Seluruh Korban ATR 42-500 Ditemukan, Proses Identifikasi, dan Black Box Dibedah
- Upaya pencarian dan investigasi kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Sulawesi Selatan terus menunjukkan perkembangan.
Seluruh korban telah berhasil ditemukan dan saat ini tengah menjalani proses identifikasi oleh tim berwenang.
Di sisi lain, tim investigasi juga sedang melakukan pembedahan black box untuk menelusuri secara perinci rangkaian peristiwa yang menyebabkan pesawat tersebut jatuh.
Tim SAR gabungan akhirnya menemukan korban terakhir pesawat ATR 42-500 di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Jumat (23/1/2026).
Sejumlah korban telah berhasil diidentifikasi, di antaranya Florencia Lolita Wibisono, pramugari berusia 33 tahun yang menjadi korban pertama teridentifikasi melalui pencocokan sidik jari, data gigi, dan properti pribadi.
Selain itu, jenazah Deden Maulana juga telah selesai menjalani proses identifikasi dan dipulangkan ke pihak keluarga pada 23 Januari 2026.
Sementara itu, Tim DVI Polda Sulawesi Selatan terus melanjutkan proses identifikasi terhadap korban lainnya agar dapat segera diserahkan kepada keluarga masing-masing.
Proses Identifikasi Korban
Hingga Jumat (23/1/2026), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan masih terus melakukan proses identifikasi terhadap seluruh korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung.
Dari total 10 korban yang berada di dalam pesawat, yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), seluruh jenazah telah berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan.
Proses identifikasi dilakukan secara bertahap menggunakan metode medis, sidik jari, data odontologi, serta pencocokan properti yang melekat pada korban, mengingat sebagian jenazah berada dalam kondisi sulit dikenali secara fisik.
Dengan penemuan ini, seluruh korban yang berjumlah 10 orang dinyatakan telah ditemukan.
Korban terakhir dilaporkan ditemukan sekitar pukul 09.16 WITA oleh Tim Elang 5 dari Yonif 700 Raider Kodam XIV/Hasanuddin yang tergabung dalam operasi SAR bersama. “Tadi dipastikan baru bisa berkomunikasi detail dengan koordinatnya pukul 09.16 WITA, 10 korban telah ditemukan,” kata Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Priyo Hadi kepada wartawan di Posko Tompo Bulu, Kecamatan Pangkep, Jumat.
Selama 7 Hari Pencarian Korban
Dalam 7 hari pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, Tim SAR juga turut melibatkan Agam Rinjani (Abdul Haris Agam) dalam operasi pencarian.
Agam Rinjani difokuskan pada teknik vertical rescue untuk mengevakuasi korban di medan yang sangat terjal dan jurang yang sulit dijangkau oleh tim biasa pada 21-22 Januari 2026.
Dody menerangkan, selama tujuh hari pencarian, semua properti penting pesawat dan semua korban ATR 42-500 telah berhasil ditemukan. “Alhamdulillah hari ke-7 kita bisa temukan seluruhnya, baik benda penting yang di pesawat maupun seluruh korban dan tepat dengan sandi hari ini kita gunakan sandi sapu bersih, Allah meridohi sandi tersebut,” ujarnya.
Menurut Dody, korban terakhir ditemukan berdekatan dengan enam korban lain yang lebih dahulu ditemukan. “Kami plotting dan kami tadi juga konfirmasi sambil proses tadi, diinformasikan posisi satu areal dengan yang enam kemarin ditemukan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, posisi korban berada di area tebing curam atau jurang gunung yang berdekatan dengan aliran air sehingga menyulitkan proses evakuasi. “Lokasinya di cekungan tebing atau jurang seperti sungai, kalau ada hujan menjadi aliran air, tapi posisinya di darat,” bebernya.
Dody memastikan proses evakuasi tetap dilakukan dengan teknik khusus. “Tapi tetap menggunakan teknik khusus namun masih proses, jadi bayangkan satu areal saja dia arus turun lagi dalam corak cekungan jurang,” ucapnya.
