Cetak Rekor Tertinggi Baru, IHSG Ditutup Menguat ke Level 8.933
Penutupan IHSG pada Selasa (6/1/2026).(TANGKAPAN LAYAR GOOGLE FINANCE)
16:28
6 Januari 2026

Cetak Rekor Tertinggi Baru, IHSG Ditutup Menguat ke Level 8.933

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High/ATH), pada penutupan perdagangan Selasa (6/1/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) IHSG ditutup menguat 74,42 poin atau 0,84 persen ke posisi 8.933,61. Sepanjang hari, indeks bergerak di zona positif dan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 8.940,11, sementara level terendah tercatat di 8.839,01.

Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia berlangsung ramai. Volume perdagangan mencapai 67,16 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp33,44 triliun.

Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 428 saham menguat, 256 saham melemah, dan 127 saham stagnan. Kenaikan IHSG turut mendorong kapitalisasi pasar BEI ke posisi Rp 16.336,87 triliun.

Secara sektoral, bahan baku menguat 3,35 persen, industri naik 2,14 persen, energi menguat 1,62 persen, teknologi naik 1,57 persen, properti bergerak positif 1,34 persen, infrastruktur menguat 0,86 persen, barang konsumsi non-primer naik 0,73 persen.

Kemudian, sektor keuangan menguat 0,66 persen, barang konsumsi primer (siklikal) bertambah 0,22 persen, dan kesehatan naik tipis 0,17 persen. Satu-satunya sektor yang berada di zona merah adalah transportasi, yang terkoreksi 0,89 persen.

Untuk diketahui, kekhawatiran pasar akibat meningkatnya tensi geopolitik menyusul langkah Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela tidak sepenuhnya menjadi momok bagi pelaku pasar. Alih-alih panik, investor justru menunjukkan sikap optimistis.

Sikap tersebut tercermin dari kinerja bursa saham global yang solid, termasuk Indonesia, yang mencatatkan sejarah baru dengan IHSG menembus level tertinggi sepanjang masa.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan pelaku pasar global belum melihat eskalasi geopolitik saat ini sebagai ancaman serius. Investor justru cenderung optimistis terhadap prospek pemulihan ekonomi.

“Tampaknya pelaku pasar dan investor tidak begitu peduli dengan situasi dan kondisi yang ada, karena mereka optimis terhadap pemulihan ekonomi atau bahkan tidak terlalu mempermasalahkan langkah Amerika Serikat,” ujar Nico.

Ia menambahkan, harga minyak juga tidak menunjukkan gejolak berarti meskipun tensi geopolitik meningkat. Menurutnya, cadangan minyak global masih dinilai cukup terjaga sehingga tidak memicu lonjakan harga, berbeda dengan respons pasar pada konflik geopolitik sebelumnya.

Sebaliknya, aset lindung nilai justru mengalami kenaikan. Harga emas tercatat melonjak signifikan sebagai respons atas meningkatnya tensi geopolitik. Kondisi ini membuka peluang bagi saham-saham berbasis emas untuk kembali dilirik investor.

Di sisi lain, pasar obligasi juga menunjukkan kinerja positif meski penguatannya terbatas. Nico menilai peluang kenaikan lanjutan masih terbuka, baik di pasar saham maupun obligasi, seiring terjaganya sentimen risiko (risk-on) investor.

Dari sisi data ekonomi Amerika Serikat, indikator terbaru menunjukkan gambaran yang beragam. ISM Manufacturing Index tercatat turun tipis dari 48,2 menjadi 47,9, menandakan aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi. Namun, beberapa komponennya menunjukkan perbaikan.

“Apa yang bisa dilihat saat ini, ISM Manufacturing memang turun dari 48,2 menjadi 47,9, sementara ISM Prices Paid relatif stabil di level 58,5,” jelas Nico.

Lebih jauh, ISM New Orders justru naik tipis dari 47,4 menjadi 47,7, diikuti ISM Employment yang meningkat dari 44 menjadi 44,9. Data tersebut mengindikasikan bahwa meski tekanan masih terasa, arah pemulihan ekonomi AS mulai terbentuk secara bertahap.

Tag:  #cetak #rekor #tertinggi #baru #ihsg #ditutup #menguat #level #8933

KOMENTAR