Apa Itu AI Slop? Ini Dampaknya bagi Kualitas Konten Digital
The Velvet Sundown band AI(Euronews)
13:36
5 Januari 2026

Apa Itu AI Slop? Ini Dampaknya bagi Kualitas Konten Digital

Ringkasan Berita: 

  • Fenomena AI slop semakin marak di internet, ditandai dengan banjir konten buatan AI yang terlihat meyakinkan tetapi minim akurasi dan nilai informatif. Laporan The Conversation menyebut konten ini diproduksi cepat dan massal untuk memanfaatkan ekonomi perhatian, sehingga berpotensi menyingkirkan materi berkualitas.
  • AI slop kini merambah berbagai platform digital. Analisis The Guardian menunjukkan konten AI mengisi sejumlah kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat, sementara di layanan streaming seperti Spotify muncul band fiktif buatan AI. Dampaknya juga dirasakan media sastra dan platform rujukan seperti Clarkesworld dan Wikipedia yang kewalahan memoderasi konten AI berkualitas rendah.
  • Dampak AI slop tidak hanya menurunkan mutu hiburan, tetapi juga meningkatkan risiko misinformasi dan menekan kreator manusia. Adam Nemeroff dari Quinnipiac University menilai fenomena ini menjadi tantangan serius bagi ekosistem media digital, bahkan diangkat dalam Last Week Tonight with John Oliver sebagai tanda degradasi kualitas dan kepercayaan di ruang digital.

- Belakangan, linimasa media sosial dipenuhi gambar, video, hingga tulisan yang sekilas terlihat meyakinkan, tetapi terasa janggal saat diperhatikan lebih lama.

Mulai dari gambar manusia dengan anatomi janggal, tangan berlebih, hingga foto realistis seorang anak kecil yang diklaim menjadi korban banjir, konten-konten semacam ini semakin sering muncul dan menyebar luas.

Fenomena tersebut dikenal sebagai AI slop, istilah untuk menyebut konten buatan kecerdasan buatan dengan kualitas rendah hingga menengah yang dibuat tanpa perhatian serius pada akurasi atau nilai informatifnya.

Menurut laporan di The Conversation, AI slop mencakup berbagai bentuk konten. Mulai dari teks, gambar, audio, video, atau gabungannya, yang diproduksi secara cepat, murah, dan massal menggunakan alat AI.

Konten ini biasanya disebarkan untuk memanfaatkan ekonomi perhatian di internet, sehingga berpotensi menyingkirkan materi berkualitas tinggi yang sebenarnya lebih berguna bagi pembaca.

Lantas, apa sebenarnya AI slop dan apa dampaknya terhadap kualitas konten digital yang kita konsumsi sehari-hari? Selengkapnya berikut ini uraiannya.

AI Slop mulai menguasai platform digital

AI slop tidak hadir dalam satu bentuk saja, tetapi menyebar ke berbagai platform digital populer. Analisis yang dimuat oleh The Guardian pada Juli 2025 menunjukkan bahwa AI slop mulai mendominasi kanal YouTube dengan pertumbuhan tercepat.

Dari 100 kanal teratas, sembilan di antaranya diisi konten buatan AI, mulai dari video sepak bola bertema zombie hingga serial fiksi absurd tentang kucing.

Konten semacam ini umumnya tidak buruk secara visual, tetapi bersifat repetitif dan dibuat untuk menarik perhatian, bukan untuk menyampaikan cerita atau informasi bermakna.

Fenomena AI slop juga merambah dunia musik digital. Pengguna layanan streaming seperti Spotify sempat dibuat penasaran dengan kemunculan band bernama The Velvet Sundown, lengkap dengan kisah latar dan lagu yang terdengar familier.

Belakangan terungkap, band tersebut sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Musiknya tergolong “cukup enak didengar”, namun tidak memiliki keunikan artistik, contoh khas AI slop yang dirancang agar pendengar bertahan lebih lama demi meningkatkan metrik pemutaran.

Di balik maraknya AI slop, terdapat pola yang sama yaitu konten dibuat sekadar “cukup bagus” untuk menarik dan mempertahankan perhatian pengguna.

Dengan sistem monetisasi berbasis jumlah tayangan dan durasi tonton, AI slop menjadi cara cepat dan murah untuk meraup keuntungan.

Dampaknya bahkan dirasakan media sastra dan platform rujukan. Majalah fiksi ilmiah daring Clarkesworld menghentikan penerimaan naskah karena kebanjiran kiriman cerita buatan AI, sementara Wikipedia menghadapi lonjakan konten AI berkualitas rendah yang membebani sistem moderasi komunitasnya.

Dampak AI Slop terhadap ekosistem media digital

Ilustrasi AI Slopincidentdatabase.ai Ilustrasi AI Slop

Dalam artikelnya di laman The Conversation, Adam Nemeroff, Assistant Provost for Innovations in Learning, Teaching, and Technology di Quinnipiac University, menilai bahwa AI slop kini menjadi tantangan serius bagi kualitas ekosistem media digital.

Dampaknya tidak hanya menurunkan mutu hiburan, tetapi juga meningkatkan risiko misinformasi, terutama dalam situasi krisis.

Sebagai contoh, saat Badai Helene melanda Amerika Serikat, beredar gambar buatan AI yang menampilkan seorang anak kecil menggendong anak anjing dan diklaim sebagai korban bencana.

Visual tersebut digunakan untuk mendukung narasi politik tertentu. Meski sebagian pengguna menyadari bahwa gambar itu buatan AI, banyak orang tetap tertipu hanya dengan melihatnya sekilas, menunjukkan betapa efektifnya AI slop dalam memanipulasi persepsi.

Selain itu, AI slop juga menekan para kreator manusia. Konten buatan AI yang diproduksi massal dan murah sering kali tidak dibedakan secara jelas oleh algoritma platform, sehingga menyingkirkan karya seniman, penulis, dan musisi yang menggantungkan hidup dari ruang digital.

Fenomena ini bahkan diangkat dalam episode Last Week Tonight with John Oliver, yang menyoroti bagaimana banjir konten AI berkontribusi pada degradasi kualitas lingkungan media.

Kini, selain menghadapi deepfake dan akun palsu, pengguna internet juga harus bersaing dengan maraknya AI slop yang perlahan mengikis kualitas ruang digital bersama.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #slop #dampaknya #bagi #kualitas #konten #digital

KOMENTAR