Menteri Pariwisata Bantah Wisata Bali Sepi, Sebut Hanya Turun 2 Persen
Ilustrasi Pulau Bali. Daftar hari libur lokal di Bali 2025, termasuk hari libur nasional dan cuti bersama 2025.(Freepik/halayalex)
18:14
27 Desember 2025

Menteri Pariwisata Bantah Wisata Bali Sepi, Sebut Hanya Turun 2 Persen

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana membantah kondisi pariwisata Bali sepi selama libur akhir tahun 2025.

“Bali tidak sepi, tetap ramai. Hanya ada penurunan sedikit saja sekitar dua persen,” kata Menpar Widiyanti, dikutip dari Antara, Sabtu (27/12/2025).

Menurut dia, penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali disebabkan oleh banyaknya informasi cuaca Bali yang tidak baik, serta kondisi lain.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers BINA Indonesia Great Sale 2025 di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2025).dok. HIPPINDO Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers BINA Indonesia Great Sale 2025 di Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta Pusat, Jumat (21/11/2025).Hal-hal tersebut memengaruhi keputusan pelancong domestik untuk tidak berlibur ke Pulau Dewata.

"Jadi mereka berjalan-jalan di Jawa, kebanyakan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta juga terlihat ada peningkatan luar biasa," ungkap Menpar Widiyanti.

Meski jumlah kunjungan wisatawan ke Bali mengalami penurunan, Menpar Widiyanti memaparkan bahwa sejauh ini, sudah ada 6,8 juta kunjungan wisatawan ke Bali.

Angka tersebut hampir memenuhi target kunjungan ke Bali sebanyak tujuh juta sepanjang 2025.

Cuaca tidak mendukung

Selaras dengan pernyataan Menpar, Gubernur Bali Wayan Koster juga sempat menyampaikan bahwa lengangnya lalu lintas dan sepinya panggilan kerja para sopir pariwisata dipengaruhi oleh cuaca musim hujan, yang memengaruhi aktivitas wisatawan.

“Kan sekarang musim hujan, banjir, mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan banyak yang istirahat, jadi ini datanya riil baik dari Angkasa Pura maupun dinas pariwisata,” kata Koster.

Isu sepinya wisatawan mancanegara di periode akhir tahun juga diprediksi karena rendahnya okupansi dampak dari banyaknya wisatawan menggunakan fasilitas OTA AirBnB yang tidak membayar pajak dan sulit ditelusuri.

Dengan begitu, peningkatan jumlah wisatawan tidak sebanding dengan peningkatan hunian hotel restoran.

Masih low season di Bali

Lebih lanjut, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya mengatakan bahwa pada bulan November sampai pertengahan Desember merupakan periode low season di Bali.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan November sampai pertengahan Desember adalah low season," kata Wayan, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (27/12/2025).

Menurut dia, puncak berlibur ke Bali terjadi pada Juni hingga September 2025 yang mencapai 20.000 kunjungan per hari.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada Oktober 2025 tercatat sebanyak 594.853 kunjungan.

Sementara itu, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang berkunjung ke Bali pada Oktober 2025 tercatat sebanyak 2,1 juta kunjungan.

Wayan berharap, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali akan terus meningkat jelang akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026. Peningkatan kunjungan ini, sambungnya, tidak hanya berlaku untuk wisman, tetap juga wisnus.

Alasan Bali sepi

Ilustrasi Pura Ulun Danu Beratan di Kabupaten Tabanan, Bali. Pura ini adalah salah satu daya tarik pariwisata di Pulau Dewata.UNSPLASH/GUILLAUME MARQUES Ilustrasi Pura Ulun Danu Beratan di Kabupaten Tabanan, Bali. Pura ini adalah salah satu daya tarik pariwisata di Pulau Dewata.Berbanding terbalik dengan Menpar dan Kadispar Bali, Ketua Asosiasi Agen Tur dan Perjalanan Indonesia (ASITA) Bali, I Putu Winastra, justru tidak menampik adanya penurunan kunjungan wisatawan ke Bali saat ini.

Ia bahkan menjelaskan sejumlah faktor penyebab terjadinya penurunan kunjungan wisatawan ke Bali jelang libur Natal dan Tahun Baru saat ini.

Pertama, sebagian besar wisatawan Eropa Barat yang memang tidak terlalu banyak bepergian saat Natal dan Tahun Baru.

Bukan bepergian ke luar negeri, mereka lebih banyak memilih berkumpul bersama keluarga di rumah.

Selanjutnya, pemberitaan negatif terkait destinasi di Bali yang belakangan dinilai sangat masif di media sosial.

“Saya juga melihat bahwa pemberitaan terhadap Bali sebagai destinasi sangat masif sekali di media sosial. Terutama hal-hal yang negatif, pemberitaan terkait dengan banjir, kemudian sampah, kemacetan, dan overtourism,” kata Putu.

Pemberitaan negatif tersebut justru dimanfaatkan oleh negara kompetitor untuk memanfaatkan situasi sehingga wisatawan memilih berkunjung ke destinasi lain, dengan faktor keamanan dan keselamatan sebagai bahan pertimbangan.

“Bali masih banyak tempat-tempat yang bagus, tidak hanya Bali bagian selatan. Ada desa-desa wisata yang juga cantik,” tuturnya.

Menurut Putu, bencana yang terjadi di Bali tentu perlu diterima dan diinformasikan. Namun, sambungnya, informasi destinasi wisata lainnya tentu perlu disebarluaskan agar wisatawan tidak semata-mata mengkonsumsi informasi negatif di media sosial.

"Pemerintah wajib memberikan pelurusan terhadap informasi-informasi itu. Contoh, Bali tidak hanya Kuta, Sanur, Canggu, Nusa Dua, kami juga punya Singaraja, kami punya Karang Asem, yang daerahnya cukup cantik-cantik," saran dia.

Belum lagi, faktor konektivitas yang juga turun dan mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali.

Bandara I Gusti Ngurah Rai.DOK. Humas InJourney Airports Bandara I Gusti Ngurah Rai.Misalnya, untuk penerbangan dalam jangka waktu yang panjang (long flight), wisatawan perlu transit di hub yang juga terintegrasi dengan destinasi lain di Asia Tenggara. 

"Ketika dari Eropa ke Bali ini harganya jauh lebih mahal daripada ke Vietnam, misalnya, orang pasti akan memilih Vietnam," katanya.

Hal yang sama juga dirasakan banyak wisatawan nusantara. Mahalnya harga tiket pesawat ke Indonesia bagian timur, termasuk Bali, menjadi salah satu alasan wisatawan tidak memilih Bali menjadi destinasi tujuan.

Ia melanjutkan, wisatawan kini cenderung memilih destinasi yang dekat dan bisa lebih mudah dijangkau.

"Anggap misalnya dari Jakarta tidak perlu flight, mereka bisa naik kereta api, bisa naik mobil (ke Yogyakarta), yang mana tidak terlalu jauh. Kalau ke Bali, kalaupun naik mobil, jauh sekali," pungkas dia.

Tag:  #menteri #pariwisata #bantah #wisata #bali #sepi #sebut #hanya #turun #persen

KOMENTAR