Trump Siap Hidupkan Industri Minyak Venezuela, Butuh Biaya Rp 1.674 Triliun
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan konferensi pers mengenai serangan AS ke Venezuela, di Palm Beach, Negara Bagian Florida, Sabtu (3/1/2026). Pengakuan Donald Trump soal konsumsi aspirin dosis tinggi selama puluhan tahun memicu peringatan dokter tentang risiko perdarahan dan bahaya meniru kebiasaan medis tanpa konsultasi.(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/JOE RAEDLE via AFP)
10:32
5 Januari 2026

Trump Siap Hidupkan Industri Minyak Venezuela, Butuh Biaya Rp 1.674 Triliun

Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump memimpin kebangkitan industri minyak Venezuela diperkirakan berjalan panjang dan rumit.

Biaya pemulihan diproyeksikan melampaui 100 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.674 triliun dengan kurs Rp 16.733 per dollar AS.

Bloomberg melaporkan kondisi infrastruktur minyak Venezuela berada pada titik kritis. Kerusakan menumpuk setelah bertahun-tahun korupsi, minim investasi, kebakaran, dan pencurian aset.

Pemulihan produksi menuju level puncak era 1970-an membutuhkan investasi besar dan konsisten.

Direktur Kebijakan Energi Amerika Latin di Baker Institute for Public Policy, Rice University, Francisco Monaldi memperkirakan kebutuhan dana sekitar 10 miliar dollar AS per tahun selama satu dekade.

“Pemulihan yang lebih cepat justru akan membutuhkan investasi yang jauh lebih besar,” ujar Monaldi.

Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia. Produksi minyak negara itu terus merosot selama 12 tahun pemerintahan Presiden Nicolás Maduro, yang dilaporkan ditangkap pasukan Amerika Serikat pada akhir pekan lalu.

Produksi minyak Venezuela kini berkisar 1 juta barel per hari. Angka ini jauh dari puncak produksi 1974 yang hampir menyentuh 4 juta barel per hari.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyebut perusahaan minyak Amerika Serikat berpotensi kembali melirik Venezuela.

Minyak berat Venezuela dinilai cocok untuk kilang-kilang di kawasan Teluk Amerika Serikat.

“Saya belum berbicara langsung dengan perusahaan minyak AS dalam beberapa hari terakhir, tetapi kami yakin akan ada minat yang sangat besar,” kata Rubio dalam wawancara dengan ABC.

Menurut Rubio, kepastian ruang usaha dan regulasi akan memperkuat minat sektor swasta.

Pelaku industri menilai stabilitas politik menjadi syarat utama masuknya investasi besar. Lino Carrillo, mantan manajer perusahaan minyak negara Petroleos de Venezuela SA atau PDVSA, menegaskan investor internasional menunggu perubahan politik yang jelas.

“Untuk benar-benar serius berinvestasi, Venezuela harus memiliki parlemen atau Majelis Nasional yang baru. Bukan kondisi seperti sekarang,” ucapnya.

Kerusakan infrastruktur minyak Venezuela tercatat meluas. Proses pemuatan kapal tanker raksasa di sejumlah pelabuhan memakan waktu hingga lima hari. Tujuh tahun lalu, proses serupa hanya membutuhkan satu hari.

Cekungan Orinoco mengalami kondisi paling parah. Wilayah dengan potensi cadangan hampir setengah triliun barel ini dipenuhi rig yang ditinggalkan, tumpahan minyak yang tidak tertangani, serta fasilitas pengeboran yang dijarah dan dijual ke pasar gelap.

Jaringan pipa bawah tanah Venezuela dikenal rapuh dan bocor. Sebagian pipa dijarah dan dijual sebagai besi tua. Kebakaran dan ledakan turut merusak peralatan penting.

Kompleks kilang raksasa Paraguana di pesisir barat laut Caracas hanya beroperasi terbatas. Kerusakan berulang membuat sejumlah unit pengolah minyak berat berhenti beroperasi, meski sebelumnya menggunakan teknologi tinggi.

Produksi minyak Venezuela kini sangat bergantung pada Chevron. Perusahaan ini menjadi satu-satunya raksasa minyak Amerika Serikat yang masih aktif beroperasi. Kontribusinya mencapai sekitar 25 persen dari total produksi nasional melalui lisensi khusus, meski sanksi Amerika Serikat masih berlaku.

Exxon Mobil dan ConocoPhillips dinilai paling siap mendukung pemulihan industri minyak Venezuela. Kedua perusahaan pernah beroperasi di negara tersebut sebelum hengkang akibat nasionalisasi aset pada pertengahan 2000-an di era Presiden Hugo Chavez. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari keduanya.

Chevron menegaskan fokus utama perusahaan tetap pada keselamatan karyawan dan perlindungan aset. Operasional perusahaan disebut mengikuti seluruh ketentuan hukum yang berlaku.

Ketidakpastian politik masih membayangi prospek investasi. Sanksi Amerika Serikat terhadap Venezuela tetap berlaku. Perairan sekitar negara itu juga berada dalam pengawasan angkatan laut Amerika Serikat.

Trump menyebut Wakil Presiden Delcy Rodriguez memegang kendali pemerintahan sementara. Rodriguez dikenal sebagai sekutu dekat Maduro.

Clayton Seigle, peneliti senior Center for Strategic and International Studies atau CSIS, menilai perusahaan minyak mulai menyusun rencana awal. Komitmen investasi besar dinilai belum akan muncul sebelum stabilitas politik terlihat jelas.

Tantangan lain muncul dari kondisi pasar global. Pasokan minyak dunia melimpah dan harga global berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir. Sejumlah perusahaan minyak juga masih menagih miliaran dollar AS kepada Venezuela akibat pinjaman dan kompensasi yang belum dibayar sejak nasionalisasi aset.

Managing Director ClearView Energy Partners Kevin Book menilai peluang tetap terbuka jika risiko seimbang dengan imbal hasil. Cadangan minyak Venezuela dinilai terlalu besar untuk diabaikan oleh perusahaan dengan kapasitas teknis dan finansial memadai.

“Mereka membutuhkan ketentuan yang benar-benar menguntungkan untuk mengatasi ketidakpastian yang sangat besar,” ujar Book.

“Perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan untuk memproduksi sumber daya secara menguntungkan di Venezuela kecil kemungkinannya akan mengabaikan besarnya peluang cadangan minyak tersebut, selama mereka melihat tanda-tanda stabilitas yang relatif dan dapat memperoleh syarat kontrak yang menguntungkan,” lanjutnya.

Tag:  #trump #siap #hidupkan #industri #minyak #venezuela #butuh #biaya #1674 #triliun

KOMENTAR