OpenAI Untung Besar, Cuan Naik hingga 10 Kali dalam 2 Tahun
Ringkasan berita:
- Pendapatan OpenAI melonjak tajam sepanjang 2025, dengan annual recurring revenue (ARR) tembus 20 miliar dollar AS atau naik hampir 10 kali lipat dibanding 2023, didorong adopsi masif ChatGPT yang kini digunakan lebih dari 800 juta pengguna mingguan serta model bisnis beragam dari langganan, API, hingga rencana iklan dan lisensi di masa depan.
- Di sisi infrastruktur dan valuasi, OpenAI kian agresif, memperluas kapasitas komputasi lewat kerja sama dengan Cerebras, Broadcom, AMD, dan Samsung, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai perusahaan swasta paling bernilai nomor dua di dunia dengan valuasi sekitar 500 miliar dollar AS per Januari 2026.
- OpenAI "menang banyak" pada 2025. Hal ini terlihat dari bisnis pengembang ChatGPT yang mencetak pertumbuhan pendapatan hingga hampir 10 kali lipat dalam dua tahun terakhir.
Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan berulang di bisnis langganan (annual recurring revenue/ARR) OpenAI menembus angka 20 miliar dollar AS (sekitar Rp 339,2 triliun) sepanjang 2025.
Angka tersebut naik signifikan, yaitu 10 kali lipat dibandingkan 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 33,9 triliun) pada 2023.
Jika dibandingkan dengan pendapatan 6 miliar dollar AS (sekitar Rp 101,7 triliun) pada 2024, cuan OpenAI pada 2025 naik lebih dari 3 kali lipat.
Dalam sebuah unggahan di blog resmi baru-baru ini, Friar menjelaskan bahwa lonjakan pendapatan ini sejalan dengan meningkatnya adopsi produk OpenAI, terutama ChatGPT, baik oleh pengguna individu maupun perusahaan.
Kini, chatbot AI yang debut perdana pada November 2022 itu sudah digunakan oleh lebih dari 800 juta pengguna tiap minggunya di berbagai penjuru dunia.
Grafik pertumbuhan komputasi dan pendapatan OpenAI 2023-2025.Seiring pertumbuhan bisnis, kebutuhan komputasi OpenAI juga meningkat drastis. Kapasitas komputasi OpenAI tercatat naik dari 0,2 gigawatt pada 2023, menjadi 0,6 gigawatt pada 2024, dan melonjak ke sekitar 1,9 gigawatt pada 2025.
“Komputasi adalah sumber daya paling langka di dunia AI,” kata Friar, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari blog OpenAI.
Menurut dia, OpenAI kini tidak lagi bergantung pada satu penyedia infrastruktur, melainkan mengelola ekosistem komputasi yang lebih beragam agar layanan AI bisa digunakan dalam alur kerja sehari-hari.
Friar menilai, ketika AI beralih dari sekadar teknologi baru menjadi kebiasaan, pola penggunaan menjadi lebih dalam dan konsisten. Kondisi ini membuat model bisnis OpenAI semakin stabil dan mendukung investasi jangka panjang.
Untuk memperluas akses, OpenAI juga mengandalkan kombinasi model bisnis. Selain layanan gratis, perusahaan menawarkan berbagai paket berlangganan. Mulai dari langganan ChatGPT Go seharga 8 dollar AS per bulan (sekitar Rp 136.000), hingga Plus dan Pro dengan tarif 20 dollar AS dan 200 dollar AS per bulan atau sekitar Rp 339.000 dan Rp 3,3 juta.
Pembuat model AI GPT dan Sora ini juga memperoleh pendapatan dari API berbasis penggunaan untuk kebutuhan pengembang dan perusahaan.
Belakangan, OpenAI mengumumkan rencana pengujian iklan untuk pengguna gratis dan ChatGPT Go di Amerika Serikat. Namun, iklan tidak akan ditampilkan untuk pelanggan Plus, Pro, Business, dan Enterprise.
Friar menegaskan bahwa sumber pendapatan OpenAI ke depan tidak akan berhenti pada langganan dan API.
Menurut dia, seiring AI masuk ke bidang riset ilmiah, penemuan obat, energi, dan pemodelan keuangan, model ekonomi baru seperti lisensi, perjanjian berbasis kekayaan intelektual, hingga skema berbasis hasil akan mulai terbentuk.
