Respons Anak Buah Bahlil soal Permintaan Tambahan Kuota Bijih Nikel INCO
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, di sela kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
15:12
24 Januari 2026

Respons Anak Buah Bahlil soal Permintaan Tambahan Kuota Bijih Nikel INCO

- Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, merespons permintaan tambahan kuota produksi bijih nikel yang diajukan Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Bernardus Irmanto kepada Komisi XII DPR RI.

“30 persennya di mana? Aku oke, untuk nikel mati semua sudah oke, semua 100 persen. Nah makanya saya tanya, yang 30 persen itu di mana?” ujar Tri saat ditemui di sela kegiatan Indonesia Weekend Miner di kawasan GBK, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).

Pernyataan tersebut merespons kekhawatiran Vale Indonesia yang menilai kuota produksi sekitar 30 persen, sebagaimana dipersepsikan perseroan, tidak cukup untuk memasok bijih nikel bagi proyek smelter perusahaan.

Vale saat ini tengah menggeber pembangunan tiga fasilitas pengolahan dan pemurnian, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan, IGP Morowali di Sulawesi Tengah, dan IGP Pomalaa di Sulawesi Tenggara.

Total investasi ketiga proyek hilirisasi tersebut diperkirakan mencapai 8,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 147 triliun.

“Kuotanya di mana? Yang kamu tahu di mana? Jadi biar saya memberikan penjelasan, kalau yang kamu tahu apa, jangan nanya sekadar ini. Penambahan kuota di mana?” paparnya.

Sebelumnya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Bernardus, menyampaikan kuota produksi yang disetujui pemerintah sekitar 30 persen dari volume yang diajukan.

Menurutnya, besaran tersebut berpotensi tidak mampu memenuhi komitmen pasokan bijih nikel ke pabrik-pabrik pengolahan.

“Saat ini kami sudah memperoleh approval atau persetujuan RKAB, namun demikian kuota yang diberikan kepada PT Vale sekitar 30 persen dari apa yang kami minta. Kemungkinan besar tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan,” ucap Bernardus.

Ia menegaskan, keterbatasan kuota itu kontras dengan kinerja produksi Vale yang dinilai solid.

Hingga November 2025, realisasi produksi bijih nikel mencapai 12,80 juta ton dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 sebesar 16,60 juta ton.

Target RKAP 2025 tersebut meningkat sekitar 9 persen dibandingkan realisasi produksi bijih nikel 2024 yang mencapai 15,20 juta ton.

Produksi nickel matte hingga November 2025 tercatat 66.848 ton atau tumbuh 3 persen secara tahunan.

Total penjualan matte sepanjang tahun berjalan mencapai 67.351 ton, naik sekitar 2 persen secara tahunan.

Vale juga mencatat penjualan bijih nikel saprolite dari Pomalaa dan Bahodopi mencapai 1.905.740 wet metric ton (wmt) hingga November 2025.

Bernardus berharap perseroan dapat mengajukan revisi RKAB agar volume produksi sejalan dengan kebutuhan operasional.

“Mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk mengajukan revisi RKAB dan juga mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan pemegang saham,” ujarnya.

Kebutuhan bijih nikel Vale diperkirakan melonjak seiring target penyelesaian proyek high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa dan Morowali yang dijadwalkan mencapai mechanical completion pada 2026.

Proyek Pomalaa saja diproyeksikan membutuhkan sekitar 21 juta ton limonit per tahun, sementara Morowali sekitar 10,4 juta ton limonit per tahun.

Tag:  #respons #anak #buah #bahlil #soal #permintaan #tambahan #kuota #bijih #nikel #inco

KOMENTAR