Kondisi Ekonomi Venezuela, Inflasi Tinggi hingga Tembus 500 Persen
— Setelah sempat melambat pada 2024, laju inflasi Venezuela pada 2025 kembali menjadi sorotan di tengah ketergantungan ekonomi pada minyak dan dinamika hubungan yang kian konfrontatif dengan Amerika Serikat (AS).
Di pasar-pasar kota besar seperti Caracas, perubahan kurs bolivar terhadap dollar AS kembali cepat merembet ke harga kebutuhan pokok.
Ini adalah pola yang sudah akrab di negara yang pernah mengalami hiperinflasi dan kini masih bertahan dengan “dollarisasi” de facto pada banyak transaksi ritel.
Warga Venezuela bersuka ria merayakan penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh militer AS. Mereka meluapkan suka cita di Doral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026).
Gambaran inflasi Venezuela: data terbatas, proyeksi melebar
Gambaran inflasi Venezuela hingga 2025 menjadi rumit karena terbatasnya data resmi. Reuters melaporkan, bank sentral Venezuela tidak menerbitkan data inflasi sejak Oktober 2024.
Dalam kekosongan itu, proyeksi lembaga internasional dan estimasi lembaga pemantau independen menjadi rujukan banyak pelaku usaha serta analis.
Pada Desember 2025, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa inflasi tahunan Venezuela bisa berakhir di sekitar 548 persen pada akhir 2025.
Dalam laporan ekonomi pemerintah Swiss (SECO) yang terbit Agustus 2025, inflasi Venezuela disebut diperkirakan kembali tinggi pada 2025.
IMF memproyeksikan inflasi Venezuela mencapai 254 persen, sementara badan internasional lain disebut memperkirakan hingga sekitar 530 persen pada akhir tahun, dengan perbedaan metode di antara lembaga-lembaga pemantau, termasuk perkiraan lebih rendah dari Observatorio Venezolano de Finanzas (OVF) dan Cedice Libertad.
Ilustrasi inflasi.
OVF, misalnya, melalui survei ekspektasi ekonomi Mei 2025, mencatat median proyeksi inflasi akhir 2025 sekitar 215 persen, dengan rentang 205 sampai 240 persen, bersamaan dengan proyeksi pelemahan kurs ke sekitar 187 bolivar per dollar AS pada 31 Desember 2025.
Di sisi lain, laporan Reuters pada Februari 2025, ketika Washington memperketat kebijakan perizinan minyak, menggambarkan risiko inflasi yang melonjak seiring menyusutnya pasokan valas.
Perbedaan angka-angka itu menunjukkan satu benang merah.
Pemicu utama inflasi Venezuela hingga tahun 2025 banyak ditautkan ke ketersediaan dollar AS di pasar domestik.
Ini pada akhirnya sangat bergantung pada ekspor minyak dan skema transaksi yang diizinkan atau dibatasi oleh sanksi AS.
Dollar AS, minyak, kurs bolivar, dan harga yang cepat menular
Venezuela masih mengandalkan minyak sebagai sumber utama devisa. Ketika aliran dollar AS dari ekspor minyak menipis atau menjadi lebih mahal, tekanan langsung terasa pada kurs bolivar, lalu berpindah ke harga barang impor maupun barang domestik yang menggunakan komponen impor.
Reuters pada Februari 2025 melaporkan, pembatalan lisensi minyak oleh Presiden AS Donald Trump akan mengurangi dollar yang ditawarkan di pasar valas Venezuela, mendorong depresiasi bolivar dan kenaikan harga.
Dalam laporan yang sama, ekonom OVF Jose Guerra menyampaikan dampak berantai jika lisensi minyak dihentikan.
“Jika izin produksi minyak ditangguhkan, akan ada dampaknya, hal itu akan memengaruhi arus mata uang asing dan akan terjadi devaluasi lebih lanjut,” kata Guerra, dikutip dari Reuters.
Pun ia menyinggung potensi turunnya produksi, penerimaan royalti dan pajak, serta efek terhadap nilai tukar.
