Purbaya Akui Kebijakan Likuiditas Sempat Tak Optimal
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui kebijakan injeksi likuiditas senilai Rp 200 triliun yang dirancang pemerintah sempat tidak berjalan seefektif perhitungan awal.
Kondisi tersebut terjadi lantaran dana yang ada justru kembali terserap oleh Bank Indonesia (BI), sehingga pertumbuhan uang primer (base money) tidak bertahan lama.
“Hitungan saya Rp 200 triliun itu menimbulkan pertumbuhan uang M0 sekitar 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun tumbuh double digit juga. Tapi karena mungkin ada miskomunikasi, atau sinyal saya tidak diikuti, penyerapan baru mulai bertahap di minggu-minggu berikutnya,” ujar Purbaya saat ditemui di Menara IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, penyerapan likuiditas baru berlangsung secara berangsur sejak pekan kedua September 2025, di mana BI mulai menyerap kembali likuiditas tersebut secara bertahap hingga berlanjut ke bulan-bulan berikutnya.
Akibatnya, pada satu titik pertumbuhan base money justru kembali turun mendekati nol.
“Itu yang membuat kebijakannya tidak seefektif yang saya rencanakan,” kata dia.
Tak hanya itu, Purbaya juga menyinggung adanya jeda waktu (delay) dalam pemantauan data sebagai salah satu faktor yang memperlambat respons kebijakan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa koordinasi dengan bank sentral kini telah diperbaiki. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI), kata Purbaya, sudah menemukan titik keseimbangan kebijakan yang lebih selaras demi menjaga stabilitas pasar keuangan.
Purbaya optimistis kondisi pasar saat ini sudah berada di jalur yang lebih aman. Ia menilai sinyal pemulihan paling cepat dapat dilihat dari pergerakan pasar keuangan, khususnya pasar modal dan obligasi, yang biasanya merespons lebih dahulu dibandingkan sektor perbankan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN KiTa edisi Desember di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Ia mencontohkan, ketika likuiditas mulai membaik, sebagian dana biasanya lebih dulu masuk ke pasar saham dan pasar obligasi.
Hal tersebut tercermin dari pergerakan indeks saham dan penurunan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah.
Menurut Purbaya, perbaikan di pasar keuangan tersebut menjadi indikasi awal bahwa transmisi kebijakan mulai berjalan.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa pasar saham masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan, meskipun diwarnai fluktuasi jangka pendek.
“Stock market naik, walaupun nanti bisa turun lagi sebentar. Tapi saya yakin akan naik lebih tinggi dari itu,” tandasnya