Harga Minyak Dunia Tertekan Imbas Trump Tangkap Presiden Venezuela
Harga minyak dunia melemah pada awal perdagangan pekan ini, Senin (5/1/2026), menyusul perkembangan geopolitik besar setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela.
Negara Amerika Latin tersebut merupakan pemilik cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia, sehingga setiap perubahan politik di Caracas langsung memengaruhi sentimen pasar energi global.
Dikutip dari Channel News Asia, pada perdagangan pagi di Asia, harga minyak mentah Brent tercatat turun 0,21 persen ke level 60,62 dollar AS per barrel.
Ilustrasi harga minyak mentah.
Sementara itu, harga acuan minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), melemah 0,35 persen menjadi 57,12 dollar AS per barrel.
Kedua harga acuan minyak tersebut sempat bergerak naik dari titik terendah sesi sebelumnya, namun tetap berada di zona merah.
Penurunan harga minyak ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar akan potensi bertambahnya pasokan minyak global, khususnya dari Venezuela, yang selama bertahun-tahun produksinya tertekan akibat sanksi dan minim investasi.
Operasi militer AS dan penangkapan Nicolas Maduro
Tekanan terhadap harga minyak meningkat setelah pasukan AS melancarkan serangan ke Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
Operasi tersebut menyasar sejumlah target militer dan berujung pada penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.
Maduro dan istrinya dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di New York. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam hubungan Washington dan Caracas, yang selama ini telah diwarnai ketegangan politik dan ekonomi.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Pasar minyak global segera merespons kabar tersebut dengan memperhitungkan kemungkinan perubahan arah kebijakan energi Venezuela di bawah kendali Amerika Serikat.
Pernyataan Donald Trump soal pengelolaan Venezuela
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya kini akan “mengelola” Venezuela. Trump juga mengatakan, perusahaan-perusahaan Amerika akan dikirim untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang telah rusak parah.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi bahwa produksi dan ekspor minyak Venezuela berpotensi meningkat dalam beberapa waktu ke depan.
Bagi pasar, prospek tambahan pasokan ini menjadi faktor penekan harga, terutama di tengah kondisi pasar minyak yang sudah mengalami kelebihan pasokan.
Masuknya kembali minyak Venezuela ke pasar global dinilai dapat memperburuk ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Produksi minyak Venezuela anjlok jauh dari level historis
Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi. Namun, kapasitas produksinya mengalami penurunan tajam dalam dua dekade terakhir.
Setelah bertahun-tahun kekurangan investasi, salah urus, serta dampak sanksi internasional, Venezuela saat ini hanya memproduksi sekitar 1 juta barrel minyak per hari (bph). Angka tersebut jauh di bawah produksi pada 1999 yang mencapai sekitar 3,5 juta bph.
Penurunan ini mencerminkan kerusakan struktural pada industri minyak Venezuela, mulai dari ladang minyak yang menua, kilang yang tidak terawat, hingga keterbatasan teknologi dan pendanaan.
Tantangan pemulihan produksi minyak
Sejumlah analis menilai, meskipun potensi cadangan minyak Venezuela sangat besar, peningkatan produksi secara signifikan tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.
“Pemulihan produksi apa pun akan membutuhkan investasi besar mengingat infrastruktur yang runtuh akibat bertahun-tahun salah urus dan kurangnya investasi,” ujar analis UBS Giovanni Staunovo kepada Agence France-Presse.
Menurut Staunovo, tantangan Venezuela tidak hanya terletak pada kondisi fisik infrastruktur, tetapi juga pada kepastian regulasi, stabilitas politik, serta kejelasan kerangka hukum bagi investor asing.
Faktor-faktor tersebut selama ini menjadi hambatan utama masuknya modal besar ke sektor energi negara itu.
Investasi kurang menarik di tengah tekanan harga minyak
Di sisi lain, berinvestasi di sektor minyak global saat ini juga dinilai kurang menarik. Harga minyak terus berada di bawah tekanan akibat kelebihan pasokan, meskipun terdapat berbagai faktor risiko geopolitik.
Sepanjang 2025, harga minyak cenderung melemah meski diwarnai hambatan pertumbuhan global, seperti perang tarif yang dipicu kebijakan perdagangan AS dan konflik berkepanjangan di Ukraina.
Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor fundamental pasar, terutama pasokan yang melimpah, lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik.
Produksi minyak dari negara-negara non-OPEC, khususnya AS, masih berada di level tinggi. Sementara itu, pertumbuhan permintaan global melambat seiring perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar.
Dampak bagi pasar minyak global
Kehadiran kembali Venezuela sebagai pemasok minyak yang lebih aktif berpotensi memengaruhi keseimbangan pasar global.
Venezuela merupakan anggota pendiri OPEC, tetapi dalam beberapa tahun terakhir perannya menyusut akibat keterbatasan kapasitas produksi.
Masuknya tambahan pasokan dari Venezuela juga dapat memengaruhi strategi OPEC dan sekutunya (OPEC+) dalam menjaga stabilitas harga melalui pembatasan produksi.
Di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan pendapatan negara produsen, disiplin produksi menjadi isu yang semakin krusial.
Selain itu, peningkatan produksi Venezuela masih sangat bergantung pada kebijakan sanksi AS.
Pasar mencermati apakah pengelolaan baru yang disampaikan Trump akan diikuti dengan pencabutan sanksi secara menyeluruh atau penerapan mekanisme pengawasan baru.
Tag: #harga #minyak #dunia #tertekan #imbas #trump #tangkap #presiden #venezuela