Pabrik Pengolahan Kelapa Perusahaan China di Morowali Beroperasi Tahun Ini
Ilustrasi kelapa, (PIXABAY/MOHAN NANNAPANENI)
07:48
20 Januari 2026

Pabrik Pengolahan Kelapa Perusahaan China di Morowali Beroperasi Tahun Ini

- Pabrik pengolahan kelapa yang dibangun perusahaan China, Zhejiang FreeNow Food di Morowali, Sulawesi Tengah dijadwalkan mulai beroperasi 2026.

Perusahaan China itu berinvestasi ke Indonesia seiring permintaan produk kelapa di Negeri Tirai Bambu ini yang terus melonjak.

Adapun Indonesia menjadi negara pengekspor kelapa bulat terbesar di dunia.

Badan Karantina Indonesia melaporkan, kelapa bulat telah diekspor ke 100 negara. Di antara ratusan negara tersebut China menjadi tujuan ekspor utama.

Pengolahan kelapa dan produk turunannya memang menjadi salah satu program hilirisasi Presiden Prabowo Subianto.

Pemerintah bahkan telah menyusun Peta Jalan Pengembangan Hilirisasi Industri Kelapa Tahun 2025-2045.

Mengutip dari AsiaNews Network, pabrik yang dibangun Zhejiang FreeNow Food di Morowali, Sulawesi Tengah akan mengolah minyak kelapa murni, santan, dan gula kelapa. Hasilnya akan diekspor ke China.

Menteri Investasi, Rosan Perkasa Roeslani pada awal Desember lalu menyebut, pabrik yang dibangun FreeNow di Morowali itu bisa mengolah 500 juta butir kelapa per tahun dan menyerap 10.000 tenaga kerja.

“Insyaallah pada pertengahan tahun 2026 ini pabriknya akan selesai di daerah Morowali, dan itu akan menyerap 500 juta butir kelapa setiap tahunnya," kata Rosan dalam Rapat Kerja di Komisi XII, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, sebagaimana dikutip Senin (19/1/2026).

Dalam mewujudkan investasi pengolahan kelapa itu, FreeNow telah meneken kesepakatan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah.

Kepulauan Banggai diketahui merupakan salah satu pusat produsen kelapa di Sulawesi Tengah.

Dalam kesepakatan itu, FreeNow menyediakan bibit kelapa unggul untuk petani yang didistribusikan melalui koperasi desa.

Dana Jumbo untuk Hilirisasi Kelapa

Pemerintah Indonesia memang memberikan perhatian khusus ke hilirisasi kelapa.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli hasan (Zulhas) bahkan menyebut, kebun kelapa saat ini lebih menguntungkan dibandingkan sawit.

Menurunnya, harga kelapa saat ini sudah menyentuh Rp 12.000 per butir.

Kelapa bulat yang dijual salah satu pedagang di Pasar Rumput, Jakarta, Rabu (2/4/2025).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Kelapa bulat yang dijual salah satu pedagang di Pasar Rumput, Jakarta, Rabu (2/4/2025).Lonjakan harga itu salah satunya dipicu permintaan yang tinggi dari China. Di negara ini, penyajian kopi tidak lagi menggunakan susu, melainkan santan dari kelapa.

“Oleh karena itu kelapa kita di mana-mana dikejar sekarang,” kata Zulhas dalam 16th Kompas 100 CEO Forum Powered by PLN 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025).

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menyebut, nilai ekspor produk kelapa meningkat hingga 50 kali lipat jika pemerintah menerapkan program hilirisasi.

Saat ini, kata Amran, nilai ekspor kelapa Indonesia mencapai Rp 24 triliun per tahun, menjadi yang terbesar di dunia.

“Nah, ini kita hilirisasi kalau sesuai diagram pohon industri, itu bisa 100 kali lipat. Artinya apa? Bisa Rp 2.400 triliun, tapi itu secara teori,” ujar Amran di kantornya, Jakarta, Jumat (7/11/2026).

“Bisa saja hanya 50 persen, 50 kali lipat, atau 20 kali lipat,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Rosan menyebut, hilirisasi kelapa bahkan bisa menyerap pekerja lebih besar daripada sektor pertambangan.

Menurutnya, meskipun nilai investasi sektor pertambangan besar, namun serapan tenaga kerjanya masih kalah dibanding hilirisasi pertanian dan peternakan.

“Dari segi investasinya di satu industri ini mungkin lebih banyak di mineral. Tetapi, justru dari penciptaan lapangan pekerjaannya itu jauh lebih tinggi jauh lebih tinggi penciptaan lapangan pekerjaan di hilirisasi pertanian dan perkebunan,” kata Rosan.

Tag:  #pabrik #pengolahan #kelapa #perusahaan #china #morowali #beroperasi #tahun

KOMENTAR