Pertumbuhan Ekonomi 2025 Diprediksi Meleset dari Target Pemerintah, Kenapa?
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Media asing soroti pertumbuhan ekonomi Indonesia.(PIXABAY)
14:04
12 Januari 2026

Pertumbuhan Ekonomi 2025 Diprediksi Meleset dari Target Pemerintah, Kenapa?

Para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 akan berada di bawah target pemerintah yang dipatok sebesar 5,2 persen.

Kuartal terakhir memang biasanya dinilai sebagai periode yang positif karena adanya peningkatan aktivitas ekonomi, terutama dengan sentimen libur Natal dan Tahun Baru.

Namun demikian, masih terdapat faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025 seperti sektor pertambangan dan industri padat karya.

IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen.

Adapun secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menunjukkan perbaikan setiap kuartalnya.

Pada kuartal I-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,87 persen, meningkat menjadi 5,12 persen pada kuartal II, dan sebesar 5,04 persen pada kuartal III-2025.

Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2025 akan berkisar antara 5,0 sampai dengan 5,2 persen secara year-on-year (YoY).

Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi secara tahunan (full year) pada 2025 akan berada di kisaran 5 persen.

"Oleh karenanya, kalau dibandingkan dengan target pada APBN 2025 yang mana secara full year ditargetkan 5,2 persen, saya rasa capaiannya masih akan berada di bawah target," ujar dia kepada Kompas.com, Senin (12/1/2025).

Ia menjelaskan, beberapa faktor penopang yang menjadi dasar atas proyeksi tersebut adalah konsumsi yang terlihat masih solid pada triwulan keempat tahun ini.

Hal ini terlihat dari beberapa indikator seperti indeks keyakinan konsumen yang telah kembali rebound setelah tertekan hingga September 2025 lalu dan indeks penjualan ritel yang terus mengalami akselerasi pertumbuhan.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Kedua indikator tersebut menunjukkan bahwa kondisi sektor konsumsi Indonesia masih berada dalam kondisi yang solid.

Kemudian indikator membaiknya kondisi konsumsi dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya juga terlihat dari penjualan mobil yang sudah bangkit dan mulai tumbuh positif, serta penjualan sepeda motor yang terus terakselerasi.

Kenaikan penjualan pada durable goods ini menunjukkan keyakinan konsumen bahwa kondisi ekonomi akan membaik ke depan.

"Karena pembelian durable goods seperti ini biasanya dilakukan jika konsumen benar-benar yakin bahwa prospek ekonomi akan membaik," ujar dia.

Selain itu, Suhindarto mengungkapkan, pulihnya penjualan mobil juga menunjukkan bahwa kelas menengah sudah kembali memiliki kepercayaan (confidence) yang baik untuk meningkatkan konsumsinya.

Di sisi lain, akselerasi penjualan sepeda motor menunjukkan soliditas konsumen kelas menengah-ke bawah masih terus terjaga dan relatif membaik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Efek liburan akhir tahun dorong ekonomi

Terkait efek liburan akhir tahun, ia melihat bahwa hal tersebut berdampak positif pada konsumsi masyarakat, tetapi tidak sampai dominan.

Menurut dia, periode liburan akhir tahun yang juga didorong stimulus oleh pemerintah tidak berdampak besar bagi perekonomian nasional.

Hal tersebut terbukti dari data proporsi pengeluaran masyarakat untuk konsumsi yang jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, kenaikannya relatif tidak besar.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Dunia usaha mulai bangkit

Kemudian dari sisi dunia usaha, Suhindarto melihat kondisinya juga sudah relatif lebih baik dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya.

PMI manufaktur yang terekspansi pada 5 bulan terakhir setelah sebelumnya mengalami kontraksi sejak April hingga Juli menunjukkan bahwa kondisi sektor manufaktur mengalami perbaikan.

Pemangkasan suku bunga acuan yang sudah dilakukan sebesar 125 basis poin (bps) oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun ini membuat para perusahaan meningkatkan belanja modalnya.

Emiten pede gelontorkan belanja modal

Ketika melihat data dari perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) saja, pada kuartal III-2025 lalu belanja modal mereka terpantau tumbuh 15,07 persen secara tahunan (YoY).

Selain karena didorong oleh biaya dana yang sudah relatif menjadi semakin murah, kenaikan belanja modal ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin yakin bahwa prospek permintaan pada triwulan-triwulan selanjutnya, termasuk triwulan keempat akan menjadi semakin baik.

"Sehingga mereka meningkatkan kapasitasnya untuk menjawab permintaan yang membaik tersebut," ujar dia.

Lebih lanjut, dari sisi fiskal defisit Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) yang melebar dan mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan kenaikan realisasi belanja sekitar 3 persen akan dapat memberikan dorongan bagi ekonomi secara keseluruhan.

Kemudian dari sisi perdagangan internasional, surplus sepanjang Januari-November 2025 yang tumbuh 31,8 persen secara tahunan (YoY) menunjukkan bahwa sisi net ekspor akan mampu memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi.

Ilustrasi ekspor.SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.

Padahal kinerja ekspor masih dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang relatif menantang.

