10 Penyebab Kelas Menengah Sulit Kaya Menurut Dave Ramsey
Meski berpenghasilan tetap, banyak keluarga kelas menengah masih hidup dari gaji ke gaji. Dave Ramsey mengungkap 10 kebiasaan dan pola pikir yang membuat kondisi ini terus berulang.(Dok. Freepik/drobotdean)
09:52
29 Desember 2025

10 Penyebab Kelas Menengah Sulit Kaya Menurut Dave Ramsey

– Bekerja keras dan memiliki penghasilan tetap tidak selalu menjamin kondisi keuangan yang aman. Bagi banyak keluarga kelas menengah, tekanan finansial justru tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, meski pendapatan tergolong cukup.

Pakar keuangan asal Amerika Serikat (AS), Dave Ramsey, menilai masalah tersebut bukan semata disebabkan oleh besaran gaji.

Dalam pengalamannya selama puluhan tahun mendampingi jutaan orang, Ramsey melihat pola perilaku dan cara berpikir tertentu yang membuat kelas menengah sulit keluar dari jerat keuangan.

Menurut Ramsey, kebiasaan-kebiasaan inilah yang membuat banyak orang terus hidup dari gaji ke gaji dan gagal membangun kekayaan jangka panjang, meskipun telah bekerja keras dan berpenghasilan layak.

Dikutip dari New Trader U, Senin (29/12/2025), berikut 10 alasan utama mengapa kelas menengah tetap kesulitan secara finansial menurut Dave Ramsey.

1. Tidak Menentukan Arah Uang Melalui Anggaran

“Anggaran adalah cara memberi tahu uang ke mana harus pergi, bukan bertanya ke mana uang itu hilang,” kata Dave Ramsey.

Ramsey menekankan pentingnya anggaran tertulis sebelum bulan berjalan.

Tanpa perencanaan keuangan, pendapatan akan habis untuk kebutuhan yang paling mendesak, seperti tagihan kartu kredit, pembelian impulsif, atau gaya hidup. Uang mengalir tanpa tujuan jelas untuk membangun kekayaan.

Sebaliknya, Ramsey mendorong agar setiap rupiah diberi tugas sejak awal bulan.

2. Penghasilan Habis Dibayarkan ke Pihak Lain

“Kamu bukan miskin karena kurang penghasilan. Kamu miskin karena penghasilanmu diberikan kepada semua orang,” ujar Ramsey.

Banyak pekerja kelas menengah lebih dulu membayar cicilan mobil, kartu kredit, pinjaman pendidikan, dan berbagai langganan, sebelum menyisihkan uang untuk diri sendiri.

Akibatnya, penghasilan lebih banyak memperkaya lembaga keuangan daripada membangun masa depan pribadi.

3. Membiayai Gaya Hidup dengan Utang

“Jangan membeli barang yang tidak mampu kamu beli dengan uang yang tidak kamu miliki,” kata Ramsey.

Pembelian mobil, furnitur, liburan, hingga kebutuhan harian kerap dibiayai melalui utang atau kartu kredit. Menurut Ramsey, kebiasaan ini menjadi perusak utama kekayaan karena cicilan dan bunga terus menggerus arus kas.

4. Mengutamakan Cicilan daripada Pembayaran Tunai

Orang kaya menghindari cicilan. Kelas menengah membuat cicilan,” ujar Ramsey.

Kelas menengah cenderung menilai kemampuan membeli dari besarnya cicilan bulanan, bukan harga sebenarnya.

Pola pikir ini membuat barang mahal tampak terjangkau, padahal biaya total membengkak akibat bunga dan biaya tambahan.

5. Tidak Hidup di Bawah Kemampuan

“Sesuaikan gaya hidup dengan gaji,” tegas Ramsey.

Ketika pendapatan naik, pengeluaran kelas menengah biasanya ikut meningkat. Akibatnya, tidak ada ruang untuk menabung dan berinvestasi.

Ramsey menilai, tanpa selisih antara penghasilan dan pengeluaran, kekayaan tidak akan terbentuk, berapa pun besar gajinya.

6. Mengejar Status, Bukan Ketenteraman Finansial

Ramsey menyebut fenomena ini sebagai middle-class fancy. Keinginan terlihat sukses mendorong pembelian mobil lebih mahal, rumah lebih besar, dan gaya hidup yang mengesankan orang lain.

Menurut Ramsey, upaya mempertahankan citra tersebut justru menguras sumber daya dan menghambat pembentukan keamanan finansial yang sesungguhnya.

7. Memilih Bertahan dengan Utang

“Tidak ada jalan pintas untuk keluar dari utang,” kata Ramsey.

Kelas menengah sering menganggap utang sebagai bagian normal kehidupan. Namun, Ramsey menegaskan bahwa selama cicilan masih menyerap penghasilan, proses membangun kekayaan tidak bisa dimulai secara nyata.

8. Tidak Menabung dan Berinvestasi secara Konsisten

“Seseorang yang tidak pernah berinvestasi tidak akan pernah memiliki apa-apa,” ujar Ramsey.

Menabung saja tidak cukup karena inflasi menggerus nilai uang. Ramsey menilai, uang harus diinvestasikan agar dapat bertumbuh.

Kebiasaan menyimpan dana di rekening berbunga rendah atau menghindari investasi membuat kekayaan sulit berkembang.

9. Kurang Disiplin dan Pola Pikir Keuangan yang Tepat

Ramsey menyoroti perbedaan pola pikir antara kelas menengah dan pembangun kekayaan. Kelas menengah cenderung mengutamakan rasa aman dan kenyamanan jangka pendek.

Sebaliknya, pembangun kekayaan menekankan disiplin dan kesediaan menunda kepuasan demi kebebasan finansial jangka panjang.

10. Takut atau Terlalu Nyaman untuk Berubah

Menurut Ramsey, hambatan terbesar sering kali bersifat psikologis. Banyak orang tahu apa yang harus dilakukan, tetapi takut menghadapi utang, mengubah kebiasaan lama, atau hidup berbeda dari lingkungan sekitarnya.

Rasa takut dan sikap terlalu nyaman membuat perubahan besar terus tertunda.

Dave Ramsey menilai, penyebab utama kelas menengah tetap kesulitan secara finansial berasal dari perilaku yang sebenarnya bisa dikendalikan.

Solusi yang ia tawarkan mencakup penyusunan anggaran, penghapusan utang, hidup sesuai kemampuan, membayar tunai, serta menabung dan berinvestasi secara konsisten.

Menurut Ramsey, ketenangan finansial tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan oleh kendali atas cara membelanjakan dan mengelola uang.

Tag:  #penyebab #kelas #menengah #sulit #kaya #menurut #dave #ramsey

KOMENTAR