Tips Aman Belanja Online Ramadhan agar Terhindar dari Phishing hingga Pencurian Data Pribadi
– Menjelang Ramadhan 2026, aktivitas belanja online di Indonesia diproyeksikan kembali meningkat seiring semakin luasnya adopsi kanal digital, di tengah potensi ancaman penipuan siber yang turut mengintai konsumen.
Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan, risiko keamanan transaksi online memang masih menjadi tantangan nyata di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjawab tantangan ini.
"Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, khususnya menjelang Ramadan, konsumen perlu semakin waspada terhadap modus penipuan digital yang kian beragam,” kata Pratama, melalui keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Ia membeberkan data Bank Indonesia yang mencatat nilai transaksi digital terus bertumbuh, yang juga memicu kejahatan siber.
Per Juli 2025 transaksi digital di RI mencapai Rp 44,4 triliun. Junlah ini diperkirakan terus tumbuh setiap tahun, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri yang secara historis menjadi puncak konsumsi digital masyarakat.
Baca juga: Mengaku Jadi Korban Phising dan Penipuan Perhiasan Rp 1,1 Miliar, Warga Surabaya Ngadu ke Armuji
Modus Penipuan Online Makin Beragam
Dengan meningkatnya transaksi digital di momen penting seperti Ramadhan, pelaku kejahatan siber kerap memanfaatkan situasi untuk melancarkan berbagai modus penipuan, mulai dari phishing, situs palsu, hingga upaya pencurian data pribadi.
Berdasarkan laporan berbagai lembaga keamanan siber nasional, serangan phishing dan social engineering cenderung meningkat signifikan menjelang periode belanja besar seperti Ramadhan dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).
Pratama mengatakan modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan instan, impersonasi customer service, serta penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu.
Literasi keamanan digital dinilai menjadi kunci agar masyarakat tetap dapat menikmati kemudahan eCommerce tanpa mengorbankan keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi.
Head of Customer Experience Lazada Indonesia, Intan Eugenia mengatakan, untuk memperkuat keamanan bagi konsumen, Lazada terus memperkuat sistem keamanan, memantau transaksi, dan memastikan tim Customer Care selalu siap membantu kapan pun dibutuhkan.
“Kami juga rutin mengingatkan dan mengajak pelanggan untuk menggunakan fitur-fitur resmi di aplikasi Lazada, mulai dari metode pembayaran hingga kanal komunikasi dengan penjual, agar setiap transaksi tetap aman dan terlindungi,” katanya.
Konsumen Perlu Perkuat Keamanan Akun
Tak hanya dari pihak e-commerce yang berupaya tangkal serangan siber, konsumen pun juga perlu sedikit bersusah payah untuk mengamankan akun belanja onlinenya.
Untuk mendukung keamanan pelanggan berbelanja, konsumen diimbau melakukan sejumlah langkah berikut:
1. Gunakan password yang kuat dan unik
Perkuat akun dengan menggunakan password yang tidak mudah ditebak serta berbeda di setiap platform. Aktifkan autentikasi dua faktor atau verifikasi biometrik yang tersedia di aplikasi untuk memberikan perlindungan tambahan.
2. Pastikan transaksi hanya di dalam platform resmi
Lakukan transaksi melalui aplikasi atau situs resmi dan tepercaya. Hindari komunikasi di luar platform untuk mencegah potensi penipuan.
3. Jangan mengeklik tautan dari kanal tidak resmi
Waspadai tautan yang menawarkan hadiah, diskon khusus, atau keuntungan lainnya, termasuk modus penipuan yang mengatasnamakan jasa logistik melalui tautan pelacakan paket palsu.
4. Hindari instalasi aplikasi di luar toko aplikasi resmi
Pelaku penipuan kerap meminta korban menginstal aplikasi di luar toko aplikasi resmi seperti Google Play Store atau App Store dengan dalih pembaruan sistem atau verifikasi akun.
Aplikasi berbahaya semacam ini dapat meminta izin akses perangkat seperti membaca SMS, mengakses notifikasi, merekam layar, hingga mengendalikan perangkat dari jarak jauh.
5. Tolak permintaan berbagi layar saat transaksi
Pelaku bahkan meminta korban mengaktifkan fitur berbagi layar dengan dalih membantu proses transaksi atau pengembalian dana, yang memungkinkan mereka melihat aktivitas layar secara real-time, termasuk aplikasi mobile banking, PIN, dan kode OTP.
6. Jangan pernah membagikan kode OTP
Kode OTP yang digunakan untuk memverifikasi identitas tidak boleh dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai karyawan platform eCommerce.
“Di tengah pesatnya adopsi belanja digital, upaya penguatan keamanan siber tidak bisa hanya bertumpu pada platform eCommerce semata,” kata Pratama.
“Meski berbagai solusi dan teknologi perlindungan terus dikembangkan, kesadaran pengguna tetap menjadi lapisan pertahanan terpenting.”
Tag: #tips #aman #belanja #online #ramadhan #agar #terhindar #dari #phishing #hingga #pencurian #data #pribadi