Tekanan kurs juga terindikasi pada pertengahan 2025. Laporan OVF yang dikutip Financial Times, inflasi tahunan Venezuela melonjak dari sekitar 51 persen menjadi 229 persen pada Mei 2025, ketika bolivar merosot dan pemerintah menangkap puluhan orang terkait situs kurs pasar gelap.
Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.
2025, Venezuela di bawah tekanan berat
Ketegangan dengan Washington pada 2025 tercermin dalam beberapa episode kebijakan yang langsung menempel pada nadi ekonomi Venezuela, yaitu minyak.
Pada 24 Maret 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menyatakan negara mana pun yang membeli minyak atau gas dari Venezuela akan dikenai tarif 25 persen pada perdagangan dengan AS.
Pada saat yang sama, tenggat wind down operasi Chevron di Venezuela juga diperpanjang.
Langkah berikutnya muncul dalam dinamika izin perusahaan migas. Akhir Juli 2025, Chevron memperoleh izin AS secara terbatas untuk beroperasi di Venezuela, dengan ketentuan bahwa tidak ada uang dari hasil penjualan minyak yang dapat ditransfer kepada pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Reuters juga mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan AS tidak akan membiarkan pemerintah Maduro memperoleh keuntungan dari penjualan minyak.
Memasuki akhir tahun, tekanan meningkat lewat kebijakan yang lebih langsung pada arus ekspor. Pada 17 Desember 2025, Washington memerintahkan blokade kapal-kapal tanker minyak yang berada di bawah sanksi, yang dinilai pelaku usaha dan analis dapat menekan pasokan valuta asing, dalam bentuk tunai maupun kripto, ke sektor swasta.
Kondisi ini kemungkinan memicu inflasi. Menurut perkiraan IMF, inflasi tahunan Venezuela berpotensi menutup tahun di sekitar 548 persen.
SECO, dalam laporan Agustus 2025, juga mencatat bahwa sanksi sektoral AS pada ekspor minyak Venezuela memaksa Venezuela menjual minyak ke pasar informal, terutama Asia, dengan diskon tajam.
Pemerintah Venezuela klaim pemulihan ekonomi
Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat berpidato di hadapan massa pendukungnya dalam kampanye menjelang pemilihan kepala daerah di Caracas, 22 Mei 2025. Maduro ditangkap AS pada 3 Januari 2026. Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap AS dan Tuduhan yang Menjeratnya
Di tengah tekanan harga, pemerintah Venezuela tetap menonjolkan narasi pemulihan. Reuters pada Desember 2025 melaporkan, Maduro mengatakan ekonomi Venezuela akan tumbuh 9 persen pada akhir 2025.
Menurut Maduro, ekonomi Venezuela kemungkinan tumbuh 7 persen pada 2026.
Namun, perdebatan soal kinerja ekonomi Venezuela juga mengemuka lewat data utang dan ukuran ekonomi.
IMF memperkirakan PDB nominal Venezuela sekitar 82,8 miliar dollar AS pada 2025, dengan rasio utang terhadap PDB diperkirakan mencapai 180 sampai 200 persen.
Sejumlah analis memperkirakan Venezuela memiliki sekitar 60 miliar dollar AS obligasi gagal bayar yang masih beredar, sementara total utang eksternal, termasuk utang BUMN minyak Venezuela PDVSA dan kewajiban lain, diperkirakan mencapai 150 miliar hingga 170 miliar dollar AS.
Dampak sosial: daya beli terkikis dan kerentanan pangan
Di luar angka makro, tekanan inflasi diterjemahkan menjadi penurunan daya beli rumah tangga yang kronis, terutama karena upah dalam mata uang lokal sulit mengejar kenaikan harga.
Associated Press melaporkan keluarga-keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan harian, di tengah inflasi yang tinggi dan upah yang runtuh, dengan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan.
Kondisi sosial ini menjadi latar yang membuat setiap guncangan kurs dan harga pada 2025 terasa cepat menyebar, baik melalui kenaikan harga pangan, biaya transportasi, maupun biaya layanan dasar.
Tag: #kondisi #ekonomi #venezuela #inflasi #tinggi #hingga #tembus #persen