Harga Bitcoin Hari ini Makin Ambles, Anjlok ke 62.303 Dollar AS
- Harga mata uang kripto (cryptocurrency) Bitcoin makin ambles.
Dalam sesi perdagangan Kamis (5/2/2026) waktu Amerika Serikat, Bitcoin bahkan sempat menyentuh level 62.303 dollar AS atau sekitar Rp 1,05 miliar dengan kurs Rp 16.886.
Ini menjadi posisi terendah sejak 6 November 2024, ketika Bitcoin diperdagangkan di kisaran 68.898 dollar AS (sekitar Rp 1,16 miliar) per kepingnya.
Pantauan KompasTekno saat berita ini ditulis, Jumat (6/2/2026) pagi, harga aset kripto paling bernilai di dunia ini bergerak di rentang sekitar 64.500 dollar AS atau setara Rp 1,08 miliar. Dalam sepekan terakhir, nilainya telah tergerus sekitar 23 persen.
Jika ditarik lebih jauh, Bitcoin telah berada dalam tren penurunan selama lebih dari tiga bulan. Kini sudah jatuh lebih dari 45 persen dari rekor tertingginya di level 126.000 dollar AS (kira-kira Rp 2,12 miliar) yang dicapai pada Oktober 2025.
Baca juga: Ini 3 Penyebab Harga Bitcoin Terjun Bebas Minggu Ini
Artinya, harga BTC sudah menguap sekitar 62.000 dollar AS atau setara Rp 1,04 miliar hanya dalam empat bulan saja.
Pantauan KompasTekno, saat berita ini ditulis, Jumat (6/2/2026) pagi WIB, harga Bitcoin bergerak di rentang 64.000?64.500 dollar AS. Dalam sepekan terakhir, nilainya telah tergerus sekitar 23 persen.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lain mengalami koreksi yang bahkan lebih dalam. Ether dilaporkan anjlok sekitar 34,5 persen hanya dalam sepekan terakhir dan berada di jalur penurunan mingguan terburuk sejak November 2022.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lain mengalami koreksi yang bahkan lebih dalam.
XRP juga terus melemah, anjlok 32 persen dalam seminggu belakangan. Sementara Solana kini jatuh ke level sekitar 77,77 dollar AS (sekitar Rp 1,3 juta) jadi titik terendah setahun terakhir.
Prediksi suram Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa tekanan terhadap harga mata uang kripto (cryptocurrency) Bitcoin belum berakhir.
Tren pergerakan Bitcoin dinilai masih cenderung melemah (fase bearish) dan berpotensi turun ke level 50.000-an dollar AS (sekitar Rp 844,3 juta) dalam beberapa waktu ke depan.
Istilah bearish sendiri merujuk pada kondisi pasar ketika harga aset cenderung turun, sentimen investor negatif, dan pelaku pasar lebih banyak menjual daripada membeli.
Analis pasar Eric Crown menilai penurunan ini belum selesai. Ia memperkirakan Bitcoin masih bisa turun ke kisaran 55.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS (sekitar Rp 928,7 juta hingga Rp 1,01 miliar) sebelum akhirnya menemukan titik stabil.
Menurut Crown, pelemahan ini masih tergolong wajar jika dilihat dari siklus besar Bitcoin. Siklus besar merujuk pada pola pergerakan harga Bitcoin yang berulang setiap beberapa tahun, biasanya dipengaruhi oleh peristiwa halving, fase euforia pasar, lalu diikuti fase koreksi tajam.
Baca juga: Harga Bitcoin Makin Terperosok, Sentuh Angka Terendah Sejak 2024
Dalam siklus ini, lonjakan harga ekstrem hampir selalu diikuti penurunan dalam sebelum pasar kembali pulih.
Pandangan serupa disampaikan Head of Research Galaxy Digital, Alex Thorn. Ia menyoroti data historis yang menunjukkan bahwa ketika Bitcoin sudah turun lebih dari 40 persen dari puncak harga tertingginya, koreksi sering kali berlanjut hingga mendekati 50 persen.
Jika menilik dari riwayat sebelumnya, dari rekor 126.000 dollar AS, penurunan 50 persen akan membawa harga Bitcoin ke area sekitar 58.000 dollar AS atau hampir Rp 979,4 juta.
Dalam sejarah BTC, setiap kali pasar masuk fase bearish, harga kerap mendekati harga terendah sebelum akhirnya berbalik arah.
Meski terdengar suram, tidak semua analis memandang kondisi ini sepenuhnya negatif. Level 55.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS justru dianggap sebagian pelaku pasar sebagai zona akumulasi, yakni level harga yang menarik untuk membeli secara bertahap bagi investor jangka panjang.
