Ternyata, Main Video Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda
Ilustrasi orang main game MLBB. (Dok. Pinterest/ Bambi Villanueva.)
19:06
11 Januari 2026

Ternyata, Main Video Game Bisa Bikin Otak 4 Tahun Lebih Muda

Ringkasan berita:

  • Game strategi dan action terbukti melatih otak dan bisa membuatnya tampak lebih muda.
  • Pemain StarCraft II berpengalaman punya pemrosesan informasi otak yang lebih efisien dibanding non-gamer.
  • Pemula juga dapat manfaat, tapi tetap perlu dibatasi dan seimbang dengan aktivitas lain.

- Bermain video game masih sering diasosiasikan dengan kebiasaan yang tidak produktif. Di mata sebagian orang, aktivitas ini dianggap sekadar buang-buang waktu dan tidak ada manfaatnya. 

Namun, sejumlah riset terbaru justru mengungkap temuan yang berlawanan. Dalam kondisi tertentu, bermain video game malah bisa membuat otak tampak hingga empat tahun lebih muda dibandingkan usia kronologis mereka. 

Kesimpulan tersebut muncul dari serangkaian penelitian yang menyoroti hubungan antara jenis video game tertentu dengan cara kerja otak. 

Para peneliti menemukan bahwa game yang menuntut strategi, kecepatan berpikir, dan pengambilan keputusan kompleks dapat melatih otak bekerja lebih efisien. Sebaliknyam game yang minim tantangan kognitif tidak menunjukkan dapat serupa.

Video game sebagai latihan otak

Menurut Aaron Seitz, professor psikologi sekaligys direktur Brain Game Center for Mental Fitness and Well-being di Northeastern University, pada dasarnya, bermain video game merupakan bentuk latihan keterampilan otak yang kompleks. 

Dalam wawancaranya dengan outlet media The Washington Post, Seitz menjelaskan bahwa seseorang yang sering bermain video game, secara tidak langsung melatih kemampuan otak mereka dalam memproses informasi dan beradaptasi dengan lingkungan yang dinamis. 

Menurut Seitz, kondisi ini sangat berbeda dengan game "latihan otak" konvensional yang umumnya dirancang sesederhana mungkin, tanpa ada unsur merangsang kemampuan kognitif otak manusia. 

Pandangan serupa turut disampaikan oleh C. Shawn Green dari University of Wisconsin–Madison dan Carlos Coronel. Kedua peneliti itu menilai bahwa struktur permainan dan temo game sangat menentukan dampak kognitifnya. 

Berdasarkan riset yang mereka pimpin, manfaat paling konsisten dari video game banyak ditemukan pada permainan bergenre strategi real-time atau action game bertempo cepat.

Mereka menyebut, kedua genre tersebut memiliki manfaat kognitif yang berbeda dibandingkan game yang berjalan lebih lambat atau berbasis aturan statis.

Game StarCraft II jadi objek penelitian

StarCraft II menjadi objek penelitian untuk menelaah bagaimana karakter permainan strategi tersebut memengaruhi cara kerja otak manusia. Blizzard StarCraft II menjadi objek penelitian untuk menelaah bagaimana karakter permainan strategi tersebut memengaruhi cara kerja otak manusia.

Studi yang terbit di jurnal Neurolmage pada tahun 2024, menempatkan game StarCraft II sebagai objek penelitian. 

StarCraft II sendiri termasuk dalam genre permainan strategi yang memaksa pemain (gamer) mengatur sumber daya, mengoordinasikan pasukan, dan berpikir cepat di bawah tekanan. 

Riset yang dilakukan Coronel dan timnya ini menelaah bagaimana karakter permainan strategi waktu nyata memengaruhi cara kerja otak manusia. 

Secara keseluruhan, ada 62 subjek penelitian yang terlibat, dengan rincian 31 orang merupakan pemain (gamer) StarCraft II berpengalaman, sementara 31 lainnya dari kalangan non-gamer. 

Uji coba dilakukan melalui pemindaian otak untuk melihat perbedaan cara otak keseluruhan subjek dalam memproses informasi.

Hasilnya, kelompok dari kalangan gamer berpengalaman memiliki efisiensi pemrosesan informasi yang lebih baik, dibanding non-gamer.

Gamer berpengalaman juga tercatat memiliki konektivitas yang lebih tinggi pada area otak yang berperan dalam perhatian visual dan fungsi eksekutif.

Hasil temuan tersebut kemudian diperluas dalam studi lanjutan tahun 2025 yang dipublikasikan di Nature Communications.

Dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa otak gamer berpengalaman tampak hingga empat tahun lebih muda dibandingkan usia kronologis mereka.

Menurut Coronel, hasil tersebut mengindikasikan bahwa kompleksitas kognitif dalam bermain game mirip dengan aktivitas kreatif seperti seni atau musik, di mana keduanya sama-sama dapat membantu mempertahankan koneksi saraf yang rentan terhadap penuaan. 

Aktivitas bermain game strategi juga sekaligus meningkatkan kapasitas otak dalam memproses informasi, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari TechSpot.

Gamer pemula juga dapat manfaat

Yang menarik, efek bermain video game bergenre strategi ternyata tidak hanya ditemukan pada pemain lama. Paparan dalam durasi terbatas pun menunjukkan perubahan.

Bagi non-gamer yang menghabiskan sekitar 30 jam dalam beberapa minggu untuk mempelajari StarCraft II, tercatat mengalami perlambatan penuaan otak dibandingkan peserta yang memainkan game kartu berbasis aturan seperti Hearthstone.

Coronel menegaskan bahwa meskipun latihan lebih lama memberi manfaat lebih besar, peningkatan kognitif sudah mulai terlihat bahkan ketika sebelum peserta mencapai tingkat mahir.

Kendati hasil riset ini terdengar menjanjikan karena bisa membuat otak lebih muda hingga empat tahun, para peneliti mengingatkan bahwa bermain video game secara berlebihan juga tidak baik baik kesehatan otak. 

Coronel secara khusus menekankan terkait pentingnya keseimbangan antara bermain game, dengan hal lain seperti aktivitas fisik, interaksi sosial, dan tidur. Adapun durasi bermain yang dianjurkan oleh Professor Seitz yaitu berkisar antara 30 hingga 60 menit. 

Tag:  #ternyata #main #video #game #bisa #bikin #otak #tahun #lebih #muda

KOMENTAR