4 Pilihan Rute Jalur Perjalanan dari Payakumbuh ke Bukittinggi, Singkat Tapi Perlu Perhitungan
Panorama Ngarai Sianok di Bukittinggi, Sumatra Barat. (Indonesiakaya.com)
15:42
4 Februari 2026

4 Pilihan Rute Jalur Perjalanan dari Payakumbuh ke Bukittinggi, Singkat Tapi Perlu Perhitungan

- Perjalanan darat dari Payakumbuh ke Bukittinggi dikenal sebagai salah satu rute tersibuk di Sumatera Barat. Meski jaraknya relatif pendek, hanya sekitar 30–35 kilometer, waktu tempuh perjalanan tidak selalu bisa diprediksi. 

Dalam kondisi lalu lintas lancar, perjalanan bisa diselesaikan dalam 45 hingga 60 menit. Namun pada jam sibuk, akhir pekan, atau musim liburan, waktu tempuh bisa bertambah cukup signifikan.

Salah satu penyebabnya adalah titik kemacetan di kawasan Baso dan Padang Lua, yang menjadi simpul pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah. Karena itu, penting bagi masyarakat maupun wisatawan untuk mengetahui opsi rute utama dan jalur alternatif agar perjalanan lebih efisien dan nyaman.

Sekilas Payakumbuh dan Bukittinggi: Dua Kota Penting di Dataran Tinggi Minangkabau

Payakumbuh merupakan kota terbesar kedua di Sumatera Barat setelah Padang. Letaknya strategis di kaki Gunung Sago, menjadikannya pusat perdagangan, jasa, dan perlintasan utama dari wilayah timur Sumatra seperti Pekanbaru menuju wilayah barat Sumatera Barat.

Kota ini dikenal luas sebagai Kota Rendang, sekaligus penghasil aneka kuliner khas Minangkabau seperti batiah dan galamai. Secara geografis, Payakumbuh berada di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata sekitar 514 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki udara yang relatif sejuk dan pemandangan alam yang menenangkan.

Sementara itu, Bukittinggi adalah salah satu kota wisata paling terkenal di Sumatera Barat. Berada di ketinggian 900–950 MDPL, kota ini dijuluki 'Parijs van Sumatra' sejak masa kolonial. 

Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia sebagai ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan dikenal dengan ikon Jam Gadang serta panorama Ngarai Sianok.

Kedua kota ini terhubung erat secara ekonomi, sosial, dan pariwisata, sehingga arus perjalanan di antaranya hampir tidak pernah sepi.

1. Jalur Utama: Jalan Raya Bukittinggi – Payakumbuh

Jalur utama ini merupakan rute paling umum dan paling mudah diakses. Jalan Raya Bukittinggi–Payakumbuh menghubungkan langsung dua kota besar tersebut melalui kawasan Baso dan berujung di Padang Lua, sebelum masuk ke pusat Kota Bukittinggi.

Kondisi jalan pada jalur ini relatif baik dan lurus, sehingga nyaman dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Di sepanjang jalur, tersedia banyak fasilitas umum seperti SPBU, rumah makan, minimarket, hingga bengkel.

Namun, kelemahan utama rute ini adalah potensi kemacetan, terutama di kawasan Baso dan Padang Lua. Pada pagi hari, sore menjelang malam, serta akhir pekan, arus kendaraan kerap tersendat akibat pertemuan jalur dari berbagai arah.

Jalur ini cocok untuk pengendara yang baru pertama kali melintas, perjalanan di luar jam sibuk dan kendaraan besar atau bus.

2. Jalur Alternatif Akabiluru – Batu Hampa

Bagi pengendara yang ingin menghindari kepadatan di Baso, jalur Akabiluru–Batu Hampa bisa menjadi pilihan. Rute ini melewati kawasan Batu Hampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, yang relatif lebih sepi dibandingkan jalur utama.

Meski tidak sepenuhnya bebas hambatan, jalur ini sering digunakan sebagai jalan pintas menuju sisi barat Bukittinggi. Karakter jalannya lebih sempit di beberapa titik, namun pemandangan alam berupa perbukitan dan area persawahan menjadi nilai tambah tersendiri.

Jalur ini cocok untuk pengendara yang sudah mengenal medan, menghindari macet di Baso dan kendaraan pribadi.

3. Jalur Alternatif via Padang Tarok – Baso

Pilihan berikutnya adalah jalur Padang Tarok, yang masih berada di kawasan Baso namun mengambil lintasan berbeda dari jalur utama. Rute ini biasanya melewati area pemukiman, jembatan kecil, hingga jalur lambah yang tembus ke arah Bukittinggi.

Jalur ini cukup populer di kalangan warga lokal karena bisa memotong antrean panjang di jalan utama Baso, terutama saat lalu lintas sedang padat. Meski begitu, pengendara perlu ekstra hati-hati karena kondisi jalan di beberapa titik tidak selebar jalur utama.

4. Jalur Alternatif Koto Baru – Baso via Puncak Bukik

Rute terakhir ini termasuk jalur favorit warga lokal. Jalur Koto Baru–Baso melalui kawasan pedesaan seperti Puncak Bukik, menyusuri area perbukitan dan jalan kampung yang relatif tenang.

Rute ini biasanya berujung di sisi belakang atau samping Kota Bukittinggi, sehingga bisa menghindari titik macet Padang Lua. Meski jaraknya bisa sedikit lebih jauh, waktu tempuh sering kali justru lebih singkat saat jalur utama padat.

Namun, karena minim rambu dan penerangan di malam hari, jalur ini lebih disarankan untuk perjalanan siang atau sore. Sehingga jalur ini cocok untuk pengendara lokal, menghindari Padang Lua dan menikmati perjalanan dengan suasana alam.

Kesimpulan: Pilih Rute Sesuai Waktu dan Kondisi

Meski jarak Payakumbuh–Bukittinggi tergolong singkat, memilih rute yang tepat sangat menentukan kenyamanan dan durasi perjalanan. Jalur utama tetap menjadi pilihan paling aman dan jelas, tetapi jalur alternatif bisa menjadi solusi efektif saat terjadi kemacetan.

Dengan memahami karakter masing-masing rute, masyarakat dan wisatawan bisa menyesuaikan perjalanan dengan waktu, kondisi lalu lintas, dan jenis kendaraan. Perjalanan pun menjadi lebih efisien, aman, dan menyenangkan.

Editor: Kuswandi

Tag:  #pilihan #rute #jalur #perjalanan #dari #payakumbuh #bukittinggi #singkat #tapi #perlu #perhitungan

KOMENTAR