Target Ekonomi 6 Persen Dinilai Tak Realistis, Kredit Perbankan Terlalu Rendah
Wakil Direktur Indef (Institute for Development of Economics and Finance) Eko Listiyanto menilai target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 6 persen pada 2026 sulit tercapai jika tidak diikuti dengan percepatan penyaluran kredit perbankan ke sektor riil.
Menurut Eko, pengalaman historis menunjukkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 6 persen selalu ditopang oleh ekspansi kredit yang tinggi, bahkan bisa menembus di atas 20 persen. Hal itu terjadi pada periode 2010–2014, saat pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,5–6,5 persen.
"Ketika tahun 2010 ya, sampai 2014 lah ya, atau 2002, ya ini pertumbuhan kita ya, 6-5,5 ya, total 5,5-6,5 persen lah waktu itu puncaknya ya, pertumbuhan kreditnya ya 20-an persen begitu, minimal ya, kadang bisa sampai bahkan 25 persen gitu. Artinya, kalau kemudian kita bicaranya 6 persen, 8 persen, pertumbuhan kredit kita hari ini, itu di bawah 8 persen ya,” ujar Eko dalam diskusi akhir tahun Indef secara daring pada Senin (29/12/2025).
Sementara itu, Eko menyoroti target pertumbuhan kredit perbankan ke depan yang hanya berada di kisaran 8–12 persen.
Bahkan, realisasi pertumbuhan kredit saat ini masih di bawah 8 persen atau sekitar 7,76 persen.
Eko menilai, agar pertumbuhan ekonomi bisa menembus 5,4 persen hingga 6 persen, laju kredit setidaknya perlu meningkat dua kali lipat dari posisi saat ini, yakni di kisaran 15–16 persen. Tanpa itu, ekonomi berpotensi kembali stagnan di sekitar 5 persen.
Lebih lanjut, Eko menekankan sekitar 70 persen likuiditas perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada perbankan. Artinya, tanpa dorongan kredit yang kuat ke sektor riil, pertumbuhan ekonomi sulit dipacu lebih tinggi.
Selain persoalan kredit, Eko juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sepanjang 2025. Ia mencatat, kurs rupiah berada di kisaran Rp 16.700 per dolar AS, atau sekitar Rp 700 lebih lemah dibandingkan asumsi makro APBN 2025 sebesar Rp 16.000 per dolar AS.
Menurut Eko, pelemahan rupiah mencerminkan tingginya ketidakpastian ekonomi global dan domestik sepanjang tahun ini, mulai dari dinamika ekonomi global hingga faktor instabilitas di dalam negeri.
Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia dinilai mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen utama menjaga stabilitas jangka pendek.
Namun, Eko mengingatkan bahwa penggunaan SRBI yang masif berisiko menggerus fungsi kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan.
Ia menegaskan, tanpa pembenahan serius di sektor riil dan dorongan kredit yang lebih agresif, target pertumbuhan ekonomi 6 persen berpotensi hanya menjadi ambisi di atas kertas.
Tag: #target #ekonomi #persen #dinilai #realistis #kredit #perbankan #terlalu #rendah