Namun dalam jangka pendek, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil alias bisa turun atau naik drastis dalam waktu singkat.
Kepercayaan investor memudar
Ilustrasi aset kripto.
Anjloknya harga Bitcoin mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap aset yang selama ini dipromosikan sebagai “emas digital” dan penyimpan nilai alternatif.
Analis Deutsche Bank, Marion Laboure, menilai aksi jual yang terjadi saat ini menunjukkan minat investor tradisional terhadap kripto mulai menyusut.
Menurut dia, pesimisme terhadap pasar kripto kian menguat seiring tidak terwujudnya klaim-klaim besar yang selama ini dilekatkan pada Bitcoin.
Kinerja Bitcoin juga makin tertinggal dibanding emas. Dalam setahun terakhir, harga Bitcoin turun hampir 30 persen.
Sementara emas justru melonjak sekitar 68 persen pada periode yang sama. Kondisi ini membuat sebagian investor kembali melirik aset konvensional sebagai tempat berlindung.
Faktor lain yang memperberat tekanan adalah perubahan sikap investor institusional. Jika sebelumnya institusi besar kerap dianggap sebagai penopang harga Bitcoin, kini justru mereka yang terlihat melepas kepemilikan.
Laporan CryptoQuant menyebutkan bahwa permintaan institusional terhadap Bitcoin mengalami pembalikan signifikan. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, yang tahun lalu menjadi pembeli bersih puluhan ribu BTC, kini tercatat sebagai penjual bersih sepanjang 2026.
Faktor lain dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang makin ketat, terutama setelah Kevin Warsh dinominasikan sebagai calon Ketua The Fed (bank sentral AS) berikutnya oleh Presiden AS Donald Trump.
Trump memilih calon pengganti Jerome Powell itu pada Jumat (30/1/2026). Setelah itu, investor bereaksi dengan sentimen negatif.
Menurut pendiri 10x Research, Markus Thielen, arah kebijakan yang dibawa Warsh berpotensi menjadi kabar buruk bagi kripto karena menekankan disiplin moneter, suku bunga riil yang lebih tinggi, serta pengetatan likuiditas.
Suku bunga riil tinggi itu racun buat aset berisiko, termasuk kripto. Karena salah satu dampaknya adalah membuat dollar AS jadi lebih menarik. Biaya pinjaman menjadi sangat mahal dan imbal hasil menabung menjadi sangat menarik karena daya beli uang meningkat.
Alhasil investor lebih pilih memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, misalnya menyimpan uang di dollar atau obligasi AS.
Kondisi tersebut membuat investor menarik dana dari aset-aset berisiko, termasuk kripto, seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya. Semakin banyak investor yang jual BTC dalam waktu singkat, harga BTC otomatis terjun bebas.
Faktor selanjutnya adalah molornya kepastian regulasi kripto di AS. Harapan pasar terhadap aturan yang lebih jelas kembali tertunda. Ini membuat banyak pemain besar memilih bersikap defensif dan menahan diri untuk makin terjun ke aset kripto.
Tekanan terhadap harga Bitcoin makin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ini setelah kepala militer Iran melontarkan peringatan soal kemungkinan serangan terhadap Israel.
Baca juga: Prediksi Suram Harga Bitcoin, Fase Terburuk Belum Lewat
Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengisyaratkan opsi aksi militer terhadap Iran, yang membuat pasar global kembali waspada.
Situasi ini diperburuk oleh laporan pergerakan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mulai memindahkan pasukan dan peralatan, menyusul pernyataan Trump yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran.
Dalam kondisi geopolitik yang tidak pasti seperti ini, investor global cenderung masuk ke mode defensif.
Ketidakpastian dianggap sebagai musuh utama pasar, sehingga aset-aset berisiko tinggi seperti kripto menjadi yang pertama dilepas.
Dana investor biasanya dialihkan ke instrumen yang dianggap lebih aman dan stabil, seperti uang tunai, obligasi pemerintah, serta logam mulia.
Dengan kondisi tersebut, para analis memperingatkan bahwa risiko penurunan lanjutan masih terbuka. Selama belum ada pendongkrak kuat yang mampu memulihkan kepercayaan dan arus dana, Bitcoin berpotensi terus bergerak di bawah tekanan dalam waktu dekat.
KompasTekno mengimbau bahwa tulisan ini murni sebagai pemberitaan terkini terkait industri kripto, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab pembaca.
Tag: #harga #bitcoin #hari #makin #ambles #anjlok #62303 #dollar