Gen Z dan Gen Alpha Lebih Peka Terhadap Emosi, Ini Penyebabnya
– Generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha dinilai lebih sadar dan terbuka dalam memahami emosi dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya lebih mudah mengekspresikan perasaan, tetapi juga lebih terbiasa membicarakan kesehatan mental secara terbuka.
Psikiater anak dan remaja Zishan Khan mengatakan, generasi saat ini memiliki lebih banyak ruang untuk mengenali dan membahas emosi sejak dini.
“Mereka memiliki lebih banyak bahasa, alat, dan izin untuk membicarakan perasaan dibandingkan generasi sebelumnya,” ungkap Khan, seperti dikutip dari Parents, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkembang dalam beberapa dekade terakhir.
Baca juga: Curhat Anak di Second Account Jadi Celah Masuknya Pelaku Child Grooming
Perubahan Pola Asuh
Pola asuh modern membuat anak lebih terbiasa mengenali dan mengekspresikan emosi sejak dini.
Pada masa lalu, orangtua cenderung lebih fokus pada kedisiplinan dan ketahanan fisik, sementara aspek emosional kurang mendapat perhatian.
Hal ini membuat generasi sebelumnya tidak terbiasa mengekspresikan atau mengelola emosi secara terbuka.
Namun, kini orangtua lebih didorong untuk membantu anak mengenali perasaan mereka, memvalidasi emosi, sekaligus tetap memberikan batasan yang jelas.
“Mereka diajarkan untuk menamai perasaan dan memahami emosi sejak dini, sesuatu yang tidak banyak dimiliki generasi sebelumnya,” ujar Khan.
Menurut Khan, pendekatan ini membantu anak mengembangkan kemampuan regulasi emosi yang lebih baik karena mereka belajar memahami perasaan sejak kecil.
Baca juga: Cara Gen Z Jaga Kesehatan Mental di Dunia Kerja Modern
Stigma Kesehatan Mental yang Berkurang
Berkurangnya stigma terhadap kesehatan mental membuat generasi muda lebih nyaman membicarakan perasaan mereka.
Pembahasan tentang kesehatan mental kini makin terbuka, baik di media, lingkungan sosial, maupun dunia hiburan.
Sejumlah figur publik juga turut mendorong normalisasi isu ini dengan berbagi pengalaman mereka.
Ahli neuropsikologi William Cheung Tsang, mengatakan bahwa kesehatan mental kini semakin dipahami sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan, berbeda dengan sebelumnya yang cenderung dipendam.
Menurut para ahli, kondisi ini membuat terapi tidak lagi dianggap sebagai pilihan terakhir, melainkan bagian dari menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Akibatnya, Gen Z dan Gen Alpha lebih terbiasa mencari bantuan dan memahami kondisi emosional mereka.
Baca juga: Makin Sadar Hidup Sehat, Gen Z Pilih Konsultasi ke Dokter Sebelum Sakit
Peran Teknologi dan Media Sosial
Perkembangan teknologi membantu generasi muda lebih cepat mengenal konsep emosi dan kesehatan mental.
Melalui media sosial, mereka dapat mengakses berbagai informasi tentang perasaan, stres, hingga cara mengelolanya.
Hal ini membuat mereka memiliki “bahasa” untuk menjelaskan apa yang dirasakan.
“Media sosial memiliki dampak negatif berupa paparan terus-menerus terhadap gejala dan konten diagnosis populer,” kata Tsang.
Para ahli juga mengingatkan bahwa paparan informasi yang berlebihan dapat menimbulkan risiko, seperti kecenderungan mengaitkan diri dengan label tertentu tanpa pemahaman yang utuh.
Baca juga: Alasan Jangan Melakukan Self Diagnose Kesehatan Mental
Dukungan dari Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan kini ikut membantu anak memahami dan mengelola emosi.
Program pembelajaran sosial dan emosional mulai diterapkan di sekolah untuk mengajarkan siswa mengenali perasaan, berempati, dan berkomunikasi dengan lebih baik.
Hal ini membantu anak tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga secara emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Kesadaran Emosi dan Tantangannya
Kesadaran emosi yang tinggi tetap memiliki risiko jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat.
“Generasi muda berisiko membentuk identitas mereka berdasarkan bahasa diagnostik,” ungkap Tsang.
Beberapa ahli menilai generasi muda berisiko terlalu mengaitkan identitas diri dengan label tertentu, seperti kecemasan atau gangguan mental.
Oleh sebab itu, penting untuk memahami bahwa emosi bersifat dinamis dan dapat berubah, sehingga tidak seharusnya menjadi satu-satunya definisi diri seseorang.
Baca juga: Remaja Lebih Nyaman Curhat ke AI, Ini Peran Orangtua Menurut Psikolog