Rupiah Melemah, Ekonom Perkirakan BI Rate Bakal Dipertahankan di 4,75 Persen
Ilustrasi suku bunga. (SHUTTERSTOCK/MONSTER ZTUDIO)
08:32
21 Januari 2026

Rupiah Melemah, Ekonom Perkirakan BI Rate Bakal Dipertahankan di 4,75 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com - Para ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, melihat tren BI rate sepanjang tahun 2025 kemarin, BI cenderung akan mempertahankan BI rate.

Tercatat selama 2025, BI telah menurunkan BI rate sebanyak lima kali dengan total penurunan sebesar 125 basis poin (bps) dari 6 persen menjadi 4,75 persen.

"Kalau melihat bagaimana kebijakan BI selama lebih dari satu tahun terakhir, itu kan cenderung untuk menurunkan atau paling tidak mempertahankan, tidak menaikkan," ujar Faisal kepada Kompas.com, Selasa (20/1/2026).

Faisal mengungkapkan, saat ini arah kebijakan BI adalah pro growth alias kebijakan yang diambil bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Untuk mendorong ekonomi itu maka dibutuhkan suku bunga acuan yang rendah atau longgar.

Oleh karenanya, Faisal meyakini BI rate akan dipertahankan meski saat ini nilai tukar rupiah tengah melemah mendekati level Rp 17.000 per dollar AS.

Dalam kondisi normal, seharusnya bank sentral menaikkan suku bunganya agar nilai tukar mata uang dapat menguat.

"Walaupun kalau kita melihat dari pergerakan rupiah ini Indonesia termasuk yang mengalami depresiasi di antara mata uang di emerging markets. Tapi dorongan untuk pro-growth masih kuat. Nah lalu kalau begitu memang opsi untuk menaikkan tingkat suku bunga ini kemungkinan tidak mudah," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, BI masih akan mempertahankan BI rate di level 4,75 persen pada bulan ini.

Perkiraan ini karena mempertimbangkan tekanan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati Rp 17.000 per dollar AS.

"Saat rupiah sedang tertekan, pemangkasan suku bunga berisiko menambah tekanan pada kurs karena daya tarik imbal hasil aset rupiah mengecil, sementara pelemahan kurs dapat merembet ke kenaikan harga barang impor dan mengganggu pembentukan ekspektasi inflasi, sehingga BI cenderung lebih memilih mengamankan stabilitas terlebih dulu," jelasnya, Selasa.

Di sisi lain, data domestik juga belum memberi sinyal perlambatan yang tajam sehingga perlu segera ditopang lewat pemangkasan suku bunga.

Hal ini terlihat dari data BI terkait kegiatan dunia usaha pada Kuartal IV 2025 yang masih terjaga dan diperkirakan akan membaik pada Kuartal I 2026.

Kemudian PMI industri pengolahan berada di fase ekspansi, keyakinan konsumen tetap tinggi, dan penjualan eceran masih tumbuh secara tahunan.

Untuk itu, menurutnya, peluang pemangkasan BI Rate kecil selama nilai tukar rupiah masih melemah.

Ruang pemangkasan BI rate akan lebih realistis jika tekanan kurs mereda, arus dana kembali membaik, dan arah inflasi semakin jelas terkendali.

"Sehingga penurunan suku bunga tidak dibaca pasar sebagai pengabaian stabilitas," imbuhnya.

Tag:  #rupiah #melemah #ekonom #perkirakan #rate #bakal #dipertahankan #persen

KOMENTAR