Trump Bakal Kuasai Minyak Venezuela, Harga Minyak Dunia Bakal Bergejolak?
- Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela memicu kekhawatiran pasar global terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Muhammad Andri Perdana menilai, pernyataan terbuka Trump itu dapat diartikan sebagai upaya membanjiri pasokan minyak global sehingga dapat menekan harga minyak dunia.
Namun menurutnya, rencana ini akan sulit dilaksanakan dalam jangka pendek sehingga efek ke kenaikan harga minyak dunia masih belum dapat dipastikan.
Pasalnya, cadangan minyak Venezuela didominasi heavy oil yang belum terolah dan membutuhkan pembangunan infrastruktur produksi dalam waktu bertahun-tahun meski Trump akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak asal AS untuk memperbaiki industri minyak Venezuela.
"Rezim dan loyalis Maduro saat ini pun masih melakukan resistensi terhadap agresi AS, sehingga akan sulit untuk memastikan dampaknya ke stok minyak dunia," jelasnya kepada Kompas.com, Minggu (4/1/2026).
Andri menambahkan, ketidakjelasan arah politik ini membuat pasar cenderung wait and see setidaknya hingga pergerakan pasar futures minyak terlihat pada perdagangan Senin (5/1/2026).
"Masih banyak kemungkinan bisa terjadi, seperti apakah AS tidak akan melanjutkan melanjutkan agresi ketika loyalis Maduro, seperti Wapres Venezuela sekarang, tetap mempertahankan status quo kekuasaan tanpa Maduro. Ataukah AS akan terus melanjutkan agresi yang mana bisa menandakan awal konflik berkepanjangan seperti invasi Irak," ucapnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai, penangkapan Nicolas Maduro tidak serta-merta mengganggu pasokan minyak global, meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Sebab, kontribusi produksi minyak Venezuela saat ini relatif kecil akibat sanksi internasional, keterbatasan investasi, serta penurunan kapasitas produksi dalam beberapa tahun terakhir.
"Penangkapan Maduro tidak otomatis mengganggu pasokan minyak global. Harga minyak lebih ditentukan oleh keseimbangan permintaan dunia, kebijakan produksi negara produsen utama, serta kondisi ekonomi global, sehingga lonjakan harga yang tajam akibat faktor Venezuela saja relatif kecil kemungkinannya," ungkap Rizal kepada Kompas.com, Minggu.
Kendati demikian, Rizal menambahkan, dari sisi perilaku dan psikologi pasar, peristiwa penangkapan Maduro tetap berpotensi menambah risiko geopolitik terhadap harga minyak dalam jangka pendek.
Namun, kenaikan harga yang terjadi lebih mencerminkan ketidakpastian pasar, bukan gangguan pasokan riil.
Dalam jangka menengah, Rizal justru melihat tambahan pasokan global dari rencana Trump itu justru berpotensi menahan tekanan kenaikan harga minyak, yang pada akhirnya akan mengurangi risiko kenaikan inflasi impor bagi Indonesia.
Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela dan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk menginvestasikan miliaran dollar AS guna memperbaiki industri minyak negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Sabtu (4/1/2026). Trump menyebut AS akan mengoperasikan pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Hal ini setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
"Kami akan membawa perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dollar, dan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah," kata Trump, dikutip dari CNN, Minggu (4/1/2026).
Harga minyak berjangka tidak diperdagangkan pada akhir pekan sehingga dampak langsung terhadap harga minyak belum terlihat pada hari ini.
Tag: #trump #bakal #kuasai #minyak #venezuela #harga #minyak #dunia #bakal #bergejolak