Seberapa Besar Cadangan Minyak Venezuela yang Kini Diincar Trump?
– Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, cadangan minyak mentah Venezuela mencapai sekitar 303 miliar barel, atau hampir seperlima dari total cadangan global.
Besarnya cadangan tersebut kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Sabtu (4/1/2026), menyatakan bahwa AS akan mengambil kendali atas cadangan minyak Venezuela.
Dikutip dari CNN, Trump mengatakan akan melibatkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika untuk mengucurkan investasi miliaran dollar AS guna memulihkan industri energi Venezuela.
“Kami akan membawa perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dollar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak,” ujar Trump dalam konferensi pers di Mar-a-Lago.
Cadangan minyak Venezuela sebagian besar berada di Sabuk Orinoco, wilayah seluas sekitar 55.000 kilometer persegi di bagian timur negara tersebut.
Potensi ini dinilai krusial bagi masa depan ekonomi Venezuela, meski hingga kini belum termanfaatkan secara optimal.
Produksi jauh dari potensi
Meski memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 1 juta barel per hari, atau sekitar 0,8 persen dari produksi minyak global. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan masa sebelum pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Sebelum Maduro berkuasa pada 2013, produksi minyak Venezuela mencapai lebih dari 2 juta barel per hari. Bahkan, pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, produksinya sempat menembus 3,5 juta barel per hari.
Penurunan tajam ini dipicu kombinasi sanksi internasional, krisis ekonomi, serta minimnya investasi dan perawatan infrastruktur energi. EIA mencatat, banyak pipa minyak Venezuela tidak diperbarui selama hampir 50 tahun.
Perusahaan minyak dan gas milik negara, PDVSA, memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk mengembalikan produksi ke level puncak mencapai 58 miliar dollar AS.
Dampak ke pasar minyak global
Trump menyebut AS akan mengoperasikan pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu. Langkah ini berpotensi membuka kembali akses perusahaan minyak Barat ke cadangan minyak raksasa Venezuela dan menambah pasokan energi global di masa depan.
Namun, analis menilai dampaknya tidak akan instan. Analis pasar senior Price Futures Group, Phil Flynn, menyebut pemulihan produksi membutuhkan waktu panjang.
“Untuk minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah,” kata Flynn. “Rezim Maduro dan (mantan Presiden Venezuela) Hugo Chavez pada dasarnya menguras industri minyak Venezuela.”
Dengan tingkat produksi saat ini, Venezuela dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap pasar minyak dunia.
Apalagi, harga minyak global relatif terkendali karena kekhawatiran kelebihan pasokan, seiring peningkatan produksi OPEC dan melemahnya permintaan global.
“Harga mungkin mendapat dorongan psikologis kecil, tetapi minyak Venezuela dapat dengan mudah digantikan oleh kombinasi produsen global,” ujar Flynn.
Minyak berat bernilai strategis
Minyak Venezuela tergolong minyak berat dan asam (heavy sour crude) yang membutuhkan teknologi dan peralatan khusus untuk diproduksi dan diolah. Jenis minyak ini berbeda dengan minyak AS yang umumnya ringan dan manis (light sweet crude).
Meski lebih sulit diolah, minyak berat Venezuela dibutuhkan untuk produk tertentu seperti diesel, aspal, dan bahan bakar industri berat. Sejumlah kilang minyak AS bahkan dirancang khusus untuk mengolah minyak berat Venezuela secara lebih efisien.
“Jika perusahaan AS diizinkan kembali membangun industri minyak Venezuela, dampaknya bisa mengubah pasar minyak global,” kata Flynn.
Adapun sebelumnya, Trump menyebut bisnis minyak Venezuela gagal total. Menurut dia, produksi minyak pada masa kepemimpinan Nicolas Maduro tidak sebanding dengan besarnya potensi yang dimiliki negara tersebut.
“Mereka hampir tidak memompa apa pun dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa dan apa yang seharusnya bisa terjadi,” kata Trump.
Krisis ekonomi dan ironi negara kaya minyak
Di balik kekayaan minyak tersebut, Venezuela kini dihantam krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Standar hidup rakyat anjlok hingga 74 persen sepanjang 2013–2023, menjadi salah satu penurunan terdalam dalam sejarah ekonomi modern di luar perang besar.
Kehancuran ekonomi dipicu kombinasi kebijakan domestik yang keliru, salah kelola sektor minyak sejak era Hugo Chavez hingga Nicolas Maduro, serta sanksi internasional yang memperparah keadaan.
Pada masa boom harga minyak 2000-an, pemerintah menerapkan belanja besar-besaran tanpa cadangan fiskal. Ketika harga minyak jatuh pada 2014, negara tidak siap dan merespons dengan pencetakan uang masif yang memicu hiperinflasi.
Sektor minyak sebagai tulang punggung ekonomi juga kekurangan investasi dan perawatan, sementara nasionalisasi, kontrol harga, dan pembatasan devisa merusak iklim usaha.
Dampaknya, jutaan warga jatuh dalam kemiskinan dan lebih dari 7,7 juta orang meninggalkan Venezuela.
Krisis ekonomi turut mendorong kerawanan pangan. Sekitar 80 persen penduduk hidup dalam kemiskinan, sementara harga kebutuhan pokok melambung jauh di atas daya beli.
Banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan makan harian, mencerminkan ironi Venezuela sebagai negara kaya minyak dengan rakyat yang kian terhimpit.
Tag: #seberapa #besar #cadangan #minyak #venezuela #yang #kini #diincar #trump