang PT Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan(KOMPAS.com/ANINGTIAS JATMIKA)
21:28
24 Januari 2026

Harga Nikel Tertekan, INCO Andalkan Strategi Keberlanjutan

- Saat tekanan harga nikel global yang dipicu oleh kelebihan pasokan (oversupply) dan ketidakpastian kebijakan, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menempatkan keberlanjutan atau sustainability sebagai strategi utama untuk menjaga daya saing dan nilai jangka panjang perusahaan.

Presiden Direktur INCO, Bernadus Irmanto, mengatakan, keberlanjutan atau sustainability bukan sekadar isu lingkungan, melainkan konsep finansial yang menentukan kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam siklus industri yang volatil.

Untuk menciptakan nilai tambah dalam jangka panjang, perusahaan tambang harus memastikan keberlanjutan operasionalnya.

Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila perusahaan memiliki license to operate, baik secara sosial maupun hukum.

Dalam konteks inilah praktik green mining menjadi elemen fundamental.

“Sebetulnya sustainability itu juga merupakan konsep finansial. Jadi it is financial terminology as much as it is environmental terminology,” ujar Bernadus saat kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

“Jadi kalau kita dalam tanda kutip ingin menghasilkan nilai tambah dalam jangka panjang dan tentu saja salah satu elemen dasar kita bisa beroperasi jangka panjang dan menghasilkan nilai jangka panjang tentu saja kita harus memiliki lisence sosial, kemudian lisence hukum, dan green mining salah satunya itu adalah elemen supaya kita bisa mendapatkan laisen tersebut,” paparnya.

Ia menyebut INCO tidak melihat green mining sebagai sesuatu yang bertentangan dengan upaya bertahan di tengah tekanan harga.

Menurutnya, tidak ada kontradiksi antara praktik pertambangan berkelanjutan dan strategi menjaga kinerja finansial perusahaan.

Justru sebaliknya, keberlanjutan menjadi fondasi utama agar perusahaan tetap relevan dan kompetitif ketika kondisi pasar memburuk.

Bernadus menguraikan pergerakan harga nikel pada dasarnya dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni kebijakan dan struktur biaya.

Dalam siklus industri nikel, pelaku usaha yang berpengalaman memahami harga bergerak naik dan turun secara periodik.

Pada titik tertentu, harga dapat jatuh ke level yang membuat sekitar separuh pemain berada dalam kondisi merugi atau under the water.

“Ketika harga nikel sudah menyentuh level tertentu, mungkin 50 persen pemain akan merugi. Di titik itu biasanya akan terjadi bounce back. Strateginya adalah memastikan perusahaan berada di cost curve produsen nikel kuartal satu, atau paling tidak di awal kuartal dua,” katanya.

Dengan berada di posisi biaya terendah, INCO menilai masih memiliki ruang untuk bertahan ketika mayoritas pemain industri berada di bawah tekanan.

Posisi tersebut juga memberi waktu dan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menunggu pemulihan harga tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar operasional.

Bernadus menolak pendekatan jangka pendek yang memangkas biaya dengan cara mengurangi elemen-elemen yang berkaitan dengan sustainability atau green mining.

Ia memandang langkah tersebut justru akan menggerus nilai jangka panjang perusahaan.

Tanpa green mining, INCO tidak hanya kehilangan legitimasi sosial dan hukum, tetapi juga kehilangan peluang untuk menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan.

“Jadi sekali lagi saya tegaskan kita tidak bisa kemudian mengkontradiksikan ya, kalau oh harga jatuh mari kita kemudian pangkas beberapa elemen biaya yang bersentuhan dengan sustainability atau green mining. Dan sekali lagi tanpa green mining kita juga dalam tanda kutip tidak bisa men-drive long term value dari perusahaan,” ungkap Bernadus.

Dalam menjaga struktur biaya tetap kompetitif, Vale Indonesia memiliki keunggulan strategis dibandingkan banyak pelaku industri nikel lainnya.

Perusahaan mengoperasikan tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi sumber utama pasokan energi untuk kegiatan operasional.

Energi dari PLTA tersebut dihasilkan dengan biaya yang sangat rendah, yakni di bawah 2 sen dollar AS per kilowatt hour (kWh). Angka ini jauh lebih murah dibandingkan biaya listrik sejumlah pelaku industri lain yang menggunakan sumber energi berbeda dengan biaya di atas 6-7 sen dollar AS per kWh.

Dengan biaya energi yang rendah, Vale memiliki ruang kompetitif yang lebih aman untuk mempertahankan praktik-praktik green mining tanpa tekanan biaya berlebih.

Bernadus menekankan keunggulan ini bukan hanya menjaga efisiensi, tetapi juga memberikan manfaat strategis lain bagi perusahaan.

Lebih jauh, ia menekan bahwa praktik keberlanjutan yang konsisten berdampak langsung pada terjaganya license to operate, sekaligus membuka peluang bisnis baru dan memberikan akses pasar yang lebih preferensial.

Dalam pasar global yang semakin selektif terhadap isu lingkungan dan tata kelola, faktor tersebut menjadi nilai tambah yang tidak bisa diabaikan.

Tag:  #harga #nikel #tertekan #inco #andalkan #strategi #keberlanjutan

KOMENTAR