Kerja sama infrastruktur untuk topang ChatGPT
Ilustrasi tampilan platform AI ChatGPT.
Di sisi infrastruktur, OpenAI juga memperkuat fondasi teknologinya dengan menggandeng Cerebras, pembuat chip AI asal Amerika Serikat.
Melalui kerja sama ini, OpenAI akan mengintegrasikan hingga 750 megawatt komputasi berlatensi rendah secara bertahap hingga 2028.
Kolaborasi ini bertujuan membuat layanan AI OpenAI, termasuk ChatGPT, bisa merespons jauh lebih cepat. Khususnya untuk tugas-tugas berat seperti menjawab pertanyaan kompleks, menulis kode panjang, menghasilkan gambar, hingga menjalankan agen AI secara real-time.
Sebelumnya, OpenAI juga menggandeng beberapa pihak untuk terus meningkatkan layanan AI dan infrastrukturnya. Misalnya, pada Oktober 2025, OpenAI resmi menandatangani kemitraan strategis dengan raksasa semikonduktor AS, Broadcom.
Kerja sama ini ditujukan khusus untuk mengembangkan chip AI khusus (custom AI accelerators) yang mampu mengakomodir daya komputasi hingga 10 gigawatt.
Sebagai perbandingan, satu pusat data (data center) dengan kapasitas 1 gigawatt saja mampu menyalakan sekitar satu juta rumah tangga.
Artinya, jika proyek OpenAI–Broadcom ini rampung, sistem chip dan infrastruktur AI yang dibangun nantinya akan memiliki daya setara 10 juta rumah.
Perusahaan AI yang didirikan oleh Sam Altman ini juga meneken kerja sama dengan AMD untuk menyediakan komputasi atau server dengan daya hingga 6 gigawatt yang dibangun menggunakan chip GPU AI buatan AMD.
GPU AI yang digunakan dalam proyek ini adalah AMD Instinct MI450. Tahap pertama proyek ini akan dimulai pada paruh kedua 2026.
Pada tahap ini, AMD akan menyediakan 1 gigawatt GPU AMD Instinct MI450 terlebih dahulu. Dengan kapasitas server GPU lebih banyak, produk dan layanan OpenAI, seperti ChatGPT akan semakin pintar dan responsif melaksanakan perintah atau prompt.
Selanjutnya, OpenAI juga bermitra dengan Samsung. Proyek Stargate diperkirakan membutuhkan memori berkapasitas besar, yakni mencapai 900.000 wafer DRAM per bulannya.
Karena itu, dalam kolaborasi ini, Samsung berencana untuk menyediakan memori berperforma tinggi dan hemat energi.
Perusahaan swasta paling bernilai nomor dua
Ilustrasi OpenAI.
Dengan laju pertumbuhan tersebut, OpenAI kini menjadi salah satu perusahaan AI dengan pertumbuhan pendapatan tercepat di dunia teknologi global.
Secara valuasi, OpenAI kini menjadi perusahaan paling bernilai nomor dua di dunia, setelah SpaceX milik Elon Musk.
OpenAI sempat menyalip perusahaan roket milik Elon Musk yang selama ini mendominasi daftar perusahaan non-publik dengan valuasi tertinggi di dunia pada awal Oktober 2025. Namun, tak lama valuasi SpaceX kembali meningkat, mengalahkan OpenAI.
Menurut data Crunchbase Unicorn Board per 20 Januari 2026, valuasi OpenAI kini mencapai 500 miliar dollar AS atau sekitar Rp 8.486 triliun.
Istilah valuasi merujuk pada nilai total sebuah perusahaan berdasarkan perkiraan berapa harga perusahaan itu jika dijual saat ini.
Dengan valuasi ditaksir mencapai 500 miliar dollar AS, ini membuat OpenAI naik ke posisi teratas, menyalip raksasa media sosial asal Tiongkok ByteDance (induk TikTok) di posisi ketiga dan perusahaan AI Elon Musk "xAI" di posisi keempat, dirangkum KompasTekno.
Tag: #openai #untung #besar #cuan #naik #hingga #kali #dalam #tahun