Trump Kerahhkan Perusahaan AS Garap Ladang Minyak Venezuela
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencana pengerahan perusahaan-perusahaan minyak asal AS untuk menggarap ladang minyak Venezuela setelah penggulingan Presiden Nicolas Maduro.
Trump menyebut perusahaan minyak besar AS siap menggelontorkan investasi miliaran dollar AS. Investasi tersebut mencakup perbaikan infrastruktur minyak Venezuela yang rusak parah.
"Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak besar AS, yang terbesar di mana pun di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dollar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, yakni infrastruktur minyak," ujar Trump dalam konferensi pers yang dikutip dari CNBC, Minggu (4/1/2026).
"Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini," imbuhnya.
Venezuela tercatat sebagai salah satu pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Totalnya mencapai 303 miliar barrel atau sekitar 17 persen dari cadangan global, merujuk data U.S. Energy Information Administration (EIA).
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal AS yang masih beroperasi di Venezuela. Pada kuartal IV-2025, Chevron mengekspor sekitar 140.000 barrel per hari, merujuk data perusahaan konsultan energi Kpler.
Pasukan AS diketahui menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam serangan besar ke Venezuela pada dini hari. Keduanya menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di Pengadilan Distrik Selatan New York.
Penggulingan Maduro terjadi setelah pengerahan militer AS selama berbulan-bulan di kawasan Karibia. Trump menegaskan embargo minyak Venezuela tetap berlaku penuh meski rezim berganti.
Trump juga mengatakan perusahaan-perusahaan minyak AS akan menanggung biaya pembangunan kembali infrastruktur minyak mentah Venezuela. Biaya tersebut akan diganti melalui skema investasi dan penjualan minyak ke pasar global.
"Kami akan membuat minyak kembali mengalir sebagaimana mestinya. Kami akan menjual minyak dalam jumlah besar ke negara-negara lain," kata Trump.
Industri minyak Venezuela dinasionalisasi pada 1976. Pemerintah saat itu mengambil alih aset perusahaan minyak internasional dan membentuk perusahaan negara Petróleos de Venezuela S.A. atau PDVSA.
Produksi minyak Venezuela sempat mencapai puncak 3,5 juta barrel per hari pada akhir 1990-an. Produksi kemudian terus merosot, kata analis minyak Kpler, Matt Smith.
Saat ini, produksi minyak Venezuela berada di kisaran 800.000 barrel per hari, merujuk data Kpler. Produksi minyak AS, sebagai perbandingan, mencapai sekitar 13,8 juta barrel per hari pada pekan 26 Desember 2025.
Presiden Lipow Oil Associates Andy Lipow menyebut China dan Rusia memiliki keterlibatan besar di sektor minyak Venezuela. Rezim Maduro pada November 2025 menyetujui perpanjangan 15 tahun usaha patungan dengan perusahaan afiliasi Rusia yang mengoperasikan ladang minyak di negara tersebut.
Lipow menilai ekspor minyak Venezuela berisiko terhenti. Situasi politik di Caracas belum jelas sehingga pembeli berpotensi ragu menentukan pihak penerima pembayaran.
Chevron diperkirakan tetap melanjutkan ekspor minyak. Langkah tersebut dinilai mampu menahan dampak gangguan pasokan terhadap pasar global.
"Saya cukup khawatir terhadap situasi keamanan (atau ketidakamanan) di lapangan dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi fasilitas produksi minyak, infrastruktur, serta ekspor," tulis Lipow dalam catatannya.
Analis Kpler Matt Smith menilai kondisi pasar minyak global yang mengalami kelebihan pasokan akan meredam dampak gangguan pasokan lanjutan. Pasar minyak pada 2025 mencatat penurunan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.
Harga minyak patokan Brent turun sekitar 19 persen sepanjang 2025. Harga minyak mentah AS merosot hampir 20 persen pada periode yang sama. Tekanan muncul seiring OPEC+ meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun melakukan pemangkasan, sementara produksi minyak AS mencetak rekor baru.
Tag: #trump #kerahhkan #perusahaan #garap #ladang #minyak #venezuela