Ramai Berburu Durian ke Baduy: Buah Durian Tumbuh Alami, Rasa Lebih Manis
- Pada libur panjang (long weekend) Isra Mikraj, wisatawan ramai berkunjung ke kawasan wisata Baduy, Banten, untuk berburu durian khas Baduy.
"Kita liburan akhir pekan bersama rombongan sekolah ingin menikmati panorama alam Baduy, sekaligus makan durian," kata Anas, guru salah satu SMA di Tangerang, Banten, saat ditemui di kawasan Baduy, dilansir dari Antara, Minggu (18/1/2026).
Menurut dia, kawasan Baduy cukup menarik, karena kondisi alamnya asri dan hijau dengan topografi perbukitan.
Kunjungan pertama kali ini, lanjutnya, untuk memberikan edukasi siswa tentang kehidupan masyarakat Baduy, yang masih mempertahankan kearifan lokal dengan menjaga dan melestarikan alam serta lingkungan.
Di samping juga saat ini kawasan Baduy memasuki musim panen durian.
"Kami berharap para siswa dapat belajar ke masyarakat Baduy untuk kelestarian alam dan lingkungan," katanya.
Sementara, Armanto, wisatawan dari Jakarta mengatakan dirinya bersama rombongan teman kerjanya ke pemukiman Baduy untuk melepaskan kepengapan di ibu kota.
"Kawasan Baduy ini masih asli dan benar-benar memberikan ketenangan, kenyamanan serta kegembiraan," ujarnya.
Para wisatawan berjalan kaki menebus hutan dan jalan setapak menuju jembatan bambu Gajeboh, yang dibangun hanya dengan kekuatan ikat pohon aren tanpa menggunakan besi.
Ramon, pelajar SMA Jakarta, yang datang bersama rombongan sekolahnya, mengaku kunjungan ke kawasan pemukiman Baduy ini untuk melihat kehidupan masyarakat adat di Banten.
Menurut dia, kehidupan masyarakat Baduy luar biasa dengan kesederhanaan serta alamnya terjaga dan hijau, sehingga memberikan pelajaran bagi masyarakat untuk mencintai alam.
"Kami menginap di permukiman Baduy selama satu hari," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Kanekes, Baduy, Sarmedi Sarpin mengatakan sepanjang akhir pekan ini pengunjung saba budaya Badui mencapai hingga 4.500- 6.000 orang dan kebanyakan mereka datang bersama rombongan.
Sekarang, banyak wisatawan ke sini, karena panen durian dan juga tiga hari libur," katanya.
Berburu durian ke Baduy Dalam
Potret wisatawan di Baduy Luar yang hendak menuju kawasan Baduy Dalam, pada Jumat (16/1/2026).
Legit dan empuknya durian khas Baduy tidak hanya bisa didapatkan di kawasan Baduy Luar, tetapi juga di Baduy Dalam.
Kompas.com berkesempatan menjajaki kawasan Baduy Dalam pada Jumat (16/1/2026).
Perjalanan menapaki hutan sekitar tujuh jam dari pintu masuk Terminal Ciboleger siang itu cukup menantang.
Pasalnya, selain medan yang sulit, hutan Baduy siang itu tak henti disirami hujan. Alhasil membuat jalanan licin dan memperpanjang waktu perjalanan.
Berdasarkan pengalaman Kompas.com berkunjung ke Baduy Dalam saat musim kemarau, yakni pada bulan Agustus 2025, perjalanan menuju Baduy Dalam dari pintu masuk Ciboleger bisa ditempuh kurang dari lima jam.
Meski jalanan hutan tampak ramai siang itu di kawasan Baduy Luar, tetapi semakin menuju tengah hutan dan memasuki Baduy Dalam, hutan sudah mulai tampak sepi.
Hanya beberapa kelompok trip yang masih tetap berjalan sembari menggendong ransel di tengah hujan.
Jelang malam sekitar pukul 18.00 WIB, jalanan terasa semakin becek dan curam, cahaya matahari sudah mulai redup, hutan sudah mulai gelap, dan bunyi jangkrik mulai bersahut-sahutan.
Lelah mulai terasa, jarak pandang mulai pendek. Tidak ada pilihan menyerah dan memutar haluan pulang, sebab jalan kembali ke pintu masuk pun juga sudah kepalang jauh.
Alhasil, sembari tetap melangkah pelan, kami tiba di perkampungan Baduy Dalam saat hutan sudah gelap.
Tidak tau persis pukul berapa kami tiba, sebab semua alat elektronik termasuk ponsel sudah tidak boleh dinyalakan.
Setibanya di Baduy Dalam, kami menginap di salah satu rumah warga, yaitu rumah Ayah Samid.
Sesuai dengan harapan, di sana kami disuguhi buah durian yang aromanya semerbak meski belum dibelah.
"Buah durian di sini tumbuh alami di hutan, tidak ada pakai pupuk kimia, jadi rasanya lebih manis," kata ayah Samid malam itu sembari membelah buah durian menggunakan golok.
Kala daging buah durian mampir ke mulut, legitnya terasa memenuhi lidah. Dagingnya berwarna kuning pucat, tidak terlalu tebal, tapi tak pula terlalu tipis.
Amboi, benarlah adanya, buah durian di tanah Baduy Dalam terasa begitu nikmat. Apalagi disantap bersama di dalam rumah panggung bercahayakan lilin.
Ditemani jahe hangat berwadah bambu yang diseduh Ambu (sebutan ibu di Baduy Dalam), bincang malam itu seputar durian Baduy Dalam terasa begitu hangat.
Berdasarkan pengalaman Kompas.com, bagi yang hendak berburu durian, bisa mampir ke Baduy Luar.
Tetapi jika ingin merasakan pengalaman berbeda, mengenal budaya Baduy yang jauh dari peradaban, tidak ada salahnya melangkah lebih jauh ke Baduy Dalam.
Namun, sedikit saran, hindari berkunjung ke Baduy Dalam saat musim hujan, karena jalanan licin dan akan memperpanjang waktu selama di perjalanan.
Tag: #ramai #berburu #durian #baduy #buah #durian #tumbuh #alami #rasa #lebih #manis