YouTube Tutup Kanal Trailer Film Palsu Berbasis AI, Alarm Global bagi Ekonomi Kreator dan Tata Kelola Platform Digital
YouTube mengambil langkah tegas dengan menutup dua kanal besar yang selama ini memproduksi dan menyebarkan trailer film palsu berbasis kecerdasan buatan (AI).
Keputusan ini tidak hanya bersifat penindakan teknis, tetapi juga mencerminkan perubahan pendekatan platform digital global dalam mengatur monetisasi dan insentif kreator di tengah maraknya konten AI generatif yang menyesatkan.
Platform berbagi video milik Google tersebut secara permanen menghapus kanal Screen Culture yang berbasis di India dan KH Studio di Amerika Serikat. Keduanya memiliki gabungan lebih dari dua juta pelanggan dan mencatatkan lebih dari satu miliar kali penayangan.
Kanal-kanal ini dikenal luas karena mengunggah trailer film yang tampak autentik, tetapi sejatinya merupakan hasil rekayasa AI yang dipadukan dengan potongan gambar berhak cipta.
Dilansir dari Futurism, Kamis (25/12/2025), langkah ini disebut sebagai salah satu tindakan paling menonjol yang pernah diambil YouTube dalam memerangi apa yang kerap disebut sebagai AI slop, yakni konten berbasis AI berkualitas rendah yang membanjiri platform dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap ekosistem digital.
Penyelidikan Deadline mengungkap bahwa praktik kedua kanal tersebut melampaui sekadar kreativitas penggemar. Mereka menggabungkan cuplikan resmi film dengan visual buatan AI tanpa izin, lalu mengunggah trailer palsu lebih awal agar mendominasi hasil pencarian dan rekomendasi, bahkan mengungguli trailer resmi dari studio film terkait.
Sebelum penutupan permanen, YouTube sempat mengambil langkah bertahap dengan menghentikan monetisasi iklan dan mewajibkan penggunaan penanda seperti “fan trailer”, “parodi”, atau “konsep trailer” dalam judul video. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, label tersebut tidak lagi digunakan, sehingga dinilai melanggar kebijakan spam dan metadata yang menyesatkan.
Seorang juru bicara YouTube, Jack Malon, sebagaimana dikutip The Verge, menyatakan, “Setelah sempat disuspensi, kanal-kanal tersebut kembali memperoleh monetisasi setelah memperbaiki metadata. Namun, mereka kemudian kembali melanggar kebijakan kami terkait spam dan metadata yang menyesatkan, sehingga akhirnya dihapus dari platform.”
Langkah YouTube ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari industri hiburan global. The Walt Disney Company, misalnya, dilaporkan mengirimkan surat penghentian dan larangan (cease and desist) terkait penggunaan karakter berhak cipta dalam konten AI di YouTube.
Namun, pada saat yang sama, Disney juga mengumumkan kerja sama senilai 1 miliar dolae AS atau sekitar Rp16,75 triliun (dengan kurs Rp16.750 per dolar AS) dengan OpenAI untuk melisensikan karakter mereka pada aplikasi video generatif Sora—sebuah kontras yang menyoroti kompleksitas relasi antara inovasi dan perlindungan hak cipta.
Meski demikian, penutupan dua kanal tersebut belum menyelesaikan persoalan yang lebih luas. YouTube masih dipenuhi konten generatif AI lain, mulai dari musik hingga video panjang yang meniru figur publik, yang terus memicu perdebatan tentang etika, perlindungan penonton, dan batas tanggung jawab platform.
Di kalangan kreator, reaksi terhadap langkah YouTube tersebut pun beragam. Seorang kreator YouTube yang diwawancarai Deadline menilai penutupan kanal trailer film palsu berbasis AI sebagai momen simbolik dalam upaya membersihkan platform dari konten menyesatkan, dengan mengatakan, “Monster itu telah dikalahkan.” Namun, sejumlah analis menilai langkah ini baru permulaan, mengingat banyak kanal serupa dengan jangkauan besar masih beroperasi.
Pada akhirnya, penutupan Screen Culture dan KH Studio menegaskan perubahan sikap platform digital global. YouTube tampaknya ingin menunjukkan bahwa di tengah dorongan inovasi AI dan pertumbuhan ekonomi kreator, disiplin platform, kejelasan aturan, dan perlindungan kepercayaan publik kini menjadi taruhan utama dalam lanskap digital dunia. ***
Tag: #youtube #tutup #kanal #trailer #film #palsu #berbasis #alarm #global #bagi #ekonomi #kreator #tata #kelola #platform #digital