Pertunjukan Mourinho, Kutukan Madrid dan Drama Si Kulit Bundar
Kiper Benfica asal Ukraina Anatoliy Trubin merayakan gol keempat timnya pada laga pekan ke-8 fase liga Liga Champions antara SL Benfica dan Real Madrid CF di Estadio da Luz di Lisbon pada 28 Januari 2026.(AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)
12:08
29 Januari 2026

Pertunjukan Mourinho, Kutukan Madrid dan Drama Si Kulit Bundar

ESTADIO da Luz, Lisbon, Portugal, 28 Januari 2026 waktu Eropa. Siapa yang tak percaya mimpi, sebaiknya tak pergi ke stadion itu.

Namun, fans Benfica bukan model manusia jenis itu. Begitu pula Jose Mourinho serta Nicolas Otamendi dan kawan-kawan.

Klub ini melawan kemustahilan saat harus berduel dengan Real Madrid di laga kedelapan fase awal Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026.

Benfica berada di zona merah, agak jauh dari peringkat 24: slot terakhir masuk play-off. Bermodal 6 poin dengan selisih gol minus 4, Benfica wajib menang di laga terhadap kontra Madrid.

Yang dilawan adalah "gajah", sang Raja Eropa Real Madrid yang datang dengan status peringkat 3 dan menghimpun 15 poin serta selisih gol plus 11. El Real hanya butuh satu poin untuk mengunci peringkat 8 dan lolos langsung ke 16 besar.

Inilah sepak bola, dramanya cuma berjarak satu inchi dari hidup. Sebelum kiper Benfica, Anatoliy Trubin, melesakkan gol keempat di menit 90+8, klub asal Portugal ini masih tercecer di peringkat 25. Kalah selisih gol dengan Marseille yang ditekuk oleh Club Brugge, 3-0.

Skor 3-2 tak menolong. Namun, kisah dongeng menclok di stadion Estadio da Luz. Di babak tambahan waktu, Fredrik Aursnes mengambil tendangan bebas dan melayangkan bola ke kotak penalti Madrid.

Trubin yang berada di tengah kerumunan lebih cepat menyundul bola ke gawang Thibaut Courtois. Gol tercipta. Stadion pecah dan gemuruh. Sang pelatih Jose Mourinho bersorak dengan gaya khas: Berlari dan memekik.

Skor akhir 4-2 mendongkrak Benfica ke urutan 24: Menghimpun 9 poin, hasil 3 kali menang, 5 kali kalah dan selisih gol minus 2 (10-12).

Real Madrid pun harus menyesal: Kalah di saat yang salah sehingga terlempar dari peringkat 8. Poin Los Blancos tetap 15 dan harus turun di peringkat 9.

Alhasil, suka atau tidak suka, Madrid mesti melakoni babak play-off--cerita berulang seperti musim lalu. Ini hasil yang tak dibayangkan manajemen Madrid yang keburu memecat Xabi Alonso dan menggantinya dengan Alvaro Arbeloa.

Melawan tim yang diasuh Mourinho, Arbeloa belum satu level. Bahkan saking tak terkelola, dua pemain Madrid diganjar kartu merah di tambahan waktu saat meladeni Benfica.

Mungkin basa-basi atau tulus, di konferensi pers sebelum duel Benfica versus Madrid, Mourinho berujar, "Saya ingin Real Madrid tampil bagus bersama Alvaro. Kecuali besok (melawan Benfica)."

Saat ini Benfica mungkin hanya klub kelas dua atau tiga di daratan Eropa. Namun, ia memiliki Mourinho, pelatih kenyang pengalaman yang tak cuma piawai berbicara di depan pers, tapi menyeduh DNA Liga Champions dengan tandas.

Mourinho adalah pelatih yang mengoleksi dua trofi UCL bareng Porto dan Inter Milan. Trofi terakhirnya didulang setelah menang atas Barcelona (kala itu ditukangi Pep Guardiola) dan Bayern Munchen musim 2009/2010.

Boleh dikata kemenangan Benfica atas Madrid adalah yang paling dramatis di laga terakhir fase awal UCL musim ini. Mungkin DNA Liga Champions itu yang membedakan Mourinho dengan Antonio Conte. Mourinho riang, Conte kecewa.

Menjamu Chelsea di stadion Diego Armando Maradona, Napoli unggul 2-1 hingga menit 60. Namun, skor itu tak bertahan. Di menit 61, striker berpaspor Brasil milik Chelsea, Joao Pedro menyamakan skor menjadi 2-2.

Seri sama dengan wassalam. Conte pun tertunduk. Bayang-bayang kegagalan tampak di wajahnya yang keruh.

Sebelas menit kemudian, Joao Pedro menambah pilu Napoli lewat gol yang menyudahi perlawanan Scott Mctominay dkk. Napoli tumbang 2-3 dan mimpi klub asal Naples, Italia itu menggapai play-off sirna.

Sebaliknya Chelsea, barisan klub penghimpun 13 poin hingga laga ketujuh, merangkak naik di papan klasemen. Ia naik lebih tinggi, dari peringkat 8 ke peringkat 6.

The Blues bersama tujuh klub lain yang masuk peringkat 1-8 bisa duduk manis menunggu lawan di babak 16 besar.

Sementara klub peringkat 9-24 mesti berebut 8 tiket tersisa dalam dua leg play-off (kandang dan tandang).

Juara bertahan, Paris Saint-Germain bertemu malam yang nyaris sepahit Madrid. Harus menang, PSG tak mampu menjungkalkan Newcastle United di Parc des Princes Paris.

