Kenapa Kredit Nganggur di Perbankan Tinggi?
Fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) atau kredit nganggur tengah menjadi sorotan beberapa waktu terakhir lantaran nilainya terus meningkat.
Bank Indonesia (BI) mencatat, tingkat kredit menganggur atau undisbursed loan pada Agustus 2025 sebesar Rp 2.372,11 triliun. Lalu meningkat menjadi Rp 2.374,8 triliun dan Rp 2.450,7 triliun pada September dan Oktober 2025.
Kemudian pada 2025, tingkat kredit nganggur kembali meningkat menjadi Rp 2.509,4 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Lantas, apa yang menyebabkan kredit nganggur di perbankan menjadi tinggi?
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 Jumat (28/11/2025). Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, tingginya kredit nganggur di perbankan terjadi karena permintaan kredit yang masih lesu karena para pelaku usaha tengah berhati-hati untuk mengambil kredit.
Adapun rasio undisbursed loan terbesar ada pada sektor industri, pertambangan, jasa dunia usaha, dan perdagangan, dengan jenis kredit modal kerja.
Selain itu, lambatnya transmisi penurunan suku bunga acuan BI ke bunga kredit juga menyebabkan undisbursed loan tinggi. Sebab dengan bunga kredit yang tinggi menyebabkan debitur enggan mengambil kredit karena cicilan menjadi lebih mahal.
BI mencatat, penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat, yaitu sebesar 24 basis poin (bps) dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,96 persen pada November 2025.
Sementara sejak September 2024, BI-Rate telah turun sebesar 150 bps, yaitu 25 bps pada September 2024 dan 125 bps selama tahun 2025 menjadi 4,75 persen hingga November 2025, yang merupakan level terendah sejak 2022.
"Permintaan kredit terindikasi belum kuat dipengaruhi oleh perilaku wait and see dari pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang masih lambat," ujarnya saat konferensi pers RDG BI, Rabu (17/12/2025).
Perilaku masyarakat yang berhati-hati untuk mengambil kredit juga diamini oleh Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Steffano Ridwan. Steffano bilang, nasabah Maybank Indonesia cenderung menggunakan fasilitas kredit ketika dibutuhkan saja.
"Memang kami melihat juga banyak nasabah yang lebih hati-hati menggunakan fasilitas kreditnya, sesuai dengan kondisi dari kebutuhan mereka. Karena fasilitas dipakai berdasarkan kebutuhan, pada saat kebutuhan baru dipakai," ucap Steffano di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Kendati demikian, dia menyebut, secara garis besar tingkat pencairan pinjaman (disbursed loan) Maybank Indonesia dalam level yang stabil.
Pihaknya juga masih optimistis penyaluran kredit tahun ini dapat tumbuh sebesar 9-10 persen dari realisasi tahun sebelumnya.
"Kalau kita lihat cukup stabil disbursed loan kita dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Utilisasi kami sekitar 50-60 persen," kata Steffano.
Permintaan kredit melemah
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai permintaan kredit saat ini tengah melemah. Kondisi tersebut tercermin dari tren pertumbuhan kredit yang melambat sepanjang 2025.
Berdasarkan data BI, pertumbuhan kredit pada Januari 2025 masih berada di level 10,27 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pada bulan-bulan berikutnya laju pertumbuhan tersebut cenderung mengalami penurunan hingga mencapai 7,74 persen (yoy) pada November 2025.
"Masalah pertumbuhan kredit rendah ini dipengaruhi dari sisi permintaan, bukan dari sisi likuiditas seperti yang selalu dikatakan Menkeu Purbaya. Permasalahan ini sudah terlihat dalam setahun ke belakang ketika perekonomian lesu, daya beli melemah, yang membuat orang cenderung berpikir berkali-kali untuk berhutang," ujar Nailul kepada Kompas.com, dikutip Senin (29/12/2025).
Menurut Nailul, melemahnya permintaan kredit tersebut sejalan dengan tingginya tingkat undisbursed loan di perbankan.
Besarnya fasilitas kredit yang belum ditarik menunjukkan bahwa debitur sebenarnya telah memiliki akses pendanaan, namun memilih menahan pencairan karena mempertimbangkan kondisi usaha dan prospek ekonomi ke depan.
"Undisbursed loans yang tinggi menjadi tanda lemahnya permintaan kredit," kata dia.
Dia menambahkan, pelaku usaha masih cenderung menunggu momentum yang lebih pasti, baik dari sisi pemulihan daya beli maupun penurunan bunga kredit yang lebih signifikan.
"Saat ini, lag penurunan suku bunga acuan ke suku bunga efektif masih terlampau panjang. Jadi pengusaha juga wait n see ke suku bunga efektif," ungkapnya.
Pendapat OJK
Kendati demikian, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menilai, tingginya undisbursed loan justru menunjukkan masih adanya ruang penarikan kredit yang dapat dimanfaatkan debitur untuk ekspansi usaha.
"Dengan adanya komitmen kredit/pembiayaan yang besar tersebut, terdapat potensi peningkatan realisasi kredit di masa mendatang," ungkap Dian dalam jawaban tertulis RDKB OJK November 2025.
OJK memperkirakan pertumbuhan undisbursed loan akan mengalami moderasi seiring dengan penyesuaian strategi bisnis bank.
Optimisme tersebut ditopang oleh pemulihan sejumlah sektor ekonomi dan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang akan meningkatkan efek multiplier ke konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha.
"Dengan posisi ini, sektor perbankan nasional dinilai tetap memiliki ruang untuk mendukung pembiayaan produktif, selama disertai dengan pendekatan yang cermat terhadap risiko dan arah kebijakan ekonomi ke depan," tuturnya.