Wall Street Ditutup Melemah, Tarif Trump dan Ancaman AI Picu Kepanikan
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup ke zona merah pada perdagangan Senin (23/2/2026) waktu setempat.
Tekanan dipicu dua sentimen besar yang membayangi pasar: kekhawatiran disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia usaha dan langkah Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif global.
Mengutip CNBC pada Selasa (24/2/2026), indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 821,91 poin atau 1,66 persen ke level 48.804,06. Nasdaq Composite turun 1,13 persen menjadi 22.627,27, sementara S&P 500 terkoreksi 1,04 persen ke posisi 6.837,75 dan kembali masuk zona negatif sepanjang 2026.
Penurunan Dow terutama dipicu oleh merosotnya saham IBM hingga 13 persen setelah perusahaan AI Anthropic mengumumkan kemampuan pemrograman baru untuk produk Claude Code. Sentimen ini memperkuat kekhawatiran bahwa gelombang AI berpotensi mendisrupsi model bisnis sejumlah perusahaan teknologi.
Baca juga: MA Batalkan Sebagian Besar Tarif Trump, Wall Street Langsung Melaju
Tekanan juga terlihat pada saham-saham perangkat lunak. Microsoft melemah 3 persen dan CrowdStrike terperosok hampir 10 persen. Kekhawatiran dampak AI tidak hanya menghantam sektor teknologi, tetapi juga merembet ke sektor truk dan logistik, properti komersial, hingga jasa keuangan yang juga mencatat pelemahan sepanjang bulan ini.
Kecemasan pasar meningkat setelah Citrini Research merilis kajian yang memperkirakan ledakan AI dapat mendorong tingkat pengangguran hingga 10 persen. Laporan tersebut menjadi salah satu pemicu pelemahan saham sektor keuangan. American Express turun 7 persen, sedangkan Mastercard melemah hampir 6 persen.
Di tengah tekanan tersebut, sektor defensif seperti kebutuhan pokok konsumen justru mencatat kinerja positif. Saham Walmart dan Procter & Gamble masing-masing naik lebih dari 2 persen.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Bikin Wall Street Anjlok
Di sisi lain, gejolak kebijakan tarif kembali memicu ketidakpastian.
Trump menegaskan akan menaikkan tarif global menjadi 15 persen dari sebelumnya 10 persen, serta memperingatkan negara-negara yang dianggap “bermain-main” dalam hubungan dagang dengan AS. Kebijakan ini muncul setelah Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan tarif “resiprokal” yang sebelumnya diberlakukan.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran di Eropa. Parlemen Eropa bahkan mengumumkan penundaan proses ratifikasi perjanjian perdagangan antara AS dan Uni Eropa.
Kondisi ini juga mendorong lonjakan harga emas sebagai aset lindung nilai. Harga emas spot naik lebih dari 2 persen, sementara kontrak berjangka emas melonjak lebih dari 3 persen di tengah meningkatnya ketidakpastian inflasi dan pertumbuhan global.
Baca juga: Wall Street Menguat, Saham Amazon Lanjutkan Kenaikan
Analis menilai volatilitas akibat tarik-ulur kebijakan tarif, yang diberlakukan berdasarkan Section 122 Trade Act 1974 dan memungkinkan presiden mengenakan tarif selama 150 hari tanpa persetujuan kongres, berpotensi terus membayangi pasar hingga akhir tahun.
“Pertanyaan besar bagi perekonomian adalah apa yang akan terjadi setelah periode ini berakhir. Jika kebijakan tarif tetap berjalan di jalur seperti sekarang, sangat mungkin kita akan kembali menghadapi proses di Mahkamah Agung pada akhir tahun ini,” ujar Michael Landsberg, Chief Investment Officer Landsberg Bennett Private Wealth Management.
Menurutnya, tarik-ulur kebijakan tarif kemungkinan akan terus menjadi tema yang mengganggu pasar hingga sisa tahun ini, meskipun volatilitasnya diperkirakan tidak sebesar guncangan awal yang terjadi pada April lalu.
“Tarik-ulur kebijakan tarif kemungkinan besar akan terus menjadi isu yang mengganggu pasar sepanjang sisa tahun ini, meskipun tingkat volatilitasnya diperkirakan tidak sebesar guncangan awal yang terjadi pada April lalu,” paparnya.
Tag: #wall #street #ditutup #melemah #tarif #trump #ancaman #picu #kepanikan