Skor 1-1 bikin PSG bertemu situasi musim lalu: Mengarungi play-off. Ini sama dengan menambah koleksi pertandingan yang sudah padat denfan jadwal di kompetisi domestik.

Begitu pula dengan Newcastle, klub ini menjadi satu-satunya wakil Inggris yang harus bertaruh di play-off.

Lima klub lain dari tanah Inggris, yakni Arsenal, Liverpool, Tottenham Hotspur, Chelsea dan Manchestef City telah menunggu lawan di 16 besar.

Inilah dominasi Inggris di bumi Eropa. Bayangkan 5/8 atau 62,5 persen pemegang tiket langsung 16 besar UCL berada dalam dekapan klub-klub Inggris.

Manchester City keluar dari trauma play-off musim lalu setelah menekuk Galatasaray 2-0 di Stadion Etihad.

Pep Guardiola wajib berterima kasih pada Erling Haaland dan Rayan Cerki yang mempersembahkan kemenangan untuk The Citizens.

Dua gol itu membuat tim buru langit itu tak lagi bertahan dengan 13 poin yang disebut Guardiola sebagai bencana. City meloncat dari peringkat 11 ke posisi 8---slot tiket langsung terakhir ke 16 besar.

Sementara nasib Galatasaray belum kiamat. Tetap dapat mencoba hoki ke babak play-off.

Kisah agak mengejutkan ditorehkan Sporting CP yang bersinar di dua laga terakhir. Setelah menumbangkan PSG di laga ketujuh, Sporting menang di kandang Athletic Bilbao dengan skor 3-2.

Sporting menjaga martabat sepak bola Portugal dengan duduk di peringkat 7 dan berhak atas tiket langsung 16 besar.

Barcelona seperti diduga menang gampang 4-1 atas Copenhagen. Barca bertakhta di peringkat 5 dan lolos langsung ke 16 besar.

Nasib apes dialami Atalanta. Seperti PSG dan Newcastle, klub yang pernah merontokkan Chelsea ini harus mengarungi play-off. Atalanta keok 0-1 dari Union Saint-Gilloise dan terpaku dengan poin 13 usai laga penentuan di Anderlecht, Belgia.

Atletico Madrid juga terduduk lesu di hari penentuan. Ia disikat Bodo/Glimt 1-2 di kandang sendiri.

Kisah "setengah dongeng" klub asal Norwegia ini berlanjut. Tidak main-main menumbangkan City dan lalu Atletico di dua laga terakhir bukan hal gampang. Bodo/Glimt yang tidak "bodo" melempar klub dari kota Madrid yang punya pertahanan bagus itu ke babak play-off.

Berkat kemenangan tadi, Bodo/Glimt terbang tinggi. Berpindah dari zona merah ke peringkat 23. Satu tiket ke play-off pun digenggamnya.

Melihat tren mainnya, klub yang bertemu Bodo/Glimt di play-off mesti berhati-hati. Bisa jadi klub ini akan melanjutkan sensasinya, menjadi kerikiil tajam yang menumbangkan klub berpengalaman dan matang di ajang Liga Champions Eropa.

Ada 16 klub penghuni peringkat 9-24. Mereka adalah Real Madrid, Inter Milan, PSG, Newcastle United, Juventus, Atletico Madrid, Atalanta, Bayer Leverkusen, Borussia Dortmund, Olympiakos, Club Brugge, Galatasaray, Monaco, Qarabag, Bodo/Glimt, Benfica.

Tak perlu heran menyaksikan finalis musim lalu, PSG dan Inter Milan, terlempar ke babak play-off. Itulah drama sepak bola, drama si kulit bundar yang kerap bikin petaruh (baca: penjudi) garuk-garuk kepala.

Pemilik peringkat 9-16, yakni Madrid, PSG, Newcastle, Juventus, Atletico, Atalanta dan Leverkusen akan menjadi unggulan.

Sanggupkah klub unggulan menjungkalkan nonunggulan (peringkat 17-24)? Atau Benfica, Bodo/Glimt, Qarabag hingga Club Brugge yang bakal mengaum di play-off?

Ingat klub yang lolos dari lubang jarum seperti Benfica terkadang punya energi tidak terduga untuk melanjutkan kiprah sebagai kuda hitam. Jose Mourinho dulu punya reputasi sebagai "the special one" tak boleh dipandang sebelah mata.

Bodo/Glimt juga wajib dihitung. Pelatih macam Guardiola saja mengakui perkembangan pesat klub asal Norwegia ini.

Babak play-off di musim lalu pernah mempertemukan Madrid versus City. Para pecandu bola menjuluki sebagai laga yang mendahului harapan.

Sesuai format UEFA, tim peringkat 9 dan 10 akan berhadapan dengan peringkat 23 dan 24. Dengan begitu, Real Madrid dan Inter Milan dapat berjumpa Bodo/Glimt atau Benfica di babak play-off. Ini layak ditunggu karena seperti partai "David versus Goliath".

Dalam sepak bola, sering kali si kuat dan berpengalaman menjungkalkan yang lemah dan debutan. Namun, sepak bola juga sering berjumpa dengan kisah heroik dan nyaris mustahil dari si lemah serta ingusan membonsai klub mapan.

Patut ditunggu ke mana cerita play-off berujung. Berujung klise dengan klub besar dan mapan menunjukkan superioritas? Atau ada sepotong kisah di luar plot umum merampas perhatian?

Tag:  #pertunjukan #mourinho #kutukan #madrid #drama #kulit #bundar

KOMENTAR