Visi Telkom 3.0 Dian Siswarini: Bukan Sekadar Restrukturisasi, Tapi Lompatan Nilai
Direktur Utama PT. Telkom Indonesia Dian Siswarini berpose setelah diwawancara Kompas.com di The Telkom Hub Building, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).(KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA)
11:06
20 Februari 2026

Visi Telkom 3.0 Dian Siswarini: Bukan Sekadar Restrukturisasi, Tapi Lompatan Nilai

- Duduk di ruang tamu di kantor pusat Telkom di Jakarta, medio Februari lalu, Dian Siswarini berbicara panjang soal masa depan perusahaan pelat merah tersebut.

Dalam program Naratama Kompas.com, Direktur Utama Telkom itu memaparkan agenda besar yang ia sebut sebagai Telkom 3.0 atau TLKM 30.

Dian resmi menjabat sebagai Direktur Utama Telkom sejak Mei 2025 dan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Telkom sejak perusahaan tersebut berdiri.

Latar belakangnya di industri telekomunikasi dan transformasi digital menjadi bekal penting dalam mengawal perubahan besar di tubuh Telkom Group.

Menurut Dian, Telkom 3.0 adalah agenda transformasi lima tahun, dari 2025 hingga 2030.

Baca juga: RUPSLB Telkom 2025, Ini Daftar Jajaran Direksi dan Komisaris

“Tujuannya sederhana, tapi ambisius. Bagaimana Telkom ini punya valuasi yang jauh lebih tinggi dan menjadi perusahaan digital berkelas dunia,” ujarnya.

Bagi Dian, transformasi ini bukan sekadar restrukturisasi organisasi, melainkan perubahan menyeluruh, mulai dari cara bekerja, cara mengelola modal, hingga cara perusahaan dipersepsikan oleh pasar.

Empat pilar transformasi

Dengan muka berseri, Dian menjelaskan bahwa Telkom 3.0 berdiri di atas empat pilar utama.

Pilar pertama adalah operational excellence. Dian menekankan pentingnya perbaikan tata kelola (governance), transformasi budaya kerja, serta disiplin dalam alokasi modal.

“Setiap capital yang kita keluarkan harus masuk ke operasi yang menghasilkan nilai paling optimal,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kualitas jaringan dan layanan pelanggan. Menurutnya, industri telekomunikasi saat ini tidak lagi bisa bersaing hanya dengan harga.

“Kalau masih kompetisi harga, itu sudah ‘so yesterday’. Sekarang faktor pembeda ada di kualitas,” ujarnya.

Pilar kedua adalah streamlining, atau penyederhanaan struktur grup. Saat ini Telkom memiliki lebih dari 60 anak perusahaan.

“Telkom ini terlalu gemuk,” kata Dian lugas. Dari total 66 entitas, ke depan jumlahnya ditargetkan maksimal sekitar 20 perusahaan saja.

Dirut Telkom, Dian Siswarini (kanan) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin di kantor pusat Telkom, Rabu (11/2/2026).KOMPAS.com/Reska K. Nistanto. Dirut Telkom, Dian Siswarini (kanan) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin di kantor pusat Telkom, Rabu (11/2/2026).

Unit usaha yang tidak masuk core business, tumpang tindih, atau tidak menghasilkan value akan divestasi, digabung, atau ditutup. “Kita harus fokus. Tidak bisa ke kiri dan ke kanan lagi,” tegasnya.

Holding yang lebih bersih 

Pilar ketiga adalah perubahan modus operandi. Dian menjelaskan, Telkom akan bertransformasi menjadi strategic holding murni. Artinya, induk perusahaan tidak lagi menjalankan bisnis operasional secara langsung.

Struktur bisnis Telkom akan difokuskan pada empat klaster utama, yaitu:

  • B2C (Telkomsel)
  • B2B Infrastruktur (FiberCo, TowerCo, Data Center, Satellite)
  • B2B ICT (solusi enterprise)
  • Bisnis internasional (Telin)

“Market harus bisa melihat Telkom itu apa. Sekarang yang terlihat hanya B2C. Yang lain seolah tersembunyi,” katanya.

Unlock value infrastruktur

Pilar keempat menurut Dian, adalah unlock value, yaitu upaya untuk membuka nilai dari aset yang selama ini belum terefleksi optimal dalam valuasi perusahaan.

Baca juga: Profil Dian Siswarini, Mantan CEO XL Axiata yang Kini Jabat Dirut Telkom

Ia mencontohkan jaringan fiber Telkom yang kini akan dipisahkan ke entitas khusus, yakni FiberCo (Infranexia). Jika tetap berada dalam struktur Telco tradisional, aset tersebut dinilai pasar dengan multiple sekitar 5–6 kali.

Namun sebagai perusahaan infrastruktur murni, valuasinya bisa mencapai 10–12 kali, bahkan lebih di pasar global.

“Kenapa tidak kita pisahkan supaya nilainya terlihat sesuai bisnisnya?” ujarnya.

Infranexia sendiri telah dibentuk sejak 2023, dengan pemindahan aset dilakukan bertahap. Dian menargetkan entitas ini akan matang dan stabil pada 2027.

2026 tahun pembuktian

Dalam perbincangan di Naratama Kompas.com itu, Dian juga menekankan bahwa narasi transformasi saja tidak cukup. Eksekusi menjadi kunci.

Ilustrasi karyawan Telkom Group.Dok. Telkom Ilustrasi karyawan Telkom Group.

Story-nya bagus. Investor suka. Tapi sekarang waktunya membuktikan,” katanya.

Ia menyebut 2026 sebagai tahun pembuktian kemampuan Telkom mengeksekusi rencana transformasi secara konkret dan terukur.

Transformasi ini juga menuntut penyatuan langkah 21.400 karyawan Telkom agar bergerak dalam irama yang sama.

“Ini bukan cuma soal teknologi, tapi soal budaya, governance, dan kepercayaan,” ujarnya.

Di tengah dinamika geopolitik global dan pentingnya kedaulatan digital, Dian menegaskan Telkom memiliki posisi strategis sebagai BUMN yang menguasai infrastruktur darat, laut, udara, satelit, hingga data center.

“Kita sudah punya fondasi infrastruktur paling lengkap. Sekarang tugasnya memastikan kualitas dan value-nya meningkat,” katanya.

Sebagai perempuan pertama yang memimpin Telkom, Dian membawa pendekatan yang menekankan transparansi, disiplin eksekusi, dan fokus pada penciptaan nilai jangka panjang.

Baginya, Telkom 3.0 adalah lompatan besar, bukan hanya untuk meningkatkan market cap saja, tetapi untuk memastikan Telkom relevan dan kompetitif di panggung digital global.

Wawancara lengkap Dirut Telkom, Dian Siswarini bisa disimak di kanal YouTube Kompas.com di tautan beirkut ini.

Tag:  #visi #telkom #dian #siswarini #bukan #sekadar #restrukturisasi #tapi #lompatan #nilai

KOMENTAR