Greenland, Sejarah dan Pariwisata Pulau Es yang Ingin Dicaplok Trump
- Greendland Kembali menjadi sorotan internasiolah setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berupaya merebut pulau es tersebut.
Greenland sendiri merupakan wilayah semi-otonomi dari Denmark. Meski masuk bagian dari benua Amerika Utara, Greenland telah dikuasai Denmark selama lebih kurang 300 tahun.
Greenland juga menjadi destinasi wisata yang kerap dikunjungi wisatawan. Menambahkan dari laman resmi Visit Greenland, salah satu daya tarik utama di Greenland yaitu terdapat situs warisan dunia UNESCO Icefrod.
Icefrod merupakan kumpulan besar gunung es yang telah terlepas dari gletserr Sermeq Kujalleg satu per satu.
Selain gunung es, di sana juga ada Pusat Ilulissar Icefjord, yaitu pusat pengunjung dan penyebaran informasi melalui pameran “Kisah Es”.
Di sana wisatawan akan diberi tahu tentang sejarah es, budaya di dalam dan sekitar Icefjord, serta perubahan iklim.
Ilustrasi Mengapa Greenland Disebut Tanah Hijau, Padahal Hampir Seluruhnya Es?Pameran Pusat Icefjord didasarkan pada penelitian dan data, dan menjelaskan sejarah alam dan budaya unik di daerah tersebut, serta perubahan iklim yang dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas.
Pariwisata di Greenland juga menunjukkan pertumbuhan pesat. Jumlah wisatawan asing yang menginap meningkat lebih dari 50 persen sejak tahun 2000.
Sementara itu, jumlah penumpang kapal pesiar yang singgah di Greenland melonjak sekitar 150 persen dalam periode yang sama.
Wisatawan datang untuk menyaksikan gunung es yang hanyut, paus bungkuk, beruang kutub, musk ox, walrus, rusa kutub, hingga elang laut sehingga menjadikan Greenland salah satu destinasi Arktik paling memikat di dunia.
Sejarah singkat Greenland
Ilustrasi Greenland.Manusia pertama diperkirakan tiba di Greenland sekitar 4.000–5.000 tahun lalu. Mereka berasal dari benua Amerika Utara dan masuk melalui wilayah Kanada, ketika laut di Selat Thule, Greenland utara, membeku.
Seiring waktu, setidaknya enam budaya Inuit bermigrasi ke wilayah ini dalam gelombang yang berbeda.
Penduduk Greenland saat ini merupakan keturunan dari migrasi terakhir, yakni budaya Thule, yang mulai datang sekitar abad ke-13.
Pada periode yang sama, sekelompok bangsa Nordik yang dipimpin Erik the Red—Viking asal Norwegia—mendirikan permukiman di Greenland selatan. Namun, populasi Nordik ini menghilang sekitar tahun 1500 Masehi, dengan penyebab yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.
Iklim Arktik membuat penduduk Greenland lebih banyak menetap di wilayah pesisir, baik di kota maupun permukiman kecil. Secara historis, perikanan dan berburu menjadi kunci bertahan hidup, mengingat musim panas yang sangat singkat.
Meski dikenal kaya mineral langka, Greenland menegaskan tak ingin menjadi negara tambang besar. Pemerintah hanya mengizinkan segelintir proyek demi menjaga lingkungan dan masyarakat lokal.
Kondisi alam juga membuat pertanian hampir mustahil dilakukan, kecuali di wilayah selatan ekstrem, tempat peternakan domba masih berkembang.
Pulau Greenland dikelola sebagai koloni hingga pertengahan abad ke-20. Pada 1953, Greenland menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan penduduk Greenland menjadi warga negara Denmark.
Pada 1979, referendum tentang otonomi memberikan Greenland kendali atas sebagian besar kebijakan di wilayahnya, sementara Denmark tetap mengendalikan urusan luar negeri dan pertahanan.
Greenland terletak di Arktik dan berjarak hampir 3.000 km dari Denmark, selanjutnya menjadi tempat bagi pangkalan militer Denmark maupun Amerika Serikat.
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Denmark, wilayah raksasa di kawasan Arktik ini dihuni sekitar 56.000 jiwa. Meski memiliki pemerintahan lokal yang luas dan otonom, Greenland tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark.
Mayoritas penduduknya tinggal di sekitar 20 persen wilayah daratan yang tidak tertutup es dan salju. Selebihnya, pulau ini didominasi lapisan es raksasa.
Hampir 90 persen dari penduduk di Greenland adalah Inuit, yang nenek moyangnya diyakini berasal dari Siberia bagian timur, dan melakukan perjalanan ke Greenland melalui Kanada pada abad ke-13.
Tradisi dan kehidupan kontemporer
Ilustrasi Greenland, aktivitas warga di Greenland. Greenland modern adalah perpaduan antara tradisi dan kehidupan kontemporer. Di satu sisi, terdapat kota-kota modern dengan bandara yang ramai, pusat perbelanjaan, lembaga pendidikan, kafe yang hangat, hingga bioskop.
Di sisi lain, Greenland juga mempertahankan kota-kota kecil dan permukiman tradisional, di mana berburu anjing laut masih menjadi sumber penghasilan utama.
Warga Greenland memiliki akses terhadap pendidikan yang dibiayai negara, layanan kesehatan publik, serta sistem pensiun. Denmark juga memberikan dukungan finansial berupa dana hibah tahunan yang signifikan.
Sektor perikanan hingga kini masih menjadi tulang punggung ekonomi Greenland. Namun, industri ini tak lagi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak sebelumnya.
Pemerintah Greenland pun mulai melirik potensi sumber daya mineral, seperti emas, gas alam, berlian, timbal, dan seng. Tujuannya adalah menarik investasi asing sekaligus mengembangkan layanan pendukung sektor tersebut.
Tag: #greenland #sejarah #pariwisata #pulau #yang #ingin #dicaplok #trump