IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global
Baliho tentang Selat Hormuz bertuliskan Selamanya di Tangan Iran dipasang di depan patung Arash Sang Pemanah di Lapangan Vanak, Teheran, saat difoto pada 25 Mei 2026.(AFP/ATTA KENARE)
19:16
1 Juni 2026

IEA, Bank Dunia, IMF, dan WTO Kompak Wanti-wanti Risiko Krisis Energi Global

Empat lembaga internasional, yakni Badan Energi Internasional (IEA), Dana Moneter Internasional (IMF), Grup Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyoroti dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan energi, perdagangan global, hingga stabilitas ekonomi dunia.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis seusai pertemuan pada Kamis (28/5/2026), para pimpinan keempat lembaga tersebut menegaskan, konflik yang berlangsung telah memicu tekanan besar terhadap pasar energi global.

Dikutip dari laman resmi IMF, Senin (1/6/2026), keempat lembaga menyatakan konflik di Timur Tengah berpotensi memperdalam kerentanan ekonomi di banyak negara, terutama negara pengimpor energi dan negara berpendapatan rendah.

Baca juga: Selat Hormuz Tak Lagi Sama Setelah Perang Iran

Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.

Pernyataan tersebut menandai semakin eratnya koordinasi antarorganisasi internasional dalam merespons dampak ekonomi global yang muncul akibat gejolak geopolitik.

Sebelumnya, pada April 2026, IEA, IMF, dan World Bank telah membentuk kelompok koordinasi untuk menyelaraskan respons terhadap dampak perang di Timur Tengah terhadap sektor energi dan perekonomian dunia.

Dampak tidak merata ke berbagai negara

Dalam pernyataan bersama itu, para pimpinan lembaga internasional menyebut dampak perang bersifat “substansial, global, dan sangat tidak merata”.

Negara-negara yang bergantung pada impor energi disebut menjadi kelompok yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi dan gangguan pasokan.

Baca juga: Trump Desak Selat Hormuz Dibuka, Iran Bahas Kendali Pelayaran

Menurut mereka, tekanan tersebut tidak hanya muncul melalui kenaikan harga minyak dan gas, tetapi juga melalui lonjakan harga pupuk yang kemudian berpotensi memengaruhi harga pangan global.

Dampak lanjutan terhadap lapangan pekerjaan, aktivitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat juga menjadi perhatian utama.

Kapal induk USS Gerald R Ford saat bertugas di Laut Merah@navalinstitute Kapal induk USS Gerald R Ford saat bertugas di Laut Merah

IEA, IMF, Bank Dunia, dan WTO menilai ketidakpastian yang berkepanjangan dapat memperburuk prospek ekonomi global yang saat ini masih berupaya mempertahankan momentum pemulihan.

Meski ekonomi dunia dinilai masih menunjukkan ketahanan, keempat lembaga tersebut mengingatkan tekanan yang ditimbulkan konflik berisiko lebih besar dirasakan oleh negara-negara yang memiliki ruang fiskal terbatas serta ketergantungan tinggi terhadap impor energi dan bahan baku.

Baca juga: Harga Minyak Turun 1,7 Persen Usai Trump Berniat Akhiri Perang Iran

Harga energi jadi sorotan

Salah satu fokus utama dalam pernyataan bersama itu adalah kondisi pasar energi global.

Konflik di Timur Tengah dinilai telah menimbulkan gangguan signifikan terhadap rantai pasok energi dunia.

Dalam pernyataan sebelumnya yang diterbitkan pada April 2026, IEA, IMF, dan Bank Dunia bahkan menyebut perang tersebut memicu salah satu kekurangan pasokan energi terbesar dalam sejarah pasar energi global.

Dampak tersebut tercermin dari kenaikan harga energi yang sempat terjadi setelah konflik meningkat.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Masih Bergejolak, Ketidakpastian AS-Iran Bayangi Harga BBM Global

Harga minyak mentah Amerika Serikat sempat menembus level 110 dollar AS per barrel pada awal April 2026 di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan yang lebih luas.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap inflasi global.

Selain meningkatkan biaya transportasi dan produksi industri, lonjakan harga energi juga dapat memperbesar biaya produksi sektor pangan melalui kenaikan harga pupuk dan logistik.

Koordinasi antarorganisasi internasional dinilai penting untuk memantau perkembangan pasar sekaligus membantu negara-negara anggota menghadapi tekanan ekonomi yang muncul.

