Mengenal Gereja Puhsarang: Kisah Spiritual, Arsitektur Majapahit, dan Tradisi yang Hidup di Tengah Umat
Gereja Puhsarang di Kediri, Jawa Timur. (Istimewa)
01:56
18 November 2025

Mengenal Gereja Puhsarang: Kisah Spiritual, Arsitektur Majapahit, dan Tradisi yang Hidup di Tengah Umat



- Gereja Puhsarang di Kediri kembali mencuri perhatian setelah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Di balik kemegahannya, kawasan religi ini menyimpan kisah-kisah spiritual yang tidak tercatat dalam buku sejarah. Sebuah kisah yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang datang untuk berdoa, menyepi, atau sekadar menata batin.

Terletak di lereng Gunung Wilis, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Kediri, Gereja Puhsarang telah lama menjadi tujuan peziarah dari Jawa Timur hingga luar provinsi. Gua Maria Lourdes Puhsarang, yang menjadi ikon kawasan tersebut, selalu menjadi pusat devosi umat dan simbol keheningan yang menenangkan.

Penetapan Gereja Puhsarang sebagai cagar budaya nasional dilakukan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 13 Agustus 2024. Kategori yang tercakup meliputi benda, bangunan, situs hingga kawasan, sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana menegaskan komitmennya terhadap pengembangan kawasan heritage.

"Ke depan kami juga akan mendorong pariwisata di Kabupaten Kediri dan menguatkan tagline Kediri Berbudaya," ujarnya.

Langkah ini membuka peluang besar bagi Puhsarang untuk semakin dikenal secara nasional sebagai destinasi religi dan wisata budaya.

Arsitektur Paduan Jawa–Eropa dan Energi Leluhur Majapahit

Sekilas tampak seperti gereja pada umumnya, Puhsarang sebenarnya menyimpan detail arsitektur unik. Komplek gereja ini dibangun dengan sentuhan Majapahit. Mulai dari punden berundak, candi Jawa, hingga batu bata merah yang menjadi simbol lokal.

Paduan tersebut menjadikan Puhsarang sebagai pusat inkulturasi budaya Jawa dan Eropa, tempat di mana iman dan tradisi masyarakat lokal saling menyatu.

Banyak peziarah percaya kawasan ini menyimpan “energi leluhur” dari masa Majapahit dan Kediri kuno, menciptakan aura teduh yang sulit dijelaskan.

Gereja Puhsarang di Kediri, Jawa Timur. (Istimewa)

Gua Maria Lourdes: Pusat Devosi dan Tirto Kamulyan

Gua Maria Lourdes Puhsarang menjadi tempat yang paling sering dikunjungi. Patung Bunda Maria setinggi 4 meter berdiri di tengah gua yang tersusun dari batu vulkanik Gunung Kelud. Patung ini dibangun kembali oleh PT Gudang Garam Tbk dan pihak pengelola pada 1997 sebelum diresmikan tahun 2000.

Di dalamnya, mengalir air jernih yang disebut masyarakat sebagai tirto kamulyan, atau air pembawa kemuliaan. Banyak peziarah meyakini air ini membawa ketenangan dan bahkan energi penyembuhan.

Malam Jumat Legi: Saat Energi Doa Menguat

Tradisi Misa Tirakatan pada Malam Jumat Legi menjadi salah satu momen paling sakral di Puhsarang. Peziarah dari berbagai kota datang untuk berdoa, membawa intensi pribadi, dan mengikuti misa yang dipimpin seorang Romo.

Saat malam tiba, kawasan menjadi hening namun penuh makna. Peziarah membakar ujut—permohonan yang ditulis di kertas—di tungku khusus sebagai simbol pelepasan diri.

Kristin, pengunjung asal Tangerang, datang khusus untuk merasakan kedalaman spiritual malam itu.

"Nggak selalu setiap Jumat Legi saya kemari, tetapi pada saat tertentu ketika senggang. Kalau malam Jumat Legi, suasananya lain. Doa rasanya lebih dalam, seperti bisa berbicara langsung kepada Tuhan," jelasnya.

Ia juga mengatakan perjalanan menuju Puhsarang kini lebih mudah.

"Saya cukup naik pesawat dan mendarat langsung di bandara kediri Dhoho (International Airport) lalu pakai taksi online ke sini. Jaraknya nggak sampai satu jam," ujarnya.

Air yang mengalir di gua berasal dari sumber alami di Gunung Wilis. Secara ilmiah, air terasa dingin karena melewati batuan vulkanik. Namun bagi banyak umat, air ini memiliki makna rohani.

Santoso, pengurus Gua Maria, menuturkan kepercayaan umat terhadap air tersebut.
"Memang air ini dipercaya mengandung berkah dan khasiat. Ada yang minum untuk kesehatan," katanya.

Gabungan antara fakta geologis dan keyakinan umat inilah yang membuat Puhsarang unik.

Warga sekitar menceritakan bahwa menjelang Hari Raya Bunda Maria, udara di sekitar gua kerap terasa lebih hangat dan harum. Ada yang mengaku melihat cahaya lembut yang diyakini sebagai tanda kehadiran Bunda Maria.

"Yang datang ke sini tidak hanya Katolik,” ujar seorang penjaga kompleks. “Banyak orang dari berbagai agama datang dengan niat baik. Ada yang mengambil air, ada yang hanya duduk dan berdiam. Tapi hampir semua pulang dengan wajah yang lebih tenang," ucapnya.

Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia Ninie Susanti Tedjowasono menegaskan keunikan gereja ini.

"Gereja ini tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga merupakan contoh arsitektur yang menggabungkan budaya lokal dan Eropa," katanya.

Tempat Para Tokoh Menepi dan Mencari Kejernihan Pikiran

Tak sedikit tokoh nasional, dari pejabat hingga seniman, dikabarkan pernah diam-diam berziarah ke Puhsarang. Mereka datang larut malam, berdoa di bawah lampu minyak, lalu pergi sebelum fajar.

Santoso mengingat sebuah peristiwa menarik.

"Pernah waktu itu ada mobil dinas berhenti malam-malam. Tidak ada wartawan, tidak ada pengawalan ramai. Katanya hanya ingin ‘menenangkan diri’ sebelum mengambil keputusan penting," ungkapnya.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #mengenal #gereja #puhsarang #kisah #spiritual #arsitektur #majapahit #tradisi #yang #hidup #tengah #umat

KOMENTAR