Sektor tambang hingga konstruksi masih tertekan

Adapun berdasarkan sektor lapangan usahanya, ia melihat bahwa kontribusi dari sektor-sektor yang mengalami tekanan sepanjang tiga kuartal sebelumnya masih akan berlanjut.

Sebagai contoh, sektor pertambangan dan penggalian hingga saat ini masih dihadapkan pada lemahnya permintaan global dan tekanan harga komoditas yang berlanjut.

Selain itu, sektor jasa keuangan dan asuransi juga masih berada pada kondisi yang menantang seiring dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang relatif lebih lambat jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sektor konstruksi dan real estate juga diperkirakan masih dalam kondisi yang relatif menantang.

Tantangan di sektor konstruksi hadir dari pergeseran fokus kebijakan pemerintah yang sudah tidak lagi menitikberatkan pembangunan infrastruktur.

Ia menjelaskan, sektor properti atau real estate juga masih dihadapkan pada pertumbuhan yang terbatas seiring dengan permintaan yang masih belum pulih dan suku bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) yang masih relatif tinggi.

Khusus untuk sektor padat karya, Suhindarto melihat tanda-tanda pemulihannya sudah mulai muncul. Salah satu indikatornya adalah PMI Manufaktur yang sudah kembali ke level ekspansi selama lima bulan beruntun.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan yang relatif banyak menyerap tenaga kerja sudah mulai pulih.

Kondisi ini juga didukung dari data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) yang memperlihatkan bahwa pemutusan hubungan kerja hingga November 2025 terus berada dalam tren penurunan.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.SHUTTERSTOCK/DAVID CARILLET Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi biasanya di bawah target

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, biasanya pertumbuhan ekonomi riil di bawah target yang telah ditetapkan.

"Kalau memang bisa tercapai 5,45 persen itu capaian lebih baik daripada kuartal sebelumnya," ujar dia kepada Kompas.com.

Menurut Esther, hal ini didukung efek musiman yaitu meningkatnya konsumsi di libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Masyarakat lebih banyak berwisata di dalam negeri dengan top destinasi Jawa," ungkap dia.

Di sisi lain, sektor yang belum optimal mendukung pertumbuhan ekonomi adalah industri manufaktur yang terus mengalami penurunan omzet.

Hal itu masih diperparah dengan adanya beberapa pabrik yang tumbang dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Menurut Esther, ke depan perlu optimalisasi sektor lainnya seperti sektor pariwisata, pertanian, transportasi, hingga jasa.

"Rata-rata capaian pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal I-III 2025 adalah sebesar 5,01 persen. Artinya untuk mencapai target pertumbuhan 5,2 persen pada 2025 membutuhkan upaya lebih kencang," ungkap dia.

Sektor padat karya belum pulih

Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy menjelaskan, hingga kuartal IV-2025 belum terlihat andanya tanda-tanda bangkitnya sektor padat karya.

"Saya pikir belum ada tanda-tanda sektor padar karya sudah bangkit, yang terjadi malah sebaliknya," ungkap dia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026. PEXELS/TOM FISK Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026.

Adapun, efek liburan Nataru memang menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan terakhir 2025 yang lalu.

Budi sendiri memandang konservatif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 dengan kisaran 5,2 persen.

"Prediksi saya paling di 5,2 persen," ujar dia.

Pemerintah turunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2025

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan tidak mencapai target awal di kisaran 5,7 sampai 6 persen.

Purbaya menyebutkan, berdasarkan proyeksi terbaru, pertumbuhan ekonomi pada akhir 2025 diperkirakan berada di level sekitar 5,45 persen.

“Kira-kira 5,45 persen kalau tidak ada perubahan. Di bawah janji saya, tapi lumayanlah, masih lebih tinggi dibandingkan triwulan-triwulan sebelumnya,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Meski lebih rendah dari target awal, Purbaya menilai capaian tersebut tetap menunjukkan perbaikan dibandingkan kinerja ekonomi pada kuartal-kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat sebesar 4,87 persen, meningkat menjadi 5,12 persen pada kuartal II, dan sebesar 5,04 persen pada kuartal III 2025.

Sebelumnya, Purbaya percaya diri asumsi makro ekonomi APBN 2025 masih berada dalam koridor pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia bergerak sesuai target, meski sejumlah indikator menunjukkan deviasi.

Purbaya menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 berada di level 5,2 persen. Inflasi tercatat sedikit melampaui target. Hingga Desember 2025, inflasi mencapai 2,92 persen.

Asumsi APBN menetapkan inflasi di level 2,5 persen. Kondisi itu dipengaruhi kebijakan harga serta penguatan peran Perum Bulog.

Nilai tukar rupiah juga melemah dibandingkan proyeksi awal. Asumsi APBN 2025 mematok kurs rupiah Rp 16.000 per dollar AS.

Realisasi pada akhir 2025 mencapai Rp 16.475 per dollar AS. Pergerakan kurs, menurut Purbaya, dipengaruhi perang dagang serta dinamika kebijakan global dan domestik.

Tag:  #pertumbuhan #ekonomi #2025 #diprediksi #meleset #dari #target #pemerintah #kenapa

KOMENTAR