Baca juga: Emas Dunia Menguat usai Trump Pertimbangkan Gencatan Senjata AS-Iran

Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

Koordinasi respons global

Pernyataan bersama terbaru melanjutkan upaya koordinasi yang telah dibangun sejak awal April 2026.

Saat itu, pimpinan IEA, IMF, dan World Bank sepakat membentuk kelompok koordinasi yang bertugas memaksimalkan respons terhadap dampak energi dan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.

Kelompok tersebut dibentuk untuk memantau perkembangan situasi, menyelaraskan analisis, serta mengoordinasikan dukungan kebijakan kepada negara-negara yang terdampak.

Mereka menyatakan, pada masa ketidakpastian tinggi, kolaborasi antarlembaga internasional menjadi faktor penting untuk membantu pemerintah mengambil langkah yang tepat dalam menjaga stabilitas ekonomi dan energi.

Kelompok koordinasi tersebut juga ditugaskan untuk menilai tingkat keparahan dampak di berbagai negara dan kawasan, mengoordinasikan mekanisme respons, serta memobilisasi berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan dukungan kepada negara yang membutuhkan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun saat AS-Iran Tempuh Jalur Diplomasi Lagi

Masuknya WTO dalam pernyataan bersama terbaru menunjukkan bahwa perhatian tidak lagi terbatas pada sektor energi dan keuangan, tetapi juga mencakup implikasi terhadap perdagangan internasional.

Risiko terhadap perdagangan global

Keterlibatan WTO mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berimbas terhadap arus perdagangan dunia.

Sebagai lembaga yang mengatur dan memfasilitasi perdagangan internasional, WTO memiliki peran penting dalam memantau dampak gejolak ekonomi terhadap perdagangan lintas negara.

Gangguan pasokan energi dan kenaikan biaya produksi berpotensi meningkatkan biaya perdagangan global.

Baca juga: Perang Iran Telan Biaya hingga Rp 800 Triliun, Pentagon Kesulitan Dana

Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, dunia usaha juga menghadapi risiko meningkatnya volatilitas pasar serta terganggunya rantai pasok internasional.

Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.

Karena itu, koordinasi antara lembaga yang fokus pada energi, keuangan, pembangunan, dan perdagangan dipandang penting untuk menghasilkan respons yang lebih terintegrasi terhadap tantangan yang muncul.

Fokus pada negara rentan

Dalam berbagai pernyataannya, lembaga-lembaga tersebut secara konsisten menyoroti kondisi negara-negara berkembang dan berpendapatan rendah.

Menurut mereka, kelompok negara ini menghadapi risiko yang lebih besar karena ketergantungan terhadap impor energi dan keterbatasan kemampuan fiskal untuk meredam lonjakan harga.

Baca juga: Konflik Iran Ubah Jalur Energi Dunia, UEA Percepat Pipa Minyak Baru

Kenaikan biaya energi dan pangan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap masyarakat, dunia usaha, serta keuangan pemerintah.

Pernyataan bersama juga menegaskan komitmen untuk terus memantau dampak perang terhadap pasar energi, ekonomi global, dan kondisi masing-masing negara.

Mereka menyatakan akan terus mengoordinasikan respons dan dukungan kepada negara-negara anggota dengan melibatkan organisasi internasional lain sesuai kebutuhan.

Dalam pernyataan pada April 2026, para pimpinan lembaga internasional menyebut upaya tersebut bertujuan membantu membangun fondasi pemulihan yang tangguh sekaligus mendukung stabilitas, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.

Baca juga: Harga Minyak Mentah RI Melonjak Jadi 117 Dollar AS Per Barrel Imbas Konflik Timur Tengah

Sinyal kekhawatiran global

Pernyataan bersama yang melibatkan IEA, IMF, World Bank, dan WTO menunjukkan meningkatnya perhatian komunitas internasional terhadap dampak ekonomi dari konflik geopolitik.

Selain memengaruhi pasar energi, perang di Timur Tengah dinilai memiliki konsekuensi yang lebih luas terhadap inflasi, perdagangan, ketahanan pangan, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Karena itu, koordinasi lintas lembaga internasional dipandang menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko yang dapat muncul akibat ketidakpastian global yang berkepanjangan.

Keempat lembaga menegaskan komitmen untuk terus bekerja sama dalam memantau perkembangan situasi, menyelaraskan analisis, dan mendukung negara-negara yang menghadapi dampak paling besar dari gejolak energi dan ekonomi global saat ini.

Tag:  #bank #dunia #kompak #wanti #wanti #risiko #krisis #energi #global

KOMENTAR