Dody menambahkan, dari lima korban yang ditemukan sebelumnya, dua korban telah mendekati titik penjemputan dan sudah sampai di lanud, sementara tiga korban lainnya masih dalam proses evakuasi. “Untuk evakuasi yang lima kemarin, dua sudah sampai di lanud. Masih kita tunggu tiga yang belum (evakuasi) yang kemarin dan sekarang dua paket masih proses untuk didekatkan ke titik penjemputan heli,” ujarnya.
Bedah Black Box
Sementara itu, kunci dari penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 yaitu black box juga sudah ditemukan secara lengkap.
Black box saat ini berada pada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk kemudian dilakukan proses investigasi terkait penyebab kecelakaan pesawat. “Ditemukannya black box ini dimaksudkan adalah untuk menjawab tentang ini, apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut,” kata Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono dalam keterangan resminya, di kantor Basarnas Makassar, Kamis (22/1/2026).
Soerjanto menjelaskan bahwa black box pesawat terdiri dari dua jenis perangkat, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). Channel pertama adalah komunikasi antara pesawat dengan pengawas atau ATC.
Channel kedua adalah komunikasi antara pilot, channel ketiga adalah komunikasi dari kokpit ke kabin, channel keempat adalah suara yang ada di dalam kokpit.
Dia bilang, segala macam suara yang ada di dalam kokpit juga ikut terekam.
Dan apa pun pembicaraan antara pilot juga akan terekam. “Nah itu juga menjadi satu bahan untuk investigasi. Seluruh percakapan pilot serta berbagai suara di dalam kokpit terekam dan akan menjadi bahan penting dalam proses investigasi,” ujarnya.
Sementara itu, Flight Data Recorder menyimpan sekitar 88 parameter data penerbangan, seperti ketinggian, kecepatan, dan berbagai data teknis lainnya. “Semua data ini akan membantu kami mengetahui secara akurat apa yang terjadi pada pesawat sebelum kecelakaan,” jelasnya.
Analisis data FlightAware yang dioverlay dengan peta AIP Indonesia runway 21 Makassar.
Black Box Berwarna Oranye
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa istilah black box bukanlah berwarna hitam, melainkan perangkat berwarna oranye.
Disebut black box karena isi dari rekaman belum dapat diketahui. “Disebut black box karena sebelum dibuka dan dianalisis, isinya memang belum diketahui. Bukan karena warnanya hitam,” katanya.
Soerjanto menegaskan bahwa tujuan utama investigasi KNKT adalah untuk mendapatkan lesson learned atau pembelajaran agar kecelakaan serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Hasil investigasi KNKT nantinya berupa laporan lengkap dan rekomendasi keselamatan. Jika dalam prosesnya kami memandang perlu adanya rekomendasi segera, maka KNKT akan mengeluarkan rekomendasi tersebut tanpa menunggu laporan akhir,” katanya.
Dengan ditemukannya kedua black box tersebut, KNKT optimistis dapat mengungkap segera penyebab kecelakaan secara obyektif dan berbasis data, bukan sekadar perkiraan.
“Kondisi lokasi penemuan sangat ekstrem dan sebelumnya kami memperkirakan sulit untuk menemukannya. Alhamdulillah, dengan doa dan kerja keras bersama, kedua black box berhasil ditemukan sebelum operasi SAR berakhir,” ungkapnya.
Kronologi Singkat
Sebelumnya, kecelakaan pesawat ATR 42-500 bermula pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat pesawat yang dioperasikan PT Indonesia Air Transport dan dicarter Kementerian Kelautan dan Perikanan menjalankan misi surveillance dari Yogyakarta menuju Makassar.
Pesawat membawa 10 orang, terdiri dari tujuh awak dan tiga penumpang dari KKP, dan lepas landas pukul 08.08 WIB.
Setibanya di wilayah Makassar, pesawat bersiap melakukan pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Pada pukul 12.23 WIT, ATC Makassar mengarahkan pesawat menuju landasan pacu runway 21.
Namun, petugas mendeteksi pesawat tidak berada di jalur pendekatan yang semestinya dan memberikan instruksi koreksi posisi.
Tak lama kemudian, komunikasi antara pesawat dan ATC terputus, sehingga ATC Makassar langsung menetapkan status darurat (distress phase) sesuai prosedur keselamatan penerbangan.
Tag: #seluruh #korban #ditemukan #proses #identifikasi #black #dibedah