Ketegangan Venezuela Dongkrak Harga Emas dan Perak, Minyak Melemah
Ilustrasi emas batangan. Harga emas dunia pada Kamis (18/12/2025) menguat dan bergerak mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini terjadi di tengah sikap investor yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) serta mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Venezuela.(DOK. Shutterstock.)
17:32
5 Januari 2026

Ketegangan Venezuela Dongkrak Harga Emas dan Perak, Minyak Melemah

- Harga emas menguat pada awal tahun setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS), meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik global.

Di tengah ketidakpastian tersebut, arus dana beralih ke aset yang dinilai lebih aman, terutama emas dan perak.

Dikutip dari BBC, Senin (5/1/2026), harga emas dunia tercatat naik sekitar 2,2 persen menjadi 4.424 dollar AS per ons, sementara harga perak melonjak 3,9 persen.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap apa yang kerap disebut sebagai aset safe haven ketika ketegangan politik dan ketidakpastian ekonomi global meningkat.

Di sisi lain, harga minyak mentah justru melemah, sementara pergerakan indeks saham di Eropa dan Asia cenderung menguat.

Kondisi ini menunjukkan respons pasar yang beragam terhadap perkembangan geopolitik di Venezuela dan implikasinya terhadap perekonomian global.

Baik harga emas maupun perak sebenarnya telah mencetak rekor tertinggi sepanjang 2025 sebelum kehilangan sebagian momentumnya pada hari-hari terakhir tahun lalu.

Meski demikian, secara tahunan, emas tetap mencatatkan kinerja terbaiknya sejak 1979. 

Sepanjang 2025, harga emas melonjak lebih dari 60 persen dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 4.549,71 dollar AS per ons pada 26 Desember 2025 lalu.

Kenaikan harga emas tersebut didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari ekspektasi penurunan suku bunga lebih lanjut, pembelian logam mulia secara agresif oleh bank sentral, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketegangan global dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah. THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi harga minyak, harga minyak mentah.

Harga minyak turun usai Presiden Venezuela Nicolas Maduro diculik AS

Sementara itu, harga minyak berfluktuasi pada awal perdagangan sebelum kembali turun ketika investor menimbang potensi dampak intervensi Washington di Venezuela terhadap pasokan minyak mentah global.

Harga acuan minyak mentah Brent tercatat turun 50 sen atau sekitar 0,8 persen menjadi 60,26 dollar AS per barrel.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan akan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar setelah penangkapan Maduro.

Trump juga mengatakan, AS akan “menjalankan negara itu sampai saatnya kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana”.

Namun, sejumlah analis industri menilai langkah tersebut tidak serta-merta berdampak langsung terhadap harga energi yang dibayar masyarakat dan dunia usaha.

Selain itu, para ahli menekankan bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela akan membutuhkan biaya yang sangat besar.

Infrastruktur minyak Venezuela diketahui telah mengalami penurunan tajam sejak awal 2000-an. Untuk memperbaiki dan menghidupkan kembali sektor tersebut, dibutuhkan investasi bernilai miliaran dollar AS.

“Produksi minyak mentah Venezuela telah ‘lesu’ selama bertahun-tahun dan sekarang hanya menyumbang sekitar 1 persen dari produksi minyak global,” kata ahli strategi investasi OCBC, Vasu Menon.

Pandangan serupa disampaikan mantan CEO BP, Lord Browne, yang berbicara kepada program BBC. Menurut dia, upaya menghidupkan kembali produksi minyak Venezuela akan membutuhkan “investasi keterampilan dan waktu yang sangat besar”.

Ilustrasi saham.SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.

Ia menambahkan, meskipun mungkin akan ada peningkatan cepat pada sebagian produksi, secara keseluruhan produksi minyak justru berpotensi turun sementara industri melakukan reorganisasi dan penyesuaian struktural.

Bursa saham menguat di tengah gejolak Venezuela

Di pasar saham, bursa Eropa dibuka menguat. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,3 persen dan mendekati level 10.000, yang pertama kali dicapai pada perdagangan Jumat sebelumnya.

Saham-saham sektor pertahanan mencatatkan penguatan terbesar setelah perkembangan geopolitik tersebut, dengan BAE Systems melonjak 4,5 persen dan Babcock International naik 3,6 persen.

Saham perusahaan pertambangan juga menguat seiring lonjakan harga emas. Saham Fresnillo, misalnya, tercatat naik 3,6 persen.

Di Asia, pasar saham bergerak naik karena investor lebih memusatkan perhatian pada faktor domestik dan regional yang tidak berkaitan langsung dengan situasi di Venezuela.

Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,6 persen pada hari pertama perdagangan tahun ini, didukung oleh data terbaru yang menunjukkan aktivitas manufaktur tetap stabil pada Desember 2025.

Indeks saham utama di Korea Selatan dan China juga mencatatkan penguatan. Kenaikan tersebut mencerminkan keyakinan pelaku pasar bahwa dampak langsung dari peristiwa di Venezuela terhadap perekonomian Asia akan bersifat terbatas.

“Pasar mencerminkan kepercayaan bahwa dampak dari peristiwa di Venezuela akan tetap jauh,” ujar Zavier Wong dari perusahaan investasi eToro.

Di Tanah Air, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin. IHSG menguat 1,27 persen atau 111,06 poin ke level 8.859,191.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip melalui RTI, sejak dibuka IHSG berada di posisi 8.778,73. Sepanjang hari indeks bergerak di rentang 8.732,32 hingga 8.859,19.

Aktivitas transaksi di BEI tercatat ramai. Volume perdagangan mencapai 68,79 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 29,73 triliun. Frekuensi transaksi tercatat hampir 4 juta kali.

Ilustrasi IHSG. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang menembus level 10.000.DOKUMENTASI BEI Ilustrasi IHSG. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki peluang menembus level 10.000.

Penguatan IHSG juga tercermin dari pergerakan saham secara keseluruhan. Sebanyak 446 saham ditutup menguat, sementara 246 saham melemah dan 114 saham lainnya bergerak stagnan.

Adapun kapitalisasi pasar BEI meningkat menjadi Rp 16.194,63 triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai memanasnya hubungan Venezuela dan AS berpotensi menambah tekanan sentimen di pasar keuangan, meskipun dampaknya terhadap Indonesia bersifat tidak langsung.

Menurutnya, konflik geopolitik yang melibatkan negara produsen energi tetap perlu dicermati oleh pelaku pasar.

Meski Venezuela tidak termasuk dalam jajaran 20 besar produsen minyak mentah dunia, ketegangan yang terjadi tetap dapat mempengaruhi persepsi risiko global, khususnya terhadap pasokan energi dan stabilitas harga komoditas.

“Apa yang akan terjadi hari ini? Kami melihat saham berbasis harga minyak akan mengalami kenaikkan, meskipun Venezuela tidak masuk ke dalam 20 terbesar produsen minyak mentah. Hal ini tentu saja akan memberikan potensi tekanan inflasi khususnya dan akan menimbulkan risiko bagi pasar,” ujar Nico dalam analisa hariannya.

Tag:  #ketegangan #venezuela #dongkrak #harga #emas #perak #minyak #melemah

KOMENTAR