Ekonomi Thailand Diprediksi Terlemah dalam Hampir 30 Tahun, Ada Apa?
Ilustrasi Thailand. Thailand akan meminta pelancong asing wajib menunjukkan bukti telah divaksinasi Covid-19 penuh sebelum terbang ke Thailand.(WIKIMEDIA COMMONS/CEPHOTO, UWE ARANAS)
14:04
7 Januari 2026

Ekonomi Thailand Diprediksi Terlemah dalam Hampir 30 Tahun, Ada Apa?

Ekonomi Thailand memasuki tahun 2026 dengan bayang-bayang tantangan berat.

Sejumlah ekonom dan lembaga keuangan sepakat bahwa perekonomian Negeri Gajah Putih berada pada fase paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir, di luar periode krisis besar.

Tekanan eksternal dan kerentanan domestik dinilai membentuk badai sempurna yang berisiko menggagalkan momentum pemulihan ekonomi.

Ilustrasi Thailand.freepik Ilustrasi Thailand.

Dikutip dari The Nation Thailand, Rabu (7/1/2026), konsensus proyeksi terbaru menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Thailand pada 2026 hanya berada di kisaran 1,5 sampai 1,8 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi Thailand tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan sekitar 2 persen pada 2025, dan menjadi yang terlemah dalam hampir tiga dekade di luar masa krisis.

Konsensus langka tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi Thailand

Dalam keselarasan pandangan yang jarang terjadi, lembaga-lembaga utama memberikan proyeksi yang relatif seragam.

Bank sentral Thailand, Bank of Thailand (BoT) memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 1,6 persen pada 2026, turun dari sekitar 2,2 persen pada 2025.

Proyeksi ini mencerminkan lemahnya permintaan global, dampak lanjutan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS), serta penguatan nilai tukar baht.

Ilustrasi Thailand.shutterstock.com/Nott+Sutthipong Ilustrasi Thailand.

Sementara itu, Pusat Intelijen Ekonomi SCB atau SCB EIC memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 1,5 persen pada 2026, dari sekitar 2 persen pada 2025.

Proyeksi tersebut menandai tingkat pertumbuhan terendah dalam tiga dekade terakhir di luar periode krisis.

“Ekonomi Thailand pada tahun 2026 mungkin hanya tumbuh sekitar 1,5 persen, yang terlemah dalam tiga dekade di luar periode krisis,” ujar Thitima Chucherd, Direktur Riset Ekonomi dan Bisnis SCB EIC.

Ia menekankan, dampak lanjutan tarif AS, fragmentasi perdagangan global, serta melemahnya momentum ekspor menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan.

Tujuh aspek penentu arah ekonomi Thailand 2026

Para ekonom merangkum prospek ekonomi Thailand ke dalam tujuh aspek kunci yang akan menentukan apakah perekonomian mampu bertahan atau justru terperosok dalam stagnasi berkepanjangan.

1. Ketahanan ekspor di tengah perang dagang

Ekspor Thailand diperkirakan berisiko terkontraksi hingga 1,5 persen pada 2026 akibat tarif AS, meningkatnya persaingan global, serta perlambatan ekonomi dunia.

Yanyong Thaicharoen, Wakil Presiden Eksekutif SCB EIC, menyebut kombinasi kenaikan tarif AS dan penguatan baht berpotensi mendorong sejumlah komoditas ekspor Thailand ke zona kontraksi.

Sektor ekspor, yang menyumbang porsi besar terhadap PDB Thailand, menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari memudarnya efek lonjakan impor pasca-kenaikan tarif AS, meningkatnya risiko bea masuk tambahan khususnya pada produk elektronik dan barang transit, hingga persaingan ketat dari China setelah kesepakatan dagang sementara dengan AS.

Pariwisata, yang sebelumnya menjadi motor pertumbuhan ekonomi Thailand, juga dinilai belum sepenuhnya pulih.

Ilustrasi Chatuchak Weekend Market di Thailand.Dok. Wikimedia Commons/John Harrison Ilustrasi Chatuchak Weekend Market di Thailand.

Jumlah wisatawan asing diperkirakan meningkat menjadi sekitar 34,1 juta orang pada 2026, namun pertumbuhannya hanya sekitar 4 persen dan masih di bawah level sebelum pandemi Covid-19.

Penguatan mata uang baht, persaingan pariwisata regional, serta kekhawatiran keamanan akibat ketegangan perbatasan Thailand–Kamboja turut membebani sektor ini.

2. Beban utang rumah tangga dan konsumsi

Utang rumah tangga tetap menjadi salah satu risiko domestik terbesar bagi ekonomi Thailand. Rasio utang terhadap pendapatan masih tinggi, dengan risiko pembayaran utang meluas hingga kelompok berpendapatan menengah dan tinggi.

Survei Konsumen SCB EIC 2025 menunjukkan pertumbuhan pendapatan rumah tangga tertinggal dari kenaikan pengeluaran, terutama pada kelompok berpenghasilan rendah.

Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) masih tinggi, mendorong rumah tangga menahan konsumsi demi mengurangi utang.

“Pengurangan utang rumah tangga merupakan kendala domestik utama yang akan meredam konsumsi swasta pada tahun 2026,” terang Thaicharoen.

3. Prospek investasi swasta di tengah ketidakpastian

Investasi swasta diperkirakan hanya tumbuh moderat pada 2026, terutama didorong investasi asing di sektor-sektor yang mendapat insentif dari Badan Investasi Thailand, seperti pusat data, peralatan listrik dan elektronik, serta otomotif yang menyasar pasar ASEAN.

Namun, para ekonom menilai manfaat domestiknya terbatas karena tingginya kandungan impor, khususnya dari China.

Di sisi lain, investasi bisnis domestik pada mesin dan konstruksi diperkirakan terus terkontraksi akibat permintaan lemah, utilisasi kapasitas rendah, serta meningkatnya beban utang.

Ilustrasi suku bunga.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga.

4. Efektivitas pelonggaran kebijakan moneter

BoT telah menurunkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen pada akhir 2025.

SCB EIC memperkirakan suku bunga masih akan dipangkas hingga 1,0 persen pada semester I 2026 guna menurunkan biaya pembiayaan, menekan penguatan baht, dan mendorong inflasi yang diperkirakan hanya sekitar 0,5 persen.

Namun, para ekonom menilai pelonggaran moneter saja tidak cukup. Akses kredit bagi rumah tangga dan UMKM diprediksi tetap terbatas karena kondisi keuangan yang rapuh dan sikap hati-hati perbankan.

“Keberhasilan langkah-langkah keuangan ini harus sejalan dengan kebijakan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan memperkuat daya saing UKM,” ungkap para analis.

5. Dampak ketidakpastian politik

Pembubaran parlemen Thailand pada 12 Desember 2025 memicu ketidakpastian politik yang memengaruhi implementasi kebijakan fiskal.

Pencairan belanja investasi pada tahun fiskal 2026 diperkirakan lebih rendah, sementara penyusunan RUU Anggaran 2027 berpotensi tertunda.

Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) memasukkan ketidakpastian politik sebagai salah satu dari empat risiko utama 2026, bersama tarif AS, perlambatan global, dan tingginya utang swasta.

6. Dorongan reformasi struktural

Sejumlah ekonom menilai reformasi struktural semakin tak terelakkan.

Pemerintah Thailand didorong mempercepat kebijakan peningkatan produktivitas dan daya saing, termasuk melalui inisiatif Reinvent Thailand yang bertujuan menghilangkan hambatan investasi dan mendorong industri bernilai tambah.

Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand. Turis China ramai-ramai batalkan liburan ke Thailand. SHUTTERSTOCK/CRAIG SCHULER Ilustrasi pemandangan kota Bangkok, Thailand. Turis China ramai-ramai batalkan liburan ke Thailand.

Chucherd menyebut 2026 sebagai tahun transisi yang krusial, di tengah risiko pemulihan global berbentuk “K” yang dapat memperlebar kesenjangan antara sektor ekspor dan domestik Thailand.

7. Sektor industri yang bertahan

Sektor industri Thailand diperkirakan menghadapi lima tantangan utama pada 2026, yakni volatilitas rantai pasok global, lemahnya daya beli rumah tangga, ketidakpastian kebijakan, persaingan ketat, dan tekanan megatren.

Industri manufaktur, terutama elektronik, otomotif, petrokimia, dan baja, serta real estat dinilai paling rentan.

Sebaliknya, peluang masih terbuka bagi bisnis yang mampu beradaptasi melalui inovasi teknologi, keberlanjutan, dan pemanfaatan pasar dengan potensi pertumbuhan tinggi.

Sektor jasa seperti pariwisata dan ritel diperkirakan tetap tumbuh meski dibayangi ketidakpastian.

Kondisi global kurang mendukung

Tantangan domestik Thailand berlangsung di tengah perlambatan ekonomi global. SCB EIC memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 2,5 persen pada 2026 dari 2,7 persen pada 2025.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,0 persen pada 2026, yang mengindikasikan permintaan eksternal yang lebih lemah.

Di AS, bank sentral Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan memangkas suku bunga sekitar 50 basis poin sebelum mempertahankan level yang relatif tinggi.

Bank Sentral Eropa (ECB) diproyeksikan menjaga suku bunga di 2 persen sepanjang 2026, sementara bank sentral Jepang (BoJ) diperkirakan melanjutkan kenaikan bertahap hingga sekitar 1,25 persen pada pertengahan tahun.

Para ekonom juga mengidentifikasi empat risiko global utama bagi Thailand pada 2026, yakni ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, meningkatnya ketegangan geopolitik, potensi volatilitas pasar keuangan global akibat koreksi aset terkait AI, serta dampak perubahan iklim yang dapat mengganggu produksi dan rantai pasok.

Tag:  #ekonomi #thailand #diprediksi #terlemah #dalam #hampir #tahun

